ACEH UTARA — Terik matahari yang menyengat Lapangan Upacara Kantor Bupati Aceh Utara di Landing, Kecamatan Lhoksukon, sama sekali tak menyurutkan langkah warga. Sejak pagi hingga sore, sebuah magnet penarik perhatian berdiri di tengah kemeriahan Piasan Pase 2026: stan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) binaan PT Pupuk Iskandar Muda (PIM).

Di dalam stan tersebut, mata para pengunjung tampak sibuk menyusuri lembar demi lembar kain dan jalinan benang. Mereka terpikat oleh pesona produk kerajinan tangan lokal, terutama aneka tas yang dihiasi megahnya motif khas Aceh.

Perhelatan Piasan Pase yang digelar pada 7 hingga 13 September 2026 ini bukan sekadar pasar malam biasa. Acara ini menjadi panggung perayaan besar untuk memperingati Hari Jadi Samudra Pasai sekaligus Hari Jadi Kabupaten Aceh Utara yang diklaim ke-800 tahun.

Berdasarkan pantauan portalsatu.com pada Jumat (11/9/2026) sore, suasana di dalam stan justru semakin hangat dan padat saat hari merambat senja. Meski cuaca lumayan panas, pengunjung tetap berdatangan. Jari-jemari mereka dengan antusias memilah dan memilih tas, mencocokkan motif serta model yang paling memikat hati.

Dari ‘Putroena Souvenir’ hingga Kuliner Tradisional

[Pengunjung memilih aneka tas bermotif khas Aceh di stan UMKM binaan PT PIM selama gelaran Piasan Pase 2026, Jumat (11/9/2026). Produk tas ini berhasil meraup omzet jutaan rupiah per hari. Foto: Fazil/portalsatu]

Dari sekian banyak produk yang dipajang, produk berlabel ‘Putroena Souvenir‘ menjadi primadona yang paling mencuri perhatian. Berbagai jenis tas berjejer rapi menawarkan estetikanya masing-masing; mulai dari tas kerucut, tas kerucut motif bulat, tas pouch kecil hingga besar, tas sabet, tas keupula, tas dompet, hingga tas model dior dalam berbagai ukuran.

Stan ini layaknya etalase berjalan bagi kekayaan tanah serambi. Tak hanya tas, pengunjung juga dimanjakan dengan beragam produk makanan dan kebutuhan rumah tangga hasil keringat para pelaku UMKM lokal. Ada manisnya Bhoi dan Dodol Ulayya, gurihnya Sambal Asam Sunti, kehangatan Rempah Aceh dan Bubuk Kari U Neulhe, hingga Keumamah Ummi, Asam Sunti Kering, Keripik Kentang, Bawang Goreng, dan Rujak Jamboe yang menggugah selera. Tak ketinggalan, ada pula pajangan luxury mukena, bubuk kopi harum, hingga produk Pupuk Nitrea andalan PT PIM.

Di balik riuhnya transaksi, ada senyum ramah dari dua penjaga stan, Devi Wahyuni dan Vira. Dengan sabar dan telaten, keduanya menyapa setiap langkah kaki yang masuk. Mereka membantu pengunjung membentangkan tas, memilih motif yang pas, hingga menjelaskan dengan detail harga serta jenis produk.

Keramahan tulus dari Devi dan Vira ini menjadi ruh dari stan tersebut. Pengunjung tidak merasa sekadar datang untuk bertransaksi membeli barang, melainkan menikmati ruang berjumpa yang nyaman sembari mengapresiasi karya lokal.

Napas Ekonomi dan Kreativitas Daerah

[Antusiasme pengunjung saat melihat dan memilih produk kerajinan tas serta kuliner tradisional Aceh di dalam stan PT PIM, Jumat (11/9/2026). Ragam tas dengan corak etnik Aceh menjadi produk yang paling diburu warga di ajang hari jadi ke-800 Kabupaten Aceh Utara tersebut. Foto: Fazil/portalsatu]

Perwakilan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), Devi Wahyuni, mengungkapkan bahwa antusiasme tinggi ini sebenarnya sudah terasa sejak hari pertama pintu pameran dibuka. Tas bermotif khas Aceh, menurutnya, memegang daya tarik utama yang paling diburu.

“Alhamdulillah, sejak dimulainya event ini memang sudah terlihat antusias masyarakat untuk berkunjung ke stan PT PIM lumayan tinggi, dan membeli produk tas bermotif khas Aceh,” ujar Devi, Jumat (11/9).

Devi menyebut bahwa lembaran seni yang dituangkan dalam bentuk tas ini dihargai dengan nominal yang sangat bervariasi dan ramah di kantong, menyesuaikan jenis, ukuran, serta kerumitan modelnya. Harganya bergerak mulai dari Rp60 ribu, Rp75 ribu, Rp110 ribu, Rp160 ribu, Rp180 ribu, Rp200 ribu, hingga yang paling eksklusif menyentuh Rp850 ribu per unit.

Pesona motif Aceh ini terbukti nyata dari mesin omzet yang terus berputar setiap harinya.

“Antusiasme pembeli tersebut terlihat dari hasil penjualan harian. Penjualan tas dalam sehari bisa mencapai sekitar Rp4 juta hingga Rp4,5 juta,” ungkapnya.

Devi melanjutkan, “Tentunya produk UMKM lokal bukan sekadar menjadi pelengkap pameran. Setiap tas bermotif Aceh, makanan tradisional, rempah, kopi, dan produk lainnya tersimpan kreativitas pelaku usaha yang terus berupaya mempertahankan produk lokal sekaligus menjangkau pasar yang lebih luas”.

Bagi PIM dan para pelaku usaha, panggung budaya ini adalah ruang pembuktian yang berharga.

“Stan UMKM binaan PIM menjadi salah satu ruang perjumpaan antara produk lokal dan masyarakat. Piasan Pase ini menjadi kesempatan bagi produk-produk UMKM lokal untuk menunjukkan bahwa karya dari daerah mampu menjadi daya tarik di tengah perhelatan besar,” pungkasnya.

Di bawah tenda stan PIM, selembar tas bermotif Aceh bukan lagi sekadar pelengkap fesyen—ia adalah jalinan cerita tentang identitas, kreativitas, dan harapan ekonomi yang terus tumbuh subur di bumi Pase.[]