LHOKSUKON – Pemerintah Kabupaten Aceh Utara berkomitmen untuk terus menurunkan angka stunting, termasuk penekanan intervensi pada upaya pencegahan. Hal ini sejalan dengan Strategi Nasional Pecegahan dan Percepatan Penurunan Stunting (Stranas P3S) yang sudah disusun oleh Sekretariat Wakil Presiden.
Dalam Stranas P3S, lebih mengedepankan faktor pencegahan. Strategi ini memastikan intervensi sejak masa pra-kelahiran dengan fokus pada 11 intervensi spesifik khususnya untuk remaja putri dan ibu hamil, dan sembilan intervensi sensitif.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Aceh Utara, Jalaluddin, SKM., M.Kes., Senin, 23 Juni 2025, mengatakan selama ini program pencegahan stunting di kabupaten ini juga menyasar remaja putri dengan pemberian tablet tambah darah (TTD) serta edukasi gizi.
Menurutnya, sasaran pemberian TTD untuk siswi SMP dan SMA, yang didistribusikan oleh petugas di masing-masing Puskesmas terdekat. Pemberian TTD untuk mencegah remaja putri terserang anemia, salah satu penyebab stunting.
Anemia adalah suatu keadaan di mana kadar hemoglobin (Hb) di dalam darah lebih rendah dari normal, sehingga jumlah sel darah merah tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan fisiologis tubuh.
Mengutip buku Stunting-pedia: Apa yang Perlu Diketahui tentang Stunting, anemia pada remaja putri tidak hanya akan berpengaruh terhadap kesiapan dalam masa kehamilan, tetapi juga berhubungan dengan status gizi atau pertumbuhan dari remaja tersebut.
Artinya, remaja putri yang anemia akan mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang tidak optimal, sehingga berisiko menjadi ibu yang pendek. Ibu yang pendek akan berisiko melahirkan anak yang stunting.
Pencegahan anemia pada remaja putri merupakah hal penting. Tidak hanya karena remaja putri akan mengalami kehamilan dan melahirkan, tetapi juga karena kebutuhan zat besi yang lebih besar akibat menstruasi setiap bulan, serta asupan makan yang tidak adekuat karena citra diri (body image). Body image bagi remaja, khususnya remaja putri, merupakan hal yang penting karena pada masa remaja seseorang banyak mengalami perubahan, baik secara fisik maupun psikis.
Oleh karena itu, memberikan pengertian kepada remaja terkait citra tubuh yang benar dan kebutuhan asupan gizi merupakan hal penting untuk mempersiapkan status gizi yang baik.
Diketahui, remaja merupakan kelompok usia 10 tahun sampai sebelum berusia 18 tahun. Remaja putri kemudian akan menjadi calon ibu. Remaja putri yang sehat akan siap menjadi wanita usia subur (WUS) yang sehat. WUS yang sehat akan siap menjadi ibu yang sehat dan siap mengandung janin yang dapat tumbuh dan berkembang secara sehat. Pada akhirnya, ia pun akan melahirkan bayi yang juga sehat.
Ibu yang sehat akan berhasil memberikan air susu ibu (ASI), mengoptimalkan makanan pendamping ASI (MPASI), serta memberikan stimulasi pengasuhan tumbuh kembang anak dengan baik.[](*)






