ACEH TIMUR – Tim Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia melakukan kegiatan screening Hepatitis-B terhadap pengungsi Rohingya di tempat penampungan sementara imigran itu di Seuneubok Rawang, Peureulak Timur, Aceh Timur, Selasa, 17 Desember 2024. Dalam kegiatan sebagai upaya menjaga kesehatan para imigran itu, MER-C bekerja sama dengan International Organization for Migration (IOM) dan Puskesmas Peureulak Timur.

Project Manager MER-C for Rohingya, Ira Hadiati, mengatakan screening ini dilakukan kepada 19 imigran Rohingya sebagai langkah pencegahan dini dalam mendeteksi penyakit Hepatitis-B. “Dengan kondisi kesehatan yang kerap menjadi tantangan di tempat penampungan, upaya ini menjadi penting untuk memastikan penanganan kesehatan yang tepat bagi para imigran,” ujar Ira dalam keterangan tertulis, Selasa malam.

Hasil pemeriksaan, kata Ira, menunjukkan satu dari 19 imigran dinyatakan positif Hepatitis-B. MER-C kemudian merekomendasikan kepada IOM agar pasien tersebut segera diisolasi dan mendapatkan perawatan medis di fasilitas kesehatan yang memadai. “Langkah ini dinilai krusial untuk mencegah penyebaran penyakit di tengah komunitas pengungsi yang berjumlah cukup besar”.

Ira menyebut saat ini jumlah imigran Rohingya yang berada di Aceh Timur mencapai 143 jiwa. Mereka datang dalam kondisi yang rentan, sehingga pengawasan kesehatan menjadi prioritas utama bagi organisasi kemanusiaan seperti MER-C. Selain pemeriksaan Hepatitis-B, MER-C juga mengadakan serangkaian layanan kesehatan dasar lainnya.

“Layanan tersebut meliputi pemeriksaan kehamilan bagi para ibu hamil dan pemeriksaan kesehatan umum untuk memastikan kondisi kesehatan para imigran tetap terjaga. Banyaknya ibu hamil di antara pengungsi Rohingya membuat pemenuhan kebutuhan gizi menjadi perhatian serius bagi MER-C dan mitranya,” tutur Ira.

Dalam kegiatan ini, lanjut Ira, kebutuhan nutrisi khusus bagi ibu hamil pun dibagikan agar mereka dan janin yang dikandung tetap sehat. Selain nutrisi, bantuan berupa kebutuhan pokok dan obat-obatan juga disediakan untuk memastikan kesejahteraan para pengungsi selama masa tinggal mereka di Aceh Timur.

Tim MER-C beserta satu perawat komunitas, satu bidan dan tiga tim logistik berkomitmen untuk memberikan layanan kesehatan terbaik, terutama bagi kelompok rentan seperti ibu hamil dan mereka yang berisiko terkena penyakit menular. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi risiko penyakit yang berpotensi menyebar di tengah keterbatasan fasilitas penampungan.

Kegiatan kolaborasi antara MER-C, IOM, dan Puskesmas ini menunjukkan pentingnya sinergi antara berbagai lembaga untuk memastikan kondisi kesehatan imigran Rohingya terjaga. Dengan demikian, langkah-langkah pencegahan dan penanganan dini dapat dilakukan secara efektif.

“Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran akan pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin di kalangan pengungsi semakin meningkat, sehingga potensi penyebaran penyakit menular dapat ditekan. Dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak diharapkan mampu meringankan beban para imigran yang membutuhkan perhatian dan perlindungan,” pungkas Ira Hadiati.[](ril)