Kamis, Juli 25, 2024

Cari HP di Bawah...

Mencari HP dengan harga terjangkau namun tetap memiliki performa yang handal memang bisa...

Siswa Diduga Keracunan Selepas...

SIGLI - Jumlah siswa yang dirawat akibat dugaan keracunan setelah konsumsi nasi gurih...

Spanduk Dukungan Bustami Maju...

LHOKSEUMAWE - Sejumlah spanduk berisi dukungan kepada Bustami Hamzah untuk mencalonkan diri sebagai...

Yayasan Geutanyoe Rayakan Hari...

LHOKSEUMAWE - Yayasan Geutanyoe merayakan Hari Anak Nasional tahun 2024 bersama 227 anak...
BerandaOpiniMenulislah dengan Hati...

Menulislah dengan Hati Nurani

Oleh: Moehib Aifa*

“Jika kamu bukan Anak raja atau engkau bukan anak ulama besar, maka menulislah.” (Imam Al-Ghazali).

Nasehat Imam Al-Ghazali tersebut meskipun singkat, sarat dengan makna. Beliau hidup beberapa abad lalu. Ketika itu, jangankan handphone, laptop maupun layanan internet, untuk menemukan kertas tulis saja, sangat susah. Barangkali penulis yang pernah hidup di zaman beliau mengandalkan bahan dari kulit kayu tertentu atau bahan lainnya yang sangat sederhana, namun semangat menulis bagi mereka begitu menggelora.

Mereka melahirkan karya-karya besar yang fenomenal, seperti kitab Ihya Ulum al-Din karangan Imam Al-Ghazali yang membahas tentang sufisme/tasawuf (menyucikan jiwa).

***

Menjadi penulis terkadang memang unik. Banyak penulis terkenal melahirkan karyanya yang penuh kontroversial. Sebagian orang menulis untuk uang. Ada juga yang menulis sekedar menyalurkan hobi. Bagi saya, menulis saat ini masih sekedar hobi. Walaupun tak munafik, saya terkadang juga berharap adanya pemasukan dari menulis.

***

Ketika menulis tentang sebuah narasi yang bersifat keilmuan, dari beberapa referensi yang saya baca, penulis tidak boleh berasumsi sesuai imajinasinya. Akan tetapi, dia benar-benar harus paham tentang keilmuan tersebut. Paling tidak, mengerti garis-garis pokok tentang ilmu tersebut, agar tidak menimbulkan gelombang protes dari pihak lain, organisasi profesi keilmuan yang kita tulis, atau masyarakat secara umum.

Beda dengan menulis sesuatu yang berbau fiksi. Penulis bisa dan bebas mengembangkan tulisannya dengan mencoba berimajinasi seluas-luasnya, agar tulisannya benar-benar terasa hidup.

Seorang penulis senior di Aceh mengatakan, “Menulis secara jujur tidak akan mujur”. Lebih jauh, dia menjelaskan, “Perlu polesan kata-kata dan atau sedikit mendramatisir, agar pembaca tidak bosan dengan apa yang kita tulis.”

Saya rasa ini juga sangat masuk akal, selama tidak mengubah makna dari tema yang kita tulis, serta tidak merugikan orang lain, baik dari segi nama baiknya maupun yang bersifat pembodohan publik.

Oleh sebab itu, menulis membutuhkan ketelitian dan kehati-hatian, agar tidak dikatakan sebagai penulis yang mendustai hatinya sendiri.

Sebagai contoh, apabila membuat tulisan yang bergenre motivasi atau nasehat agama, secara moral menuntut sikap yang harmoni. Artinya, ada kesesuaian antara tulisan dan perbuatan. Bukannya bertolak belakang dengan apa yang kita tulis. Tulisan yang bertetangan dengan moral bisa dikatakan juga mendustakan diri sendiri. Penulis dalam pada titik tertentu, dituntut menjadi rule model dengan apa yang dia tulis, agar dia menjadi lebih terhormat dalam pandangan publik.

Namun demikian, pembaca boleh memiliki cara pandang yang berbeda. Tulisan, sebagai sebuah karya, pada prinsipnya memberikan kita kebebasan berekspresi. Yang saya tuangkan di sini merupakan cara pandang saya sebagai individu, bukan sebuah teori.

Berdasarkan pengalaman dan juga melihat keberhasilan penulis-penulis dahulu, saya mencoba sedikit mengupas tentang dua kategori penulis, berdasarkan karakter kejujuran dalam tulisan mereka. Yakni, yang mendustai hatinya sendiri dan yang menulis dengan hati nurani dan kejujuran.

Jangan Mendustai Diri Sendiri dalam Menulis

Terkadang ada penulis yang membuat tulisannya secara obyektif. Tujuannya agar karyanya bisa diterima oleh pembaca. Dia menulis dengan jujur, dalam bentuk artikel, seperti perjalan wisata, tips kesehatan, berbagi ketrampilan dan ilmu pengetahuan, pahit manisnya perjuangan kehidupan, dan kiat-kiat sukses yang ditulis dalam bentuk buku motivasi.

