BANDA ACEH – Juru Bicara Partai Aceh (PA), Suaidi Sulaiman atau dikenal Adi Laweueng tidak terlalu mengkhawatirkan munculnya sejumlah partai politik baru menjelang pemilihan legislatif 2019. Ini termasuk dengan hadirnya kembali partai SIRA.

“Itu mitra kita di lapangan. Yang jelas semua peserta pemilu itu tentunya akan digariskan dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku,” ujar Adi Laweueng di Banda Aceh, menjawab pertanyaan portalsatu.com mengenai kesiapan Partai Aceh menjelang Pileg 2019, termasuk kembalinya SIRA dalam pesta demokrasi mendatang, Rabu, 6 September 2017.

Menurut Adi Laweueng semua orang dapat ambil andil dalam hal demokrasi. Dia mengatakan PA tidak alergi dengan munculnya sejumlah partai baru di Aceh. 

“Semua itu adalah mitra dan teman kita semua,” katanya.

Adi Laweueng juga membantah adanya trend penurunan jumlah suara Partai Aceh di Pidie berdasarkan hasil Pilkada 2019. Menurut Adi Laweueng penyebab bergesernya jumlah suara PA disebabkan munculnya kandidat dari latarbelakang yang sama.

“Ada dokter Zaini, ada Teuku Zakaria Saman, jadi angka perolehan di masa yang lalu, dalam keadaan yang begitu solid, kemudian kemarin ada beberapa (kandidat) yang muncul ini sedikit bergeser. Yang jelas ini bukan menunjukkan menurunnya angka PA, bukan,” kata Adi Laweueng.

Hal serupa menurut Adi Laweueng juga terjadi di Pilkada Bupati Pidie. Pria asal Laweueng ini tetap optimis PA dapat meraih suara banyak di Pileg 2019 nanti. “Pilkada Pidie kan, antara bang Sarjani dan Abusyik itu kan dari latarbelakang yang sama (mantan kombatan GAM). Hanya jalur menuju Pilkada saja yang berbeda. Sarjani maju dari jalur partai, diusung Partai Aceh dan didukung partai politik, sementara Abusyik lebih memilih jalur independen. Kalau latarbelakang sama,” kata Adi Laweueng.

Dia juga menampik adanya opini publik terkait menurunnya kepercayaan masyarakat Aceh terhadap PA. Menurut Adi Laweueng opini tersebut dibangun untuk menjatuhkan citra Partai Aceh di publik. “Bukan masyarakat sudah jenuh dengan adanya Partai Aceh. Semua orang kan punya pilihan, apalagi dalam persoalan penegakan demokrasi di Indonesia dan di Aceh. Bukan artinya, misalnya, ketika kemarin ada kandidat yang diusung Partai Aceh tidak jebol di puncak kepemimpinan berarti PA sudah ditinggalkan, hanya saja Allah menghendaki yang lain. Kalau masyarakat sampai saat ini masih dengan Partai Aceh. Semua partai itu ada pengikutnya juga, ada basis juga,” kata Adi Laweueng.

Adi mengaku sangat optimis jika PA masih akan mendominasi parlemen di Aceh, baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. “Target 2019, kita minimal mempertahankan jumlah kursi yang ada,” ujar Adi Laweueng.[]