“Saya kira ini persoalan Indonesia juga, serakahnya ini memang tidak selesai-selesai gitu,” ujar Pahlawi.
Kesenian, sebut Dosen Sendratasik Universitas Syiah Kuala, Ari Palawi, S.Sn., M.A., Ph.D, merupakan hal yang paling mudah dieksploitasi, di Aceh sendiri sesama seniman saja saling cekcok.
“Tapi itu dipertahankan. Manajemen konflik. Kalau tak ribut tak bisa makan,” kata lelaki berperawakan humble itu ketika ditemui portalsatu.com/, Senin sore, 30 Januari 2023 di Darussalam.
Menurut alumni University of Hawaii itu, hal tersebut merupakan masalah perseorangan, subjektif. Bukan berbicara bidang atau kelompok. Hal ini saja belum selesai, bagaimana nantinya menghadapi Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) yang penyelenggaraannya tinggal menghitung bulan.
Ia menjelaskan, bagaimana konsep sebuah pekan kebudayaan disusun dengan matang. Di kampus saja, kata Pahlawi, ada yang namanya cara kerja, bila ingin membuat penelitian juga ada prosedurnya.
“Walaupun itu tidak dituhankan atau didewakan, tapi itu pilihan cara. Setidaknya pilihan-pilihan itu lebih menjamin karena sudah teruji,” tukasnya.
Pahlawi meminta pemerintah dan dinas terkait untuk membaca kembali inisiatif awal bagaimana PKA itu dicetuskan. “Apa sih mau orang tua kita dulu terhadap PKA ini,” imbuhnya.
Budaya adalah Cermin Martabat
Ia menyebutkan, terus terang sampai PKA 4 dan 5 masih terasa PKA-nya, walaupun dari awal format acara tersebut sudah salah. Salahnya di mana, sebut Pahlawi, Pekan kebudayaan Aceh disandingkan dengan pameran pembangunan.
“Ada 2 konsep yang berjalan sekaligus, tapi seingat saya PKA 4 dan 5, tradisi kebudayaan itu masih banyak. Bahkan kita tak mau masuk ke stand pembangunan, karena sudah mengasyikan sekali. Ada geudeue-geudeue, layangan, pokoknya lengkap,” sahutnya.
Pahlawi mengatakan, dirinya merasa senang pada beberapa PKA yang telah lewat. Ketika itu diri masih kanak-kanak. Jauh berbanding dengan PKA paruh akhir ini, tak selera. “Itu salah konsep,” ujarnya.
Seharusnya, sebut Pahlawi, sebagai orang Aceh, kita punya kepercayaan diri ketika ingin mempertontonkan kebudayaan Aceh. Sebab menurutnya, budaya adalah cermin martabat. “Masak martabat yang demikian yang dipertontonkan,” selanya.
Ruh Kebudayaan
Sejauh ini, sambung Pahlawi, kekurangan PKA hari ini, semua bisa dibawa ke mana saja, atau ke politis. Itu tak jadi masalah, asal pemanfaatannya untuk hal yang positif. Kenapa tidak misalnya, di sela-sela sajian rapai, seudati dan sebagainya bisa dimanfaatkan untuk orasi-orasi edukasi terkait situasi Aceh.
“Tak jadi masalah, ini penting,” timpalnya.
Semestinya, tambah Pahlawi, kita harus mencari ruh PKA dulu. Tujuannya apa. Ini Pekan, artinya enam atau tujuh hari. Berbicara kebudayaan, ini tentu luas sekali (universal). Lantas budaya yang mana.
“Bisa tidak makna budaya ini disajikan dengan betul-betul logis, juga terasa secara budaya, apakah berdasarkan parade, variasi etnik, kemudian yang menikmati bukan seperti ditumpahi sesuatu. Di sinilah gunanya tata kelola,” terangnya.
Kemudian, kata Pahlawi lagi, bagaimana kebudayaan ini dikelola, orang-orang pada datang dan jadi terkesan, lalu mereka, bahkan meneruskan. Sebab, keperluannya di situ.
Roadmap-nya Tidak Jelas
“Budaya ini kenapa terus diperingati, dilestarikan, dihadirkan untuk mengingatkan bahwa kita punya nilai-nilai yang sudah kita miliki sejak lama. Sebenarnya itu harta Qarun bagi generasi ke depan,” ucapnya.
Dalam hal ini, sambung Pahlawi lagi, ada aspek-aspek yang membutuhkan kompetensi-kompetensi tertentu. Mungkin ini juga menjadi satu kendala, karena solusinya masih terlalu acak dan terbuka.
“Mungkin yang mengelola PKA ini basisnya perlu dipertanyakan. Harusnya cara kerjanya semakin ke sini itu semakin mudah dan semakin efisien, pakai teknologi lagi,” singgungnya.