Namun ada juga penulis dengan karyanya yang subyektif. Tujuannya untuk membuat cerita sensasi. Ini biasanya berupa artikel yang pokok pikiran utamanya dikembangkan dalam bentuk kasus-kasus yang bisa menyeret artis papan atas, para pejabat atau tokoh masyarakat. Dengan berita-berita yang mudah laku, misalnya kasus kurupsi, maupun kasus perselingkuhan, dab lain-lain.

Cerita sensasi kadangkala bertujuan untuk mendongkrak pepularitas seorang tokoh maupun artis, ada juga yang bertujuan untuk menjatuhkan lawan politik. Paket berita sensasi, biasanya sesuai pesanan dari orang yang berkepentingan terhadap hal tersebut. Bagi sebagian orang, mungkin bersedia untuk melakukan itu, demi sebuah kesepakatan nilai komersil di sana nantinya.

Kita hanya boleh mendustai diri sendiri untuk tulisan fiksi. Karya fiksi menuntut pengembagan karakter inspirasional, fiksional, imajiner, guna mendapatkan tokoh yang pas serta alur cerita yang sesuai dengan tema yang kita angkat. Atau, sedikit mendramatisir, agar cerita kita terkesan lebih hidup dan memiliki daya tarik tersendiri bagi pembaca.

Menulislah dengan Hati Nurani

Haji Oemar Said Tjokro Aminoto pernah berkata, “Jika kalian ingin menjadi pemimpin besar, menulislah seperti seorang wartawan dan berbicaralah seperti seorang orator ulung.” Nasehat itu diucapkan di hadapan Kusno (nama Soekarno muda), Kartosuwiryo, Alimin dan lainnya yang kala itu nge-kost di rumah pak Tjokro. Di kemudian hari mereka menjadi tokoh-tokoh yang mewarnai perpolitikan elit di negeri ini.

Nasehat tersebut berhasil menghipnotis mereka, terutama Soekarno muda. Dia bangun tengah malam dengan suara yang lantang. Dia berlatih berpidato, hingga menyebabkan kawan-kawan lainnya terbangun, dan menertawainya.

Sebagaimana kita ketahui, akhirnya Sokarno menjadi orator ulung, Presiden Indonesia pertama dan juga Proklamator. Beranjak dari nasehat tersebut Soekarno juga menulis beberapa buku. Buku-bukunya yang paling terkenal adalah, “Indonesia Menggugat, Di Bawah Bendera Revolusi, Mencapai Indonesia Merdeka dan Sarinah”.

Terlepas dari pro dan kontranya seorang Soekarno, ada sisi baik yang perlu kita teladani yaitu tentang bagaimana dia merespon dari setiap peristiwa penting dengan menulis. Sebagaimana dia menulis tentang, “Mencapai Indonesia Merdeka”. Tulisan itu dilatar-belakangi niat untuk membantah ucapan Profesor Veth yang mengatakan, “Bahwa Indonesia tidak akan pernah merdeka”.

Kemudian tentang buku yang berjudul “Sarinah”. Sebuah karya yang ditulis untuk mengenang pengasuh Soekarno. Di mana saat kecil beliau diasuh oleh perempuan yang bernama Sarinah, menceritakan dongeng untuk Soekarno, “Dari dia, saya mendapat banyak pelajaran mencintai orang kecil, dia sendiri pun orang kecil. Tetapi budinya selalu besar, moga-moga Tuhan membalas kebaikan Sarinah,” tulis Soekarno dalam bukunya tersebut.

Soekarno menulis dengan hati nuraninya. Melalui tulisan-tulisan, menjadikannya seorang pejuang sekaligus intelektual. Dia memang tidak memanggul senjata, namun gagasannya melalui tulisan menjadi senjata yang ampuh untuk melawan penajajahan.
Kesimpulan

Efek dari yang kita tulis, bisa efek positif dan juga negatif. Bergantung pada bagaimana kita memainkan pena kita. Dengan tulisan, kita bisa menjadi pribadi yang selemah-lemahnya iman dalam berbuat kebajikan. Sebaiknya, dengan tulisan, kita juga bisa menjadikan senjata dalam berjuang sebagaimana yang dilakukan oleh Soekarno.

Intinya, jangan jadikan tulisan kita untuk mendustai hati kita sendiri, hanya karena mengharapkan pundi-pundi Rupiah secara tidak terhormat.

Kedalaman kualitas karya kita barangkali tidak sekaliber Soekarno ataupun penulis Aceh yang kondang, Ali Hasymi, yang melahirkan begitu banyak karyanya, di mana sebagian besar karya beliau selalu menyentuh nilai-nilai relegius. Walaupun tak sehebat mereka, paling tidak, dengan menulis berdasarkan naluri dan kejujuran, kita akan bisa mendapatkan tempat di hati pembaca.

Banda Aceh, 31 Januari 2021.[]

*Perawat di Rumah Sakit Jiwa Aceh dan penggiat sosial. Berasal dari Paya Bakong Aceh Utara.

Baca Juga: Memilih Wakil Gubernur

Baca juga: