29.8 C
Banda Aceh
Selasa, September 27, 2022

Ramadan dan Semangat Toleransi

Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim*

Debat soal penentuan awal Ramadan sepertinya telah menjadi sesuatu yang harus di negeri ini saat jelang masuknya bulan puasa. Setidaknya ada dua kubu besar yang terus berseteru soal penetuan awal Ramadan, yaitu Muhammadiyah dengan teori wujudul hilal dan pemerintah yang mengadopsi teori imkan rukyah. Dua perspektif yang secara ilmiah sangat sulit untuk ketemu, jika tidak dikatakan mustahil. Karena yang satu mencukupkan pada telah lahirnya anak bulan meskipun belum bisa diamati oleh mata, sementara pihak kedua mensyaratkan anak bulan tersebut harus bisa dilihat.

Pendapat pertama mengatakan, jika anak bulan sudah berada di atas ufuk pada saat matahari terbenam, maka keesokan harinya menjadi hari pertama bulan baru, walaupun tinggi anak bulan saat itu hanya 0.1 derajat. Berbeda dengan pendapat yang dianut oleh pemerintah, keberadaan anak bulan di atas ufuk minimal harus 3 derajat, baru sah dijadikan dasar pergantian bulan baru. Menurut mereka, ini ketinggian rata-rata yang bisa diamati. Tinggi anak bulan 3 derajat di atas ufuk merupakan kriteria putusan MABIMS (Menteri Agama Brunai, Indonesia, Malaysia, Singapura) yang kini menjadi pegangan NU.

Keinginan Muhammadiyah agar umat Islam bersatu menggunakan metode hisab dalam penentuan awal bulan Qamariyah tetutama untuk bulan-bulan penting (Ramadan, Syawwal dan Zulhijjah), sepertinya belum mebuahkan hasil. Memang tidak ada yang memungkiri akurasi metode hisab, bahkan oleh Imam Subki salah seorang pentolan dan pembesar mazhab Syafi’i sempat mengatakan bahwa hisab itu bersifat pasti (qath’i). Sehingga jika penglihatan mata bertentangan dengan hisab, maka kesaksian orang melihat harus ditolak. Penglihatan mata itu menurutnya dhanni (tidak pasti) sementara hisab bersifat pasti (qath’i). Namun begitu sampai hari ini umat Islam belum bisa bersatu soal metode penentuan hilal Ramadan. Tidak semua mereka menyetujui hisab hakiki wujudul hilal anutan Muhammadiyah.

Perbedaan dua metode, wujudul hilal dan imkan rukyah pada dasarnya berakar dari pemahaman terhadap hadis nabi soal perintah melihat anak bulan. Dalam salah satu hadisnya nabi bersabda, “berpuasalah dengan melihat anak bulan, dan berhari rayalah dengan melihat anak bulan, jika tidak bisa dilihat (karena terhalang mendung dan lainnya) maka sempurkan hitungan (Sya’ban)”, (HR: Muslim).

Muhammadiyah berpandangan bahwa perintah melihat pada hadis tersebut bukanlah tujuan, tetapi lebih kepada cara untuk memastikan ada tidaknya anak bulan. Menurut mereka kewajiban melihat hanya berlaku bagi masyarakat yang tidak mampu melakukan hisab (perhitungan matematis), seperti halnya masyarakat nabi saat dulu masih berstatus ummi, sebagaimana diceritakan dalam sebuah hadis, “kita adalah umat yang ummi, tidak bisa menulis dan tidak bisa menghitung, jumlah bilangan bulan itu begini dan begini (sekali tiga puluh hari, sekali dua puluh sembilan)”, (HR: Bukhari).

Argumen di atas tidak sepenuhnya disetujui oleh umat Islam lainnya, kelompok ini meyakini bahwa melihat itu sendiri menjadi tujuan, bahkan syarat sahnya beribadah puasa. Jadi tidak boleh tidak melihat. Karena memang secara literal nabi memerintahkan untuk melihat. Oleh sebab itu konsekwensinya jika anak bulan tidak atau belum terlihat otomatis mereka akan menggenapkan bulan berjalan menjadi 30 hari.