Lebih lanjut Pahlawi menjabarkan, seharusnya tak ada lagi urusan jarak, banyak orang-orang Aceh yang pakar kebudayaan di Eropa, di Jakarta maupun di daerah lain yang mestinya menjadi tumpuan untuk berdiskusi terkait konsep pagelaran PKA.
“Jangan-jangan ada kepentingan lain di situ, kenapa diajak, mungkin dia juga akan mendapatkan bagian. Memang susah, bilapun kita hadirkan bahasan yang akademis tak ada gunanya,” ungkap Pahlawi.
Jadi Ukuran Ekonomi
Pahlawi meyakini, dalam perhelatan PKA sifatnya majemuk, ada orang yang membawa kepentingan pribadi, ada pula yang murni ingin menjaga dan melestarikan kebudayaan Aceh secara hati nurani.
“Ada orang baik ada orang jahat. Di antara syeh-syeh yang diundang itu, mereka kadang-kadang tidak tahu akan dibayar,” ucapnya.
Seharusnya, kata Pahlawi, sebagai pelaksana, Pemerintah Aceh melalui dinas terkait telah melakukan sosialisasi terkait PKA ke-8 ini dari empat tahun yang lalu terkait semua kegiatan-kegiatan yang telah terencana selama 5 tahun pemerintahanya, roadmap-nya harus jelas.
“Kan, PKA 4 tahun sekali, beriringan dengan pergantian jabatan pemerintah, mesti roadmap-nya sudah jelas beriringan,” paparnya.
Ia mengaku khawatir, ketika ditinjau jangan-jangan terkait pagelaran PKA nanti sifatnya hanyalah satu kepanitiaan kecil, sama juga seperti even-even lainnya. “Untuk hal yang istimewa atau yang ideal dari PKA tak usah diharap, lah,” katanya.
Dari perhelatan PKA ke-6, Pahlawi menilai, seolah-olah yang menjadi ukuran adalah ekonomi, uang masuk. Selain hal-hal yang sedikit dapat membanggakan Aceh pada umumnya. “Ini yang saya lihat urusannya sudah sangat pragmatis,” katanya.
Ia membanding, dari dokumen-dokumen PKA, termasuk PKA pertama tahun 1974 yang dikantonginya, ada seminar yang digelar saat itu. Dalam ihwal itu, semua budayawan dan para tokoh saat itu mengamanatkan beberapa hal.
“Salah satu yang saya ingat, Unsyiah (USK atau Universitas Syiah Kuala) agar menyelenggarakan program-program studi yang berkaitan dengan kajian perpustakaan Aceh, budaya, sejarah dan segala macam. Sebagai embrio lahirnya fakultas-fakultas ilmu budaya,” jelasnya.
Sejauh ini, Pahlawi mengira, tidak ada lagi rekomendasi-rekomendasi sekaliber itu untuk konteks-konteks PKA pada 15 tahun terakhir ini. “Semua yang kita punya itu, mau dibawa ke mana, kita tak tahu”.
Anak Muda Mesti Ambil Alih
Pahlawi menyebutkan, dengan kondisi yang demikian, sudah saatnya anak muda mengambil alih akal sehatnya. Ambil alih kerja-kerja yang bermanfaat dalam urusan kebudayaan ini. “Kalau perlu, buatlah pembanding. PKA yang sebenarnya itu bagaimana,” sunggingnya.
Selain itu, Pahlawi menuturkan, anak muda tak perlu menunggu, yakin saja bisa. Bilapun mungkin tak punya kompetitor, “sehingga merasa itu paling betul dan paling bagus, disuruh keluar gak mahu,” ujarnya.
Akuinya, hal itu memang tampak agak sinis, tetapi dirinya tak berharap lagi dengan konsep PKA yang selama ini sudah begitu mudah mengalir. Karena tata kelolanya hancur. “Kalau dulu, seniman ada yang dapat makanan basi”.
“Hal ini yang sering saya konfrontasi dengan pihak dinas, karena mereka tak terima dengan kenyataan itu. Walaupun itu kenyataan,” bebernya.
Pahlawi juga mengatakan, masih banyak anak muda Aceh yang berakar dari apa yang mereka punya dari tinggalan leluhurnya. Kenapa harus kalah, proporsionalnya jadi membingungkan. “Ini apa, pasar malam masuk, dangdutan masuk, begadang masuk, bazar masuk juga,” terangnya.
“Ini apa sebenarnya, dan panggung utama yang selalu dikondisikan. Yang duduk di depan itu raja-raja semua. Itu saja tak mencerminkan budaya,” imbuh Pahlawi lagi.
Sebelumnya dikabarkan, Pemerintah Aceh berencana menggelar Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VIII atau Ke-8 pada tahun 2023 ini, mengambil tema ‘Jalur Rempah’. Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Aceh, Almuniza Kamal, mengatakan, penggelaran kegiatan kebudayaan empat tahunan di Aceh tersebut didukung persiapan dan konsep yang matang.[]
Penulis: Adam Zainal
Editor: Thayeb Loh Angen.







