BANDA ACEH – Departemen Seni dan Budaya Partai Aceh (PA) melalui aksi kebudayana dalam dinamika politik Aceh, mengangkat kembali seudati dan pesan kearifan masyarakat Aceh dalam seminar yang digelar, Sabtu, 7 November 2026 di Hotel Madinah, Kota Banda Aceh.
Seminar menghadirkan para pemateri yang merupakan pelaku seni dan peneliti, seperti seniman etnik dan budayawan Aceh Imam Juani, MA, syeh seudati dan rapai geleng dari sanggar Citka Geunta Syeh Abu Tarimin, peneliti dari International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS) Dr. Sehat Ihsan Sadiqin, serta budayawan pop dan filmmaker Davi Abdullah.
Wakil Ketua I Bidang Pendidikan Politik dan Kaderisasi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Aceh, Ir. Jufri Hasanuddin, MM saat membuka seminar menjelaskan, kebudayaan Aceh termasuk adat dan seni tradisi seperti seudati tidak terlepas dari nilai-nilai regiulitas masyarakat Aceh.
“Adat Aceh dan syariat lagee zat ngon sifeut, meunyoe salah saboh hama nyan hanco binasa. Ketika adat berjalan ada nilai-nilai syariat di dalamnya, yang lestari itu adat dan kebudayaan yang sejalan dengan syariat,” jelas Jufri.
Mantan Bupati Aceh Barat Daya (Abdya) ini menambahkan, seudati awal mulanya merupakan media dakwah yang bertransformasi menjadi tarian perang yang mengangkat heroisme perjuangan melawan penjajah Belanda.
“Pada masa perjuangan melawan penjajah kolonial Belanda, dalam seudati ada syair-syair dakwah dan syair-syair perjuangan di dalamnya, sehingga pertunjukan atau tunang seudati sempat dilarang,” ungkapnya.
Selain itu kata Jufri, mengangkat seudati dalam pendidikan politik kader PA merupakan sebuah respon terhadap isu budaya kontemporer, di mana tari seudati mulai redup dan bahkan hampir punah di Aceh
“Fluktuasi dan degradasi dalam politik merupakan dinamika, karena itu ada ruang-ruang kosong yang harus kita perbaiki untuk kesinambungam perjuangan,. termasuk perjuangan di bidang budaya,” tegasnya.
Sementara itu Wakil Ketua Bidang Kebudayaan Partai Aceh, Samsul Bahri alias Ayi Sarjev, selaku ketua panitia menuturkan bahwa gerakan kebudayaan sudah dimulai sejak abad 16. Masa kolonial lahir tokoh seperti Teungku Chik Pante Kulu yang menciptakan hikayat prang sabi, serta tokoh-tokoh gerakan perjuangan Aceh lainnya.
“Seudati pernah menjadi bagian dari perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda. Sebelum berperang diadakan tunang seudati untuk membakar semangat rakyat Aceh. Tapi ironisnya sekarang maestro seudati sudah langka, maka aksi kebudayaan ini kita lakukan. Partai Aceh membuka peluang bagi siapa pun untuk memajukan kebudayaan Aceh. Partai Aceh diharapkan menjadi lokomotif pemajuan kebudayaan Aceh,” harap Sarjev.

Imam Juani, senimam etnik dan budayawan dalam pemaparannya mengungkapkan, perjalanan seni tradisi itu tidak lepas dari rateb/zikir. Peran ulama dalam dunia seudati sangat kentara, dari awal mula yang tidak memakai baju, kemudian memakai kostum hitam, hingga kemudian diganti dengan pakaian putih dan memasukkan syair syair yang Islami.
“Malah dalam syair seudati ada kalimat-kalimat yang tidak bisa kita artikan yang merupakan penggalan-pengalan kalimat tasawuf. Dalam perkembangannya kemudian juga dimasukkan syair-syair heroism, sehingga seudati menjadi kekuatan dan identitas Aceh,” ungkapnya.
Syeh seudati dan rapai geleng dari sanggar Citka Geunta Syeh Abu Tarimin berharap seudati dilestarikan agar tidak punah. “Kita perlu lestarikan tari seudati agar tidak punah. Dulu di Taman Budaya semua seni tradisi bisa hidup karena ada pertunjukan,” jelasnya.
Pemateri lainnya Dr. Sehat Ihsan Sadiqin dari ICAIOS menjelaskan, seudati bukan sekadar tarian melainkan manifestasi ritmis dari ketangguhan fisik dan spiritual. Sebagai genre seni pertunjukan berdiri (dong) seudati menuntut kebugaran. Ada nafas tarekat sufi dalam nadi seudati.
Hal yang sama disampaikan Davi Abdullah, seudati awalnya bermula dari zikir zikir dan doa doa, meski belum dikenal sebagai seudati. Syair dan gerakan sudah terbentuk. Gerakan tari seudati mengalami perunahan seperti pergerakan perang, lincah dan heroik.
“Syair dan gerak seudati bisa membangkitkan semangat patriotisme. Karena itu kemudian dilarang oleh Belanda pada masa kolonialisme. Pasca Belanda meninggalkan Aceh seudati kembali populis. Muncullah syeh syeh yang kemudian menjadi maestro seudati. Puncak kejayaan seudati ketika tampil di berbagai negara di era 1990-an,” paparnya.
Davi menambahkan, dalam revokusi sosial Aceh, pernah terjadi selisih paham antara agamawan dan seniman seudati, karena syair seudati yang dianggap provokatif dan memancing konflik antar kelompok ulama dan uleebalang.
“Kini seudati telah berubah fungsi dari tari zikir ke pertunjukan, malah sekarang hanya jadi hiburan di acara seremonial,” pungkasnya.[]Rilis