NU misalnya salah satu Ormas yang masuk dalam kelompok ini bersikukuh bahwa sejak dari masa nabi, era sahabat dan imam mujtahid yang empat semuanya mengamalkan metode rukyah. Bagi mereka perintah melihat sebagaimana tertera dalam Alquran dan hadis semuanya bersifat ibadah atau dikenal dengan istilah ta’abbudi. Artinya melihat di sini dimaknai apa adanya, tidak boleh dilogikakan (ta’aqquli) dengan cara-cara lainnya.

Kata Hati yang Berbeda

Perseteruan di atas sebenarnya bagian dari peristiwa klasik yang dulu pernah terjadi di masa nabi, dan tampaknya akan terus terjadi hingga akhir zaman. Ini merupakan perbedaan kecenderungan seseorang dalam memahami teks agama (Alquran atau hadis) serta mengamalknanya. Perbedaan antara kaum tradisionalis dan modernis. Ada yang suka dengan aliran pemikiran zahiri (literalis normatif), ada pula yang memilih cara pandang maqasidi (kontekstualis historis). Untuk model yang pertama (tradisionalis), biasanya mencukupkan pada lahiriah teks, berbeda dengan yang satunya (modernis), mereka tidak menerima hanya sebatas makna lahiriah teks, tatapi berupaya masuk mendalami maksud teks.

Inilah alasannya mengapa sahabat sempat berselisih dan berbeda pandangan dalam menerapkan hadis nabi; “jangalah kalian shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah”, (HR: Bukahri). Sebagian mereka tetap shalat Ashar di jalan, sebagian lainnya menunggu hingga sampai di perkampungan Bani Quraizhah. Bagi yang shalat di perjalanan, mereka adalah orang-orang yang mencoba mendalami maksud hadis. Menurut mereka, maksud nabi melarang shalat di perjalanan bukan tujuan dari hadis ini, tetapi itu lebih kepada agar para sahabat mempercepat gerak dan langkah, sehingga saat Ashar tiba mereka sudah berada di perkampungan Bani Quraizhah.

Soal kecenderungan ini menjadi bagian tersulit untuk membuat umat Islam bisa bersatu dalam penentuan awal Ramadan. Itulah barangkali mengapa umat ini dari dulu berselisih dalam sejumlah masalah dan isu. Karena secara psikologis, perdebatan itu pada akhirnya merujuk pada perbedaan kehendak dan kata hati yang tidak seorangpun bisa mengintervensi, apalagi memaksa. Jadi bukan hanya sebatas perang logika dan argumentasi ilmiah. Namun bukan berarti dalam semua hal umat Islam berselisih, di sana ada ruang di mana mereka sependapat dan satu kata (ijma’).

Persamaan dan perbedaan adalah kodrat yang menghiasi kehidupan manusia. Mereka adalah sama, namun pada masa yang sama mereka berbeda. Sama-sama manusia, tapi beda bahasa, beda warna kulit dan rupa, serta beda keyakinan dan agama. Sama-sama Islam, tetapi berbeda mazhab dan cara pandang dalam beragama. Persamaan dan perbedaan adalah fitrah, di mana pada satu sisi dan untuk hal-hal tertentu manusia bisa sama, hidup dengan satu pemahaman dan satu keyakinan, namun di sisi lain, mereka tidak bisa terus menerus sama apalagi bersama-sama, dari situ lahirlah perbedaan dan perselisihan.

Sejatinya perselisihan dan perbedaan pendapat merupakan rahmat agar manusia bisa hidup secara seimbang, dinamis dan proporsional. Begitulah agaknya maksud dari ungkapan “ikhtilaf para imam (mazhab) menjadi rahmat bagi umat”. Karena pada akhirnya perbedaan pandangan bukan hanya soal hukum, tetapi menjadi tempat di mana seseorang menemukan ketenangan batinnya dan kenyamanan raganya dalam menjalankan ritual agama, bahkan dalam menjalani hidup secara keseluruhan. Inilah yang kita maksud dengan “kecenderungan hati”. Ketenangan dan kenyamanan akan hadir ketika adanya satu kata antara hati dan perbuatan tubuh. Itulah agaknya rahasia mengapa Allah berfirman, “tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)”, (al-Baqarah: 256). Hati memiliki peran besar dan sangat dominan dalam menjalankan hidup dan beragama. Karena itu perbedaan menjadi anugerah yang harus dikelola dengan baik dan benar.

