ACEH UTARA – Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Pase terus memaksimalkan suplai air bersih dan perbaikan pompa yang rusak di titik terdampak banjir bandang akhir 2025.
Pascabanjir tersebut, Perumda Tirta Pase terpaksa mengoperasikan layanan air bersih dalam kondisi darurat. Pemasangan pompa distribusi booster di Kecamatan Baktiya Barat, Aceh Utara yang sempat rusak, kini telah diperbaiki untuk kelancaran distribusi air di sekitarnya.
Direktur Utama Perumda Tirta Pase, Imran, S.T., kepada portalsatu.com/, Senin, 19 Januari 2026, mengatakan jaringan pipa pada jembatan yang roboh tergerus banjir di Jalan Rel KA Bungkaih, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara telah selesai diperbaiki kemarin (Ahad, 18/1), dan dites suplai air arah ke Kecamatan Dewantara yang selama ini off, karena pipa sudah terputus-putus sepanjang jalan.
"Di Dewantara, sebagian Baktiya dan Muara Batu untuk jaringan distribusi pipa banyak yang terputus di lorong-lorong jalan, itu juga sedang kita perbaiki semua," kata Imran.
Menurut Imran, untuk Kecamatan Langkahan, pihaknya sudah menghidupkan Instalasi Pengolahan Air (IPA) sepekan lalu. Dengan beroperasinya IPA Langkahan, jarak tempuh armada truk tangki untuk menyuplai air ke desa-desa semakin dekat, dibandingkan sebelumnya harus mengambil air ke IPA Lhoksukon, setelah itu baru diantar lagi ke Langkahan.
Imran menyebut pengolahan air sudah diupayakan beroperasi oleh Perumda Tirta Pase, namun mobil tangki yang perlu lebih maksimal untuk mendistribusikan air ke seluruh wilayah Langkahan. Sebab, semua jaringan distribusi di kecamatan tersebut sudah rusak total.
Imran mengungkapkan sebanyak 12 IPA yang menyuplai kebutuhan air bersih untuk Aceh Utara dan Lhokseumawe mengalami rusak berat pascabanjir. Kerusakan tidak hanya terjadi pada instalasi, tetapi juga pada jaringan distribusi baik pipa induk maupun pipa distribusi hingga sambungan rumah (SR).
“Informasi kami peroleh dari pihak Kementerian PU bahwa akan ada pembangunan jaringan distribusi baru yang akan dilaksanakan oleh BUMN Adhi Karya dalam waktu dekat ini. Itu termasuk upgrading atau peningkatan IPA Langkahan dari 20 Liter per Detik (LPS) menjadi 50 LPS,” ungkap Imran.
Imran juga menyampaikan kerugian Perumda Tirta Pase akibat banjir bandang diperkirakan mencapai Rp36 miliar. Selain kerusakan fisik, perusahaan juga mengalami kerugian operasional akibat terhentinya penagihan rekening pelanggan yang berdampak pada penurunan produktivitas penjualan.
“Tapi berkat kesigapan dan kerja keras seluruh karyawan, beberapa IPA telah berhasil difungsikan kembali secara bertahap. Begitu pula sejumlah jaringan distribusi yang mulai diperbaiki, sehingga suplai air bersih di sejumlah wilayah terdampak banjir kembali mengalir normal,” kata Imran.
Namun, Imran mengakui masih terdapat sejumlah wilayah yang belum teraliri air secara optimal. Hal itu disebabkan keterbatasan kapasitas pompa akibat kerusakan yang belum sepenuhnya tertangani, dan tingginya biaya operasional perbaikan yang harus ditanggung secara mandiri oleh perusahaan.
“Kami harus menjaga stabilitas pembiayaan operasional lainnya. Seluruh pembiayaan perbaikan dilakukan secara mandiri, sehingga pemulihan secara cepat dan sempurna membutuhkan waktu. Kami berharap masyarakat bersabar, tentu semua yang terkendala di lapangan kita lakukan pembenahan,” ujarnya.
Menurut Imran, kendala lainnya yang dihadapi adalah kualitas air baku kerap mengalami tingkat kekeruhan tinggi pascabanjir bandang. Kondisi itu sering memaksa operasional IPA dihentikan sementara. Salah satunya terjadi di IPA Krueng Pase pada 13 Januari 2026, meskipun perbaikan pipa induk berdiameter 300 mm telah selesai dilakukan. Namun, operasional terpaksa dihentikan kembali akibat meningkatnya kekeruhan air baku.
Kondisi serupa juga terjadi di beberapa IPA lainnya seperti IPA Teupin Punti (Kecamatan Syamtalira Aron), IPA Langkahan, dan IPA Meunasah Asan (Lhoksukon).
“Kami memohon pengertian dan kesabaran masyarakat atas ketidaknyamanan layanan yang terjadi. Gangguan tersebut bukan disengaja, melainkan dampak langsung dari bencana dan keterbatasan sumber daya. Saat ini, suplai air ke wilayah Kecamatan Syamtalira Bayu, Meurah Mulia, dan Kota Lhokseumawe telah kembali normal,” tutur Imran.[]







