Karya: Taufik Sentana
Peminat prosa religi.
Bergabung di JSIT (jaringan sekolah Islam Terpadu) Aceh Barat.
Tentulah Dia Yang Maha Mencipta
telah Mengetahui ujung watak kita.
saat ruh yang mulia dipadu dalam jasad
dan menjadilah sang diri, dengan pancaran akal, kehendak dan fantasi.
Kitapun menempuh jalan ini sesuai tabiat lingkungan dan apa yang kita pelajari kemudian.
Fitrah insan adalah tunduk dan pasrah dengan ikatan sunnatullah, garis edar alam, mencari dan menemukan makna yang berharga bagi jiwa.
Para utusan telah selesai menyampaikan risalah perjalanan diri
dengan segenap tanda, mukjizat, sejarah dan ayat ayat. Dengan satu maksud agar kembali ke Hadrat Jiwa dalam selamat.
Sungguh, kesenangan badani dapat mengkontaminasi jiwa, sebagaimana kesenangan ruhani dapat menghidupkan jiwa. Kita yang dibekali kehendak bebas mesti memilih dan terus memilih untuk kepentingan sementara ataupun abadi.
Warna warni dunia telah disiapkan sebagai panggung yang melalaikan sebagai wujud pembentukan watak, sebagai mata uji, dalam memilih amal terbaik sang diri.
Pada sisi lain ajaran samawi, puasa menjadi jalan batin pembasuh jiwa. Puasa memurnikan hakikat jiwa untuk mencapai ketinggian malakut dengan kesadaran manusia.
Puasa mengikat hubungan ketuhanan kita sebagaiman mestinya, tanpa benci dan amarah ataupun pongah, bertumpu di atas sifatNya yang Rahman dan Rahmah. Tanpa tumpuan ini, puasa kita hanya prosedur tubuh dan tak membasuh jiwa.[]




