BANDA ACEH – Warga Pengadilan Tinggi Banda Aceh merayakan hari raya Iduladha 1443 H dengan membagikan 240 paket daging kurban kepada kaum duafa. Selain itu, ada pula acara masak dan makan bersama dengan menu utama kuwah beulangöng, Selasa, 12 Juli 2022.

Kuwah beulangöng atau sering disebut gulèe sie kamèng, adalah masakan khas Aceh, utamanya Aceh Besar. Kuliner ini sejenis gulai yang berbahan baku utama daging kambing atau sapi yang ditambahi nangka muda.

Setelah diaduk dengan aneka ragam bumbu rempah-rempah, termasuk cabai, bawang, serei, dan lain-lain, lalu dimasak dalam belanga besar (beulangong) dengan menggunakan kayu.

“Cara memasaknya cukup sederhana. Meskipun bahan yang digunakan tampak banyak. Tetapi tak memerlukan keahlian khusus untuk memasak kuwah ini. Jika bumbu sudah diaduk, silakan semua kita berpartisipasi untuk memasaknya dengan menggunakan alat pengaduk ini,” ujar Ridwan, Panitera Muda Perdata pada Pengadilan Tinggi Banda Aceh, yang dipercayakan menjadi chef kuwah beulangöng.

Dalam memasak dan mengaduk-aduk kuwah beulangong turut terlibat beberapa Hakim Tinggi. “Kalau sudah diaduk seperti ini, saya juga bisa memasaknya, he… he… he…,” canda Sifa Urrosidin, Hakim Tinggi PT Banda Aceh yang berasal dari Jawa Timur.

Tak mau ketinggalan kesempatan, Haji Makaroda, Hakim Tinggi yang juga putra NTB, ikut membantu memasak kuwah beulangong bersama Taqwaddin, Hakim Tinggi Ad Hoc Tipikor.

Para Hakim Tinggi, Panitera, dan Pegawai Sekretariat PT Banda Aceh membaur bersama tanpa jarak dalam memasak kuwah beulangong. “Semua gembira dan bahagian dengan kebersamaan seperti ini,” ucap Ainal Mardhiah, Hakim Tinggi yang juga mantan Ketua Pengadilan Negeri Banda Aceh.

Santap bersama ini dihadiri Ketua dan Wakil Ketua PT, para Hakim Tinggi, Panitera, PNS, dan honorer. Hadir pula ibu-ibu Dharmayukti Karini, dokter, dan petugas kesehatan pada PT Banda Aceh.

“Tradisi seperti ini bagus dikembangkan untuk membina kekompakan dan semangat kebersamaan,” kata Dr. Gusrizal, Ketua Pengadilan Tinggi (KPT) Banda Aceh.

Bagi Gusrizal yang bukan orang Aceh, kuwah beulangong bukan hanya sebagai simbol makanan enak yang mengenyangkan, tetapi lebih dari itu, masakan ini bisa menjadi simbol kekompakan kita.

“Dan, semangat kekompakan perlu kita optimalkan agar semangat kerja juga ikut meningkat, sehingga kita bisa memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujar Gusrizal didampingi Nursyam, Wakil Ketua PT Banda Aceh.[](ril)