“BAHAYA paling besar saat bertugas di Sudan adalah terkena wabah ebola. Resiko ini lebih besar dibandingkan konflik bersenjata di negara itu.”
Demikian pendapat Brigadir Aji, salah satu personel Polda Aceh yang baru saja mengakhiri tugas selaku pasukan perdamaian di bawah komando United Nations African Union Mission in Darfur atau UNAMID. Berdasarkan data kesehatan dunia, wabah ebola pertama pada manusia terjadi bersamaan di Sudan dan Republik Demokratik Kongo pada tahun 1976. Kemudian kembali mewabah pada saat konflik Sudan berkecamuk, sekitar 10 tahun lalu, yang membuat sejumlah negara menarik pasukan perdamaian dari kawasan tersebut. Angka kematian akibat virus ini mencapai 90 persen yang menempatkannya di posisi kedua penyakit mematikan di dunia.
“Sangat mematikan, bahkan warga Afrika menyebut wabah ebola dengan penyakit kutukan,” kata Brigadir Aji.
Beruntung bagi Brigadir Aji dan kawan-kawan. Mereka yang diberangkatkan ke Sudan sudah terlebih dahulu mendapat pendidikan dari United Nations (UN) terkait ebola. Sehingga, Aji yang notabenenya bertugas di divisi kesehatan sudah mendapat pencegahan dini agar tidak terkena wabah ebola selama berada di negara tersebut.
Lalu, siapa sebenarnya Brigadir Aji?
MINGGU, 25 Februari 2018. Seorang pria berambut cepak mendatangi warung kopi SMEA di Jalan P Nyak Makam, Lampineung, Kota Banda Aceh. Tubuhnya berisi, kulit sawo matang dengan bentuk wajah cenderung oval dengan bersolek kumis tipis di atas bibirnya. Namanya Aji Azwardi.
Hari itu Aji mengenakan kaos biru bercorak hitam. Ada tulisan “AJIE A” di bagian dada sebelah kanan dan simbol UNAMID di dada kiri kaos yang dipakainya. Aji merupakan putra Aceh kelahiran Peusangan, Bireuen yang kini bertugas di Propam Polda Aceh. Bersama lima rekannya, Aji berhasil lolos sebagai pasukan perdamaian yang kemudian bertugas di Sudan selama satu tahun. Mereka adalah AKP Edy Ragarjono (Polresta), SIK, Iptu Yozana Fajri, SIK (Brimob), Brigadir Syahril (Brimob), Brigadir Hendra S (Brimob), Brigadir Aji Azwardi (Propam), dan Brigadir Amar H (Brimob).
Keenam personil Polda Aceh ini mengikuti beragam tes untuk lolos dalam misi bergengsi ini. Di antaranya tes kesehatan, tes menembak, tes mengemudi, tes kemampuan berbahasa Arab dan Inggris, serta beberapa tes lainnya. Aji mengakui tidak semua personil kepolisian memiliki kesempatan untuk masuk dalam Front Police Unit (FPU) 9, sebuah wadah yang dibentuk Indonesia dalam rangka menciptakan perdamaian dunia bersama United Nation (UN).
“Ada tes. Itu pun setelah lulus, belum tentu lolos. Karena setelah lulus, kita harus mengikuti lagi kegiatan pra ops selama empat bulan. Misalnya seperti saya kesehatan, selain ikut pra ops kesehatan, juga harus mengikuti latihan fisik, latihan menembak,” kata Aji.
Nasib baik berpihak pada Brigadir Aji dan lima rekannya dari Polda Aceh. Mereka dinyatakan lulus dan kemudian bergabung bersama 140 personil FPU 9 untuk berangkat ke Al Fashir, ibukota provinsi Darfur Utara, Sudan. Di Al Fashir tim FPU 9 dari Indonesia bergabung bersama tim polisi dari Mesir dan pasukan militer dari negara-negara lain, yang kemudian melebur di bawah komando UNAMID.
“Pulang dari Sudan tanggal 1 Februari 2018,” kata pria lajang ini.
Di sudut warung kopi tersebut Aji menceritakan kisahnya bersama UNAMID di kota Al Fashir, sebuah kota besar di wilayah Darfur. Kota yang menjadi tempat bertugas bagi Brigadir Aji dan kawan-kawan ini berfungsi sebagai titik pemasaran pertanian untuk sereal dan buah-buahan. Kota ini dihubungkan oleh dua jalan darat yaitu Geneina dan Umm Keddada.
Di tempat tersebut kini menjadi ramai dengan aktivitas manusia. Pusat pertumbuhan penduduk terus berkembang seiring penempatan petugas PBB—penyebutan UN di Indonesia. Tingkat perekonomian warga juga meningkat dengan dibukanya beragam jenis toko makanan, terutama pizza, untuk menyahuti permintaan pasar para petugas kemanusiaan dari mancanegara. Selain itu, banyak juga toko-toko penjual air bersih yang baru menjamur pasca petugas PBB hadir di Sudan.
Di kota yang didominasi gurun dengan 98 persen penduduknya beragama Islam ini, Brigadir Aji dan kawan-kawan dari Polda Aceh menjalankan misi mulia selama satu tahun. Alumni Akper Depkes Banda Aceh ini menjalankan misi utamanya sebagai pasukan perdamaian yang meredam konflik antarsuku di Sudan. “Perang saudara antarsuku. Misi kita mendamaikan pihak-pihak yang berkonflik. Ada suku-suku tertentu yang berkeinginan memerdekakan diri dari Sudan, dengan alasan kekurangan perhatian dari pemerintah pusat,” kata putra pasangan Muhammad Nur dan Basmiyah ini.
Seperti diketahui, Indonesia mengirimkan dua tim dalam program UNAMID ini. Tim pertama terdiri dari personil TNI dan kedua dari personil kepolisian. Di Sudan, kedua tim menempati wilayah tugas berbeda. Menurut Brigadir Aji, pihak TNI lebih fokus ke wilayah perbatasan Sudan sementara FPU 9 bertugas menjaga ketertiban masyarakat, sosial, dan patroli pengamanan staf UN. “Selain itu, ya sosialisasi dengan masyarakat.” (Lihat Foto: Putra Aceh di Misi Kemanusiaan PBB di Sudan)
Meskipun demikian, Aji bersama sejumlah rekannya juga turut melakukan program pertukaran kebudayaan di Sudan. Mereka juga turut memperkenalkan baju-baju adat dari Indonesia selama di sana.
Aji berasal dari keluarga sederhana. Lahir di Peusangan, Bireuen, dan besar di Alue Bili, Aceh Utara. Ayahnya, Muhammad Nur, merupakan seorang pensiunan polisi. Sementara ibunya, Basmiyah, adalah seorang guru agama di salah satu sekolah dasar di Aceh Utara. Dibesarkan oleh keluarga yang taat akan agama ini membuat Aji sering memanfaatkan waktu luangnya dengan mengajar mengaji untuk anak-anak di Al Fashir, Sudan.
Kendati menikmati tugasnya selama berada di Sudan, bukan berarti pria lulusan Pusdik Brimob Watukosek, Jawa Timur, ini lupa akan kondisi di Aceh. Dia mengaku kadang-kadang teringat dengan kampung halamannya. Apalagi bentang alam Sudan yang didominasi oleh gurun jauh berbeda dengan suasana Aceh. Selain itu, penduduk Sudan juga kekurangan air bersih dan makanan. Selama di sana Aji jarang sekali melihat tumbuhan subur layaknya di Aceh. Tidak ada hamparan sawah nan hijau apalagi perbukitan yang tumbuh dengan sejuta jenis pohon.
“Makajih lon na sempat berfikir, leu that kelebihan bak nanggroe tanyoe dibandingkan bak nanggroe gob. Nyan ban, tanyoe kadang enteuk bak ta tung ie sembahyang, ta jep ie, na yang boh-boh ie, sedangkan ideh na yang kekurangan air kekurangan makanan. Jadi jeut ta kheun, lebih senang tanyoe dibandengkan nanggroe gob (Makanya saya sempat berfikir, banyak sekali kelebihan di negeri kita dibandingkan di negeri orang. Namun, kita terkadang waktu berwudhu, waktu meminum air, ada yang buang-buang, sementara di sana ada yang kekurangan air dan makanan. Jadi bisa kita sebutkan, lebih senang kehidupan warga Indonesia dibandingkan warga negara Sudan dan Afrika),” ujar Aji, yang kemudian mengakhiri wawancara dengan portalsatu.com/ untuk menjalankan salat dhuhur. “Meuhan eunteuk ka kureung lom jatah lon (nanti kurang lagi jatah saya beribadah),” kata pria berusia 32 tahun itu seraya tersenyum simpul.[]






