WALAUPUN tidak ada satu orang manusia pun di dunia ini yang mirip seutuhnya, sekalipun kembar, namun ada beberapa orang yang wajahnya mirip dengan orang lain, baik di zaman yang sama ataupun di zaman berbeda, baik dari bangsa yang sama ataupun dari bangsa berbeda.
Kali ini kita tilik seorang laki-laki Aceh yang bernama Aiyub bin Ibrahim, yang disebut memiliki wajah yang agak mirip dengan wajah Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, seorang pempimpin paling berpengaruh dan terkenal di zaman ini.
Salah seorang anak dari Aiyub bin Ibrahim, bernama Moehib Aifa, mengaku mengidolakan Presiden Erdogan karena laki-laki paling berpengaruh di dunia saat ini tersebut merupakan sosok yang peduli terhadap kebangkitan Islam.
Setelah Sultan Hamit dikudeta, negara Turki berubah menjadi negara yang anti Islam, akibat ulah presiden Mustafa Kemal Pasha. Erdogan menyelamatkan Turki. Erdogan berani menentang PM Israel atas pembunuhan anak-anak Palestina, kata Moehib.
Sekira tahun 2014, ia mencari tahu tentang Erdogan.
Sontak hati saya terkejut, Presiden Erdogan sangat mirip dengan Abah saya, paras wajahnya, mungkinkah ada cerita masa silam Turki di pase karena pada kebiasan kemiripan itu akan terjadi pada satu lingkungan yang dekat, tapi mengapa bisa terjadi, apakah mungkin moyang saya dari Turki? Karena Turki dan Aceh sangat jauh, dipisahkan oleh beberapa lautan dan di ujung benua, kenang Moehib.
Laki-laki yang disebutkan memiliki wajah yang agak mirip dengan Presiden Erdogan itu ialah seorang pensiunan PNS ini terlahir pada tanggal 31 Desember 1954. Sementara Erdogan lahir pada 26 Februari 1954, berarti terlahir di tahun yang sama.
Lelaki yang merupakan suami dari Faridah Ali ini, mengawali karirnya sebagai guru bakti di MIN Paya Bakong Kab. Aceh Utara setelah tamat PGA tahun 1975, Tahun 1977 s/d 1987 Aiyub muda kala itu juga menjadi anggota security di Mobil Oil Arun Field sekarang dikenal dengan nama perusahan Exxon Mobil.
Pria yang berperwakan timur tengah ini pernah mengikuti latihan security di Mega Mendung Bogor selama 54 hari sebagai latihan tambahan untuk pengamanan proyek vital Exxon Mobil. Namun pada tahun 1986 menjadi PNS di SD Gampong Tempel Lhoksukon Aceh Utara, dan mengakiri karirnya sebagai PNS di SMP N 1 Paya Bakong dengan masa bakti selama 25 tahun dan mendapatkan penghargaan Satya Lencana dari Presiden SBY pada tahun 2011.
Di samping itu pria yang akrap disapa dengan sebutan abah di lingkungan tempat tinggalnya juga pernah menjadi Imum Gampong dari tahun 2000 sampai 2007.
Aiyub, S.Ag yang dikenal sebagai sosok yang dikenal relegius ini pada malam hari mengabdikan dirinya sebagai guru mengaji di TPA-Nurul Fata sejak tahun 1992 sampai sekarang. Balai pengajian sederhana itu ia dirikan di sampinng rumah kediamannya di Gampong Blang Dalam, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara.

Berbagai kegiatan dikerjakannya dalam rangka mengisi masa-masa pensiun, menjadi Ketua Komitte Sekolah SMP N.1. Paya Bakong (2012 sampai sekarang), Ketua Dewan Kesenian Kecamatan (2003 sampai sekarang).
Abah orangnya sangat disiplin dan berkarakter semi meliter, beliau sangat taat beribadah, pekerja keras, sebelum ke tempat kerja usai subuh beliau telah memulai aktivitas di sawah, hingga jam tujuh lewat 15 wib. Kami sangat merasa nyaman mempunyai seorang Abah yang sangat bersahaja dan selalu mengaitkan sesuatu dengan urusan Agama, agar tidak salah jalan nantinya, kata Moehib Aifa, anak kedua Aiyub.
Ia mengaku, meskipun hidup dengan penuh kesederhanaaan keluarga mereka tetap bahagia, mereka mempunyai 6 bersaudara, 3 laki-laki dan 3 perempuan, dengan tangan dingin dan kerja keras Abah, mereka semua dapat menyenyam pendidikan hingga Strata Satu (S-I), kini tinggal si bunggsu yang baru duduk di bangku SMP.
Satu hal yang masih segar dalam ingatan saya ketika itu, saat saya akan kuliah di Banda Aceh, Abah berpesan, Nak, saat kamu di Banda nanti, jadilah pribadi yang baik dan taat beribadah, jika kamu dipenjara karena kriminal, abah tidak akan menjengukmu di penjara, tapi jika kamu dipenjara karena, masalah idiologis, aktivis, dan tahanan politik, itu anak saya, dan dengan senang hati saya akan menjenguk akmu di penajara, kata Moehib, meniru ucapan ayahnya.
Moehib Aifa mengatakan, Abahnya memang figur yang luar biasa bagi mereka, tidak pernah terjerat kasus apapun di tempatnya bekerja, hingga pensiun Abah tetap menjadi pribadi yang baik di mata teman-teman sekerjanya.
Aiyub bin Ibrahim bin Sulaiman bin Muda Intan berasal dari Gampong Munje, Blang Jruen, Kecamatan Tanah luas, Aceh Utara, sekitar beberapa kilometer dari pusat Kesultanan Samudara Pasai.
Keturunan ini berperawakan Timur Tengah dengan kulit putih rambut ikal, bola mata cokelat, hidung mancung. Hal ini membuat keluarga tersebut memperkirakan bahwa bunyut mereka berasal dari Timur Tengah (wallahualam). Ibu Aiyub adalah bernama Aminah.
Aiyub suka bermain Rapai Pase dan Rapai Uroh. Makanan kesukaannya timphan, kuah pliek, kuah asam keu eung, kuah tuhee, dan sebagainya. Tinggi badan Aiyub ialah 165 cm, Aiyub muda berbadan atletis dan pernah menjadi anggota Paskibra pada tahun 1974 dan 1975 di kota Lhokseumawe.
Selain itu Anak keempat dari Aiyub bernama Mahmuddin Aifa, ia memiliki tinggi badan 170 cm, hidung mancung, kulit putih, bermata cokelat dan berambut pirang, sepertinya ia mewarisi gen dari pendahulu kakek bunyutnya, ini semakin memperkuat dugaan bahwa ada nasab yang berhubungan dengan orang Timur Tengah pada keluarga ini, (Lihat akun Facebook Mahmuddin Aifa).
Aiyub muda setelah menikah dengan Faridah juga sangat romantis, salah satunya bisa terlihat dengan menggabungkan Nama Aiyub dan Faridah menjadi AIFA barang kali tidak berlebihan jika kita sebut ia sebagai pencinta sejati, karena hingga saat ini Aiyub mampu mempertahankan biduk rumah tangganya hanya dengan satu wanita yang ia cintai, yaitu Faridah.
Dari buah cinta merika Lahirlah penerus sejarah bagi mereka yaitu: Fakhriadi, Moehib Aifa, Khairunnisa, Mahmuddin, Khairul Husna, dan Khairina. Semua nama diambil dari bahasa Arab.[]