Dalam bahasa lain, perbedaan dan keanekaragaman merupakan sunnatullah (hukum alam) yang tidak bisa dihindari dan tak akan berubah. Keharusan menerima perbedaan sama halnya dengan keharusan menerima kenyataan bahwa Allah itu esa dan tunggal. Allah sebagai Tuhan tidak boleh sama dengan ciptaan-Nya sebagaimana ditegaskan dalam satu ayat, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat”, (Syura: 11).

Dalam ayat lain disebutkan, “Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui”, (Yasin: 36). Secara sederhana ayat ini menjelaskan bahwa hanya Allah yang tunggal. Adapun makhluk-Nya semua diciptakan berpasang-pasangan yang pada gilirannya meniscayakan perbedaan di antara mereka, baik pada tataran fisik maupun psikis (jiwa dan pikiran). Walaupun pada satu sisi mereka adalah sama, yaitu sama-sama makhluk Tuhan.

Beberapa Catatan

Pernyataan di atas meniscayakan bahwa bukanlah suatu yang buruk ketika setiap tahun umat Islam berbeda awal berpuasa, juga berbeda waktu berhari raya. Justru menjadi suatu yang patut dibanggakan saat berbeda mereka tetap bisa saling memahami, saling menghargai dan saling bersilaturahmi. Pun begitu juga tidak salah jika ada upaya dari pihak-pihak tertentu agar umat Islam bisa bersatu soal penentuan awal Ramadan dan hari raya. Namun jangan merasa terbebani jika sampai sekarang umat Islam masih belum bisa bersatu. Toh ini bukanlah awal dan satu-satunya poin di mana kaum muslimin berbeda.

Jumlah rakaat tarawih antara delapan dan dua puluh, shalat malam antara pola dua-dua rakaat dan empat rakaat sekali salam, juga witir apakah tiga rakaat sekali salam atau dua kali salam semuanya contoh di mana ada hal-hal di mana umat ini tidak bisa bersatu, tetapi mereka bisa saling memahami dan menghargai.

Hal lainnya yang perlu dipertegas adalah, perbedaan sebagaimana bisa menjadi rahmat, ternyata juga dapat berujung petaka jika tidak disikapi dengan benar. Inilah agaknya mengapa perbedaan dalam agama dinamakan ikhtilaf (positif), karena pada akhirnya akan berubah menjadi khilaf (negatif) sekiranya tidak dimengerti dan dipahami dengan baik oleh umat Islam. Salah satu penyebab kisruh dalam masyarakat soal perbedaan pendapat adalah karena semua orang merasa berhak untuk berpendapat. Semua orang merasa ahli dalam semua hal.

Nabi dalam sebuah hadis pernah menyebutkan tentang keadaan umat di akhir zaman, di mana akan muncul orang-orang yang dikenal dengan ruwaibizah, yaitu orang bodoh tapi suka berbicara tentang urusan orang banyak. Artinya dia berpendapat pada hal yang bukan bidangnya. Dalam hadis lain diilustrasikan dengan orang bodoh tapi gemar berfatwa, nabi mengatakan, “sudahlah sesat, menyesatkan orang lain pula”, (HR: Bukhari Muslim).

Kita diharuskan untuk menghargai dan bersikap toleran jika memang perbedaan itu lahir dan muncul dari orang atau kelompok yang ahli dan punya otoritas di bidangnya. Jika tidak, di sinilah peran pemerintah melalui lembaga atau badan tertentu untuk menertibkannya. Wallahua’lam.

* Penulis adalah Dosen dan Dekan Fakultas Syariah IAIN Lhokseumawe.

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

BERITA POPULER

Terbaru

Turnamen Wali Kota CUP II Dimulai, 40 Klub Jajal Lapangan Baru Pegayo Gunakan Rumput Standar FIFA

SUBULUSSALAM - Sebanyak 40 klub desa mengikuti turnamen sepak bola Wali Kota Subulussalam CUP...

Jabatan Dirut Perumda Tirta Pase Berakhir Bulan Depan, Pemkab Aceh Utara Sebut Dua Kemungkinan

LHOKSUKON – Pemerintah Kabupaten Aceh Utara sampai saat ini belum memulai proses seleksi calon...

Angka Stunting Gayo Lues Tertinggi di Aceh, Kejