BANDA ACEH – Warga net dari sosial media Facebook, dalam beberapa hari ini dihebohkan oleh postingan curhatan sebuah keluarga yang merasa dirugikan dan mengakibatkan meninggalnya seorang bayi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Aceh Singkil.

Akun Facebook atas nama Herawati Hera, dalam postingan 30 Desember 2017 lalu menyebutkan, bayi yang diakuinya sebagai keponakannya (anak dari adiknya itu) meninggal di RSUD Aceh Singkil dikarenakan tidak adanya petugas medis yang bisa memasang infus pada bayi. Petugas rumah sakit yang pandai memasang infus pada bayi dikatakannya saat itu sedang ke luar daerah.

Selaku pihak keluarga, dia merasa kecewa dengan kinerja dari pada petugas rumah sakit. Bahkan, dalam postingannya Herawati Hera merasa heran dengan RSUD yang hanya memiliki dua orang pemasang infus untuk bayi.

“Tolong unk petinggi Aceh singkil supaya d tambah ahli pemasangan infus unk bagi d rsud ini, klo lah ahli pemasangan infus tdk d tempat uda mati lah bayi2 yg ada d Rsud ini,” begitu bunyi sebagian kalimat yang ditulis Herawati Hera dalam postingannya, Sabtu, 30 Desember 2017.

Hingga Rabu, 3 Januari 2018, postingan tersebut telah mendapat lebih dari 4.711 ribu respons like dengan 2.221 komentar serta 1.415 kali dibagikan.

Berbagai tanggapan disampaikan warga net terhadap postingan tersebut. Sebagian menyampaikan turut berbelangsukawa dan ikut berduka dan memberi saran. Selain itu, ada juga warga net yang mengaku sebagai seorang perawat meminta maaf atas kejadian tersebut.

“Menanggapi..

Sebelumnya sy atas nm Pribadi & Mewakili Seluruh Perawat di Indonesia turut Belasungkawa atas Meninggalnya Bayi Tsb.

Terkait dgn Pemasangan Infus Seharusnya itu tanggung Jawab Dokter, karena Dokter Lah yg memiliki Wewenang utk pemasangan Infus, pada Pasien dgn Kondisi apa pun & umur berapa pun, namun di Lapangan memang sebagian Besar bahkan Menurut sy “Mungkin” 90% di lakukan Oleh Perawat.

Jika Pada kasus tersebut Perawat di salahkan sy rasa itu kurang tepat, Kenapa BUKAN Dokternya yg memasang Infus tsb, kenapa HARUS menunggu Perawat? Apa lagi Dokter Spesialis Anak..

Mungkin lebih di spesifikkan lagi Tugas & Wewenang antara Dokter dengan Perawat, jgn sampe ketika ada Kesalahan Perawat selalu menjadi Kambing Hitam..

Sy rasa ini perlu di luruskan, jgn sampai kami (Perawat) yg Stand By 24 Jam dampingi pasien selalu menjadi Korban Salah Tafsir dari Masyarakat..tks,” tulis warga net dengan akun bernama Gunawan.

Adapun tulisan yang diposting Herawati Hera beserta dilampirkannya foto adiknya yang menggendong bayi yang sudah meninggal, yakni sebagai berikut:

 “Kami sekeluarga sangat kecewa bayi lahir secara sc kamis jam 15.30 keluar dari kamar operasi bayi dalam keadaan menangis dng bb 2,6 langsung d bawak k ruang anak, hari jumat jam 9 pagi dr spesialis ank visite dan manyarankan unk pemasangan infus agar bisa di masukan antibiotika tapi Apa???

Infus tak terpasang juga dng alasan yg pande ambil infus bayi lg otw ke medan setelah keluarga marah2 infus baru terpasang jam 4 sore sementara keadaan bayi sudah memburuk jam 7 mlm dr spesialis nya dtg dan keadaan bayi uda memburuk jam 8 mlm sibayi di nyatakan meninggal dan dr spesialis nya mengatakan maaf ini mmg kelalaian kami pihak Rs yg saya kecewa pertanyaanya

Apakah Rsud sebesar ini cuman punya ahli pemasangan infus unk bayi Cuma 2 org??? Tolong unk petinggi Aceh singkil supaya di tambah ahli pemasangan infus unk bagi d rsud ini, klo lah ahli pemasangan infus tdk d tempat uda mati lah bayi2 yg ada di Rsud ini.”[]