LHOKSUKON – Strategi Nasional (Stranas) Stunting mengidentifikasi remaja terutama remaja putri sebagai kelompok sasaran penting, selain ibu hamil dan anak usia 0–23 bulan.
Sejalan dengan itu, Dinas Kesehatan Aceh Utara dalam menjalankan program pencegahan stunting juga menyasar remaja putri dengan pemberian tablet tambah darah (TTD) dan edukasi gizi.
Plt. Kepala Dinas Kesehatan Aceh Utara, Jalaluddin, SKM., M.Kes., Rabu, 25 Juni 2025, menyampaikan pihaknya berkomitmen pada upaya promotif preventif atau promosi kesehatan dan pencegahan masalah kesehatan. Perbaikan gizi masyarakat juga difokuskan pada remaja. Sebab, permasalahan kesehatan dan gizi saat remaja akan mempengaruhi kualitas hidup pada usia selanjutnya.
“Akibat dari jangka panjang penderita anemia gizi besi pada remaja putri yang nantinya akan hamil, maka remaja putri tersebut tidak mampu memenuhi zat–zat gizi pada dirinya dan janinnya”.
Oleh karena itu, masalah kekurangan zat gizi mikro seperti anemia pada remaja perlu dilakukan pencegahan. Anemia merupakan dampak kelanjutan dari kekurangan zat gizi makro yaitu karbohidrat, protein, lemak dan kurang zat gizi mikro yaitu vitamin dan mineral.
Anemia adalah suatu keadaan di mana kadar Hemoglobin (Hb) di dalam darah lebih rendah dari nilai normal untuk kelompok orang menurut umur dan jenis kelamin. Pada wanita remaja hemoglobin normal adalah 12-15 g/dl dan pria remaja 13-17 g.
Dampak dari kejadian anemia pada remaja dapat menurunkan konsentrasi dan prestasi belajar, serta mempengaruhi produktivitas di kalangan remaja. Di samping itu juga dapat menurunkan daya tahan tubuh, sehingga mudah terkena infeksi dan petumbuhan menjadi terhambat. Anemia dapat mempengaruhi tingkat kesegaran jasmani seseorang.
Penyebab langsung terjadinya anemia antara lain, defisiensi asupan gizi dari makanan (zat besi, asam folat, protein, vitamin C, riboflavin, vitamin A, seng dan vitamin B12), konsumsi zat-zat penghambat penyerapan besi seperti teh, penyakit infeksi, malabsorpsi, perdarahan dan peningkatan kebutuhan.
Berbagai penelitian menyatakan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya anemia pada remaja putri secara umum antara lain meliputi:
Pengetahuan gizi
Pengetahuan gizi yang rendah atau kurang menyebabkan sebagian remaja tidak memahami apakah makanan sehari-hari yang dikonsumsi sudah memenuhi syarat menu seimbang atau belum.
Pola konsumsi
Beberapa zat gizi dalam makanan yang dapat meningkatkan ketersediaan/daya guna/penyerapan Fe, yaitu vitamin C, 3 beberapa asam amino, dan protein makanan pada umumnya. Protein memegang peranan esensial dalam mengangkut zat-zat gizi dari saluran cerna melalui dinding saluran cerna ke dalam darah, dari darah ke jaringan-jaringan, salah satu yang diangkut oleh protein adalah zat besi.
Kekurangan protein menyebabkan gangguan pada absorpsi atau penyerapan dan transportasi atau pengakutan zat gizi. Kejadian anemia selain dipengaruhi oleh asupan protein juga dapat dipengaruhi oleh asupan vitamin C. Vitamin C merupakan pendorong yang kuat untuk absorpsi besi non-heme yang pada umumnya berasal dari sumber nabati. Mekanisme absorpsi ini termasuk mereduksi ferri menjadi bentuk ferro dalam lambung.
Ketidakcukupan asupan gizi ini disebabkan karena pola konsumsi masyarakat Indonesia yang masih menggunakan sayuran sebagai sumber utama zat besi, sering konsumsi inhibitor penyerapan zat besi dan kurang konsumsi Vitamin C.
Sosial ekonomi
Kondisi sosial ekonomi keluarga memiliki pengaruh pada pola konsumsi pangan secara makro, di mana jika pendapatan keluarga semakin besar maka semakin beragam pola konsumsi masyarakat. Pendapatan keluarga merupakan faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi oleh seluruh anggota keluarga, hal ini juga akan berpengaruh pada uang saku anak dan kebiasaan anak untuk makan.
Pencegahan dan pengobatan
Pencegahan dan pengobatan anemia dapat ditentukan dengan memperhatikan faktor-faktor penyebabnya. Jika penyebabnya adalah masalah nutrisi, penilaian status gizi dibutuhkan untuk mengidentifikasi zat gizi yang berperan dalam kasus anemia. Terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menanggulangi anemia akibat kekurangan konsumsi besi.
Upaya pertama meningkatkan konsumsi besi dari sumber alami melalui pendidikan atau penyuluhan gizi kepada masyarakat, terutama makanan sumber hewani yang mudah diserap. Juga makanan yang banyak mengandung vitamin C, dan vitamin A untuk membantu penyerapan besi dan membantu proses pembentukan hemoglobin.
Kedua, melakukan fortifikasi bahan makanan yaitu menambah besi, asam folat, vitamin A, dan asam amino essensial pada bahan makanan yang dimakan secara luas oleh kelompok sasaran.
Ketiga melakukan suplementasi besi folat secara rutin kepada penderita anemia selama jangka waktu tertentu untuk meningkatkan kadar hemoglobin penderita secara cepat.
Pendidikan atau penyuluhan
Pendidikan gizi secara komprehensif yaitu pada anak anemia, guru dan orang tua diberikan dengan harapan pengetahuan gizi anak, guru dan orang tua serta pola makan makan anak akan berubah sehingga asupan makan terutama asupan besi anak akan lebih baik. Dengan asupan besi yang lebih baik, maka kadar hemoglobin anak akan meningkat.
Peran tokoh masyarakat
Koordinasi antara guru dan tokoh masyarakat dengan petugas kesehatan atau Puskesmas agar selalu ditingkatkan untuk menanggulangi masalah anemia gizi pada remaja putri dan wanita. Salah satu cara pemerintah dalam mengurangi angka kejadian anemia khususnya pada remaja putri adalah dengan memberikan tablet tambah darah (TTD). Upaya ini dilakukan sebagai usaha pemerintah membangun SDM melalui pemenuhan gizi seimbang bagi remaja.
Upaya pencegahan anemia pada remaja melalui suplementasi TTD pada remaja putri merupakan intervensi spesifik yang sangat strategis, untuk mempersiapkan calon ibu yang sehat melahirkan generasi penerus yang berkualitas. Peran seluruh masyarakat baik guru sebagai pendidik, orang tua, dan para tokoh masyarakat yang terlibat di dalam peningkatan kesehatan masyarakat secara menyeluruh sangat diperlukan.[](*)








