Resensi Sehimpun Puisi: “Sebatang Pena di Meja Penyair”

Judul                : Sebatang Pena di Meja Penyair                             

Penulis             : Mahdi Idirs

Cetakan           : I, 2018

Penerbit           : Yayasan Pintar, Jakarta Utara

Tebal                : v + 83; 14 x 20

ISBN               : 978-602-14253-2-9

Aku, siapa saja–tidak hanya penyair–memiliki konflik kebatinan menghadapi permasalahan hidup yang mengambang di antara kenangan dan cita dambaan. Lantas, bagaimana menghadapinya? 

Mahdi Idris menjawab melalui sehimpun puisinya berjudul “Sebatang Pena di Meja Penyair”. Dia berhasil mengungkap kesan secara tuntas dan utuh atas ‘aku’ sebagai ‘siapa saja’ dengan diksi yang kuat, menarik dan renyah.

Membuka, ia tidak menghidang duka dengan sesal hati yang sesak dan sempit, tapi memotivasi pembaca untuk memiliki kebesaran jiwa dan kelapangan hati sebagaimana tersirat dalam puisi berjudul “Dalam Diriku,” 

Kau akan menemukan dalam diriku sepasang lebar. Siap menampung hujan pertama pada musim kemarau. Atau hawa panas dari gurun, atau dari yang entah.”

Sesuai tajuk sehimpun puisinya, Mahdi Idris juga mengajak pembaca untuk sama-sama mengungkap kesan tentang ‘pena’ yang berkekuatan mendurhakai si pemiliknya dengan judul “Kutukan Pena,” dan bahkan mampu membuat ciut  penguasa sehebat Qin dalam “Qin, Puisi, dan Keabadian”.

“Samudera Pasai” dan “Mantra tanah gersang” pula seolah terkait sebagai sebab akibat. Nihilnya penghormatan pada sejarah dan kosongnya keteladanan seperti kebijaksanaan dan keadilan para Sultan terdahulu, seolah menjadi faktor utama celaka-papanya kehidupan penduduk, Aku berdiri di bukit debu, ketika kau pergi mencari cuaca. Matahari rebah di tanah, meronta ikan-ikan payau. Wajahku disapu debu jalanan. Sawah retak, mendung tak meninggalkan jejak di langit.

Sejak awal sehimpun puisi ini kita diajak mendaki satu persatu bukit persoalan, di mana di ceruknya terdapat kubang kotoran. Di tengahnya terdapat sungai bening dengan sepapan titian nasihat berjudul “Musafir,” “Labirin,” dan “Iman” agar hidup selamat. Dan di bagian akhir, Mahdi Idris menunjukkan sikap yang tak mudah patah arang sebagai putra Aceh melalui puisi berjudul “Malem Diwa,” 

Kau akan melihat penghikayat membacakan kisahku bersamamu sampai ke rimba gelap, di mana aku larut dalam pertapaan dan perjalanan menyusuri puncak tertinggi gunung barisan.

Bagian akhir ini menarik perhatian penulis, tersirat upaya menyusuri jalan setapak ke gua pertapaan yang berada di puncak tertinggi. Sesama berlatar Pesantren (Penulis, Mahdi Idris dan Gus Mus), tidak berlebihan bila penulis resensi mengandaikan bahwa 'aku' adalah Mahdi Idris dan A. Mustofa Bisri (Gus Mus) sebagai 'puncak tertinggi' bagi penyair dari kalangan pesantren. 

Karena sehimpun puisi ini adalah karya fiksi yang kesepuluh telah terbit dari Mahdi Idris dan beberapa kali mendapat juara pada lomba menulis tingkat nasional, maka sudah pada tempatnyalah bila satirenya Mahdi Idris diperbandingkan dengan tingkat satirenya Gus Mus. 

Apakah ungkapan menuju puncak adalah maksud merendah diri (tawadhuk) Mahdi Idris ataukah memang dia tengah berjuang menuju puncak yang tinggi itu?

Ungkapan kritisi (satire) Mahdi Idris dengan diksi yang menonjol salah satunya terdapat di “Persekutuan”, “Keduanya selalu bersekutu menjadi biadab, memaki Tuhan. Lantas memaki dirinya. Memaki yang lain. Makian-makian menjadi simbol kehormatan dan marwah yang senantiasa bawa berkah sebelum mati.

Mahdi Idris tampak kurang berani memperjelas keduanya itu, siapa?  Beda halnya Gus Mus yang benderang mengkritisi budaya korup di Indonesia berjudul “Di Negeri Amplop”.

Akan tetapi, bila kita memerhatikan “Sumpah Bulan Desember,” “Para perempuan dan bayi lebih tahu nama-nama yang tercoreng merah, tergantung di atas pepohonan. Tak ada ruang untuk kesedihan dan ketakutan sejak Desember itu,” Mahdi Idris mendekati puncak. Dia juga berani mengkritisi sikap politis pemerintahan soal informasi dan data korban konflik. Perempuan dan bayi lebih tahu!

Maka menjadi harapan yang realistis dari penulis agar Mahdi Idris dapat bersanding sepanggung dengan Gus Mus sembari mendapat “ijazah” (restu) sebagai salah satu penerus dari pesantren yang akan mengawal kebaikan dan kebenaran di Indonesia dengan puisi.[]

Penulis: Andi Saputra (Kepala KUA Kec. Nibong)