Karya: Jamaluddin
Peminat sastra
Taman yang dicabut bunga-bunga
Berubah menjadi rimbanya rerumputan
Bunga itu dulunya ditanam
Dengan taqwa kasih sayang
Hingga harumnya terbawa angin
Ke berbagai arah mata angin dunia
Setelah beberapa kali ke taman
Musafir dari kegelapan pung’ah
Merancang rencana
Mengumpulkan kekuatan
Menyerang penjaga tamannya
Impiannya seperti semut dengan gula
Setiba di taman
Semakin dihancurkan semakin ia rasakan harumnya menyebar
Semakin bersemangat
Ia terlihat mabuk dan lupa diri
Menghancurkan diri
Menghancurkan taman
Mengirup sebanyak mungkin harumnya
Sampai taman benar-benar telah hancur
Peradabannya tenggelam
Dan perusak itu keluar bawa gelar kebesaran, pahlawan
Tanah yang dahulu subur itu kini dipenuhi reranting berduri dari pohon bebunga yang tumbang
Jalanannya telah hilang
Tak ada lagi yang sudi lintasi di siang atau malam
Taman yang dahulu harum bak syurgawi
Kini sepi berbelukar
Binatang berbisa juga bersarang
Hujannya masih sama
Dari langit terus mencurah
Hanya saja tumpahannya tak lagi menyentuh kelopak-kelopak bunga yang indah
Kini lebih banyak menyiram reranting kering hingga lapuk berjamur atau membentuk kolam kubangan berlumpur tempat babi dan kerbau mandi
Engkaukah yang berani mengusik rimba sepi membangun kembali taman-taman
Engkaukah yang bersedia merusak diri
Tercabik duri-duri dalam perjuangkan
Mereka yang berdusta
Setiba di rimba akan mencari apasaja yang bisa dibawa pulang
Ketika melihat sesuatu yang berharga mereka berdiri di depan
Demi mencuri tempurung berisi air hujan
Taman itu harus kembali dibangun
Pemilik-pemilik benih diundang
Ilalang harus dibersihkan dan reranting dikumpulkan dan dibakar
Memetakan kembali zaman
Membangun taman
Menyelamatkan paru-paru zaman
Loh Angen 11 May 2021.[]







