Kuthidieng adalah lagu lama yang diproduksi Kasga Record, musiknya diaransmen oleh Mahrizal Rubi, dinyanyikan oleh Liza Aulia, video klip dibuat Teuku Abdul Malik, dan produsernya Syekh Ghazali LKB. Lagu Kuthidieng inilah yang melambungkan nama Liza Aulia dan menjadikannya sebagai mega bintang di Aceh.

Sebagian orang menganggap lagu itu mengandung nilai agama (spiritual) atau bahkan mistik karena ada kalimat ‘rimueng aulia’ di dalamnya, diperkuat dengan klip video orang-orang bersurban ala ulama.

Namun, tahukah kita, dari manakah asal muasal kalimat itu? Sebelum kita bicara kalimat, mari menelaah rasa dan warna lagu ini. Lagu ini gabungan antara rasa seudati dan rateb meuseukat. Seudati adalah seni yang berkembang di pantai Utara dan Timur Aceh, dimainkan khusus oleh laki-laki, seraya berdiri dan berlari. Sementara rateb meuseukat berkembang di pantai Barat Selatan Aceh, dimainkan khusus oleh perempuan sambil duduk sehingga disebut juga ‘seudati inong’.

Judul lagu ini “Kuthidieng” merunut kalimat dalam seudati, dan isinya “iding-iding” merunut kalimat dalam rateb meuseukat. Berbeda dengan judulnya, di dalam lagu itu syairnya berubah menjadi rasa rateb meuseukat. Dari kuthidhieng khas seudati menjadi iding-iding khas rateb meuseukat.

Mari kita simak syair (lirik) dasar yang kemudian diambil dan dikembangkan untuk lagu itu. Menurut sebuah sumber, kalimat asli dari lagu ini adalah:

“Iding-iding ala hai di (ji) mbet (beu-et),
pu han tatakot digata-gata,
aneuk rimueng bueh di Ranto Barat
nyang bulee jagat rimueng aulia.

Itu adalah syair senda gurau orang-orang di pasar Blang Pidie dan sekitarnya, untuk menakut-nakuti orang-orang—terutama perempuan– yang berbelanja ke pasar.

Di bukit Ranto Barat ada harimau—memang benar sampai kini masih banyak—namun jangan takut kalau berjumpa dengan harimau berbulu jagat, itu harimau milik aulia, tidak akan mengganggu orang.

Nah, adakah mistik atau nilai agama di sana? Itu hiburan semata. Dan tidak pernah seorang pun yang pernah bertemu dengan harimau berbulu jagat (kuning), semua harimau berwarna belang-belang khas.

Sekarang, mari bicara tentang nilai seni dan karakter lagu ini. Penyanyian ini adalah sebuah karya seni.

Lagu Kuthiding ini berhasil menjadi sebuah lagu yang menggabungkan rasa khas Aceh dalam irama dan olah suara (vocal) dengan diiringi alat modern, dipermanis dengan rapai. Ini adalah lagu berirama rock yang mencerminkan irama asli orang Aceh adalah rock, dan penyanyiya Liza Aulia adalah seorang rocker.

Uniknya, lagu ini berirama rock, musiknya berhasil digabungkan antara rock dan dendang. Ini berbeda jauh dengan penyanyi Ramlan Yahya, yang menyebut lagunya adalah slow rock, tapi sebenarnya berirama dangdut yang hanya musiknya diaransemen seperti rock slow.

Liza Aulia lebih berhasil menyanyikan lagu berirama rock atau pop hasil gubahan atau modifikasi orang daripada menyanyikan lagu karangannya sendiri yang berirama dendang. Ia berhasil membawa diri ke dalam lagu yang pada awalnya tidak atau hampir tidak sesuai dengan jiwanya. Ini adalah bakat menyesuaikan diri yang luar biasa. Tepatnya, pelatihnyalah—orang di balik layar– yang luar biasa.

Sementara Rafly, berhasil menyanyikan dengan baik lagu gubahan atau hasil modifikasi orang dan berhasil pula berhasil menyanyikan lagu karangannya sendiri. Itu luar biasa. Saya menyukai lagu Rafly, tapi setelah ia berurusan dengan ALA-ABAS, saya tidak lagi memutar lagu-lagunya.

Bagaimana dengan lagu album kedua Liza Aulia, Rihon Meulambong? Itu lagu yang berhasil, dan masih dibayang-bayangi album Kuthidieng.

Syekh Ghazali adalah produser Liza Aulia, produser yang sama untuk Rafly. Saya menyukai lagu-lagu kedua penyanyi ini yang berhasil keluar dari lagu asal-asalan sebelumnya, yang disalin mentah-mentah dari lagu lain, diganti bahasa, dan dimasukkan ke dalam musik rakitan ala kadar.

Apakah kedua penyanyi ini –Liza Aulia dan Rafly—memiliki ciri khas masing-masing? Seniman tanpa ciri khas dalam karyanya, belum dapat disebut seniman. Ya, benar. Mereka berdua punya ciri khas, dan mereka adalah seniman.

Karakter rocker mega bintang Liza Aulia di dalam lagu Kuthidieng, sekiranya mampu dipertahankan ke dalam lagu-lagu yang dinyanyikannya setelah itu, ditambah dengan melatih olah vocal secara beresinambungan, niscaya akan menjadikannya seorang penyanyi bertelenta dengan kemampuan yang penuh.[]

Banda Aceh, 25 Mei 2016.

Thayeb Loh Angen, penulis novel Aceh 2025, Sekolah Hamzah Fansuri.