ACEH TIMUR – Ramai anak-anak mengikuti program Daurah Ramadan di Masjid Ba’alawi, Desa Pucuk Alue Dua, Kecamatan Simpang Ulim, Kabupaten Aceh Timur.

Pantauan saya pada Rabu, 12 Maret 2025, sekitar pukul 09.30 WIB, banyak anak-anak sedang mengaji Alquran di dalam Masjid Ba’alawi itu.

Ada juga anak-anak belajar membaca Alquran di balai dalam kompleks masjid itu. Balai tersebut merupakan tempat istirahat sementara bagi pengunjung yang datang dari berbagai daerah. Di bulan Ramadan, balai itu juga digunakan untuk program daurah.

Selain belajar membaca Alquran, ada juga anak-anak atau santri yang menyetor hafalan kepada gurunya agar bisa melanjutkan dengan ayat selanjutnya. Mereka terlihat sangat yakin menghafal ayat-ayat suci.

Salah seorang santri yang sedang menghafal Alquran bernama Cut. Dalam program Daurah Ramadan di masjid itu, ia mengikuti cabang tahfidz (menghafal Alquran).

Cut mengaku sangat senang mengikuti program Daurah Ramadan. “Apalagi mendapatkan pahala yang berlimpat ganda dalam bulan Ramadan kalau kita berbuat yang baik-baik,” tuturnya.

“Dan jumpa dengan kawan-kawan baru dari desa dan kecamatan lain,” tambah Cut.

Para orang tua atau wali dari santri itupun sangat antusias dengan adanya program Daurah Ramadan tersebut.

“Anak saya sudah tiga kali ini mengikuti program tahfidz di Masjid Ba’alawi, karena memang permintaan sendiri dia. Tempat belajar dipisahkan antara anak cewek dan cowok sehingga dalam proses belajar sangat nyaman,” kata Ratna, ibu dari santri Tasya, asal Kecamatan Pante Bidari.

“Dengan ada daurah ini, anak-anak yang berada di sekitar Masjid Ba’alawi sibuk membaca Alquran. Kalau di rumah pasti sibuk dengan HP (handphone), apalagi zaman sekarang dikit -dikit HP,” ujar Asrina, ibu dari Adel, warga Gampong Baroe, Kecamatan Simpang Ulim, Aceh Timur, dihubungi via Whatsapp.

Salah seorang guru pembimbing cabang Iqra’, Syarifah Salmiah, mengatakan santri yang mengikuti program Daurah Ramadan itu bukan hanya dari Kecamatan Simpang Ulim, ada juga dari beberapa kecamatan lain di Aceh Timur. “Kegiatan ini sudah beberapa kali dilaksanakan setiap bulan Ramadan,” ujarnya.

Informasi pada brosur yang saya peroleh dari Syarifah Chairani, ketua panitia penyelenggara kegiatan tersebut, program unggulan Daurah Ramadan tahun ini di Masjid Ba’alawi adalah tahfidz, tahsin, fardhu ain, doa harian, dan ziarah makam Habib Muhammad Bin Ahmat Al’Athas, pendiri masjid tersebut.

Kegiatan tersebut terbuka untuk umum atau semua kalangan masyarakat di sekitar Masjid Ba’alawi.

Peserta program Daurah Ramadan itu dengan infak setiap ikhwan (saudara laki-laki) dan akhwat (saudara perempuan) yang mengikuti cabang tahfidz Rp250 ribu, sedangkan cabang Iqra’ Rp150 ribu.

Kegiatan cabang tahfidz dimulai pukul 09.00 sampai 16.00 WIB, peserta pulang setelah shalat Ashar berjamaah. Cabang Iqra’, mulai pukul 09.00 sampai 12.00 WIB.

Bagi santri penghafal terbaik dan terbanyak, diberikan piagam penghargaan.

Tentang Masjid Ba’alawi

[Foto: Lisnawati]

Masjid Ba’alawi di Pucok Alue itu diresmikan oleh ulama kharismatik Aceh Al Habib Muhammad Bin Ahmat Al’Athas pada Ahad, 4 Jumadil akhir 1442 H atau 17 Januari 2021. Masjid tersebut merupakan masjid kelima di dunia bernama Ba’alawi, yang pembangunannya diprakarsai oleh Habib Muhammad Bin Ahmat Al’Athas.

Habib Muhammad meninggal dunia pada Senin, 18 Januari 2021, dinihari, di kediamannya, Desa Pucok (Pucuk) Alue Dua, Kecamatan Simpang Ulim, sehari setelah meresmikan Masjid Ba’alawi.

Melansir aceh.kemenag.go.id, nama Masjid Ba’alawi diambil dari nama Baklawi, Tarim Yaman. Masjid kebanggaan Aceh Timur dan masyarakat Aceh ini sering dikunjungi oleh para ulama dan habib, baik dari dalam negeri maupun Yaman.

Letak masjid itu di tengah sawah yang dikelilingi tanaman padi. Arsitektur, perpaduan cat warna hijau dan putih serta goresan kaligrafi di dalam masjid membuat jamaah lebih tenang saat beriktikaf.

Di arah sudut utara masjid itu terdapat sebuah bangunan berkubah hijau yang merupakan makam Almarhum Habib Muhammad bin Ahmat Al’Athas, pendiri masjid tersebut. Makam tersebut sering dikunjung oleh penziarah.[]

Laporan: Lisnawati, peserta Kelas Basri Daham Journalism Institute (BJI) Lhokseumawe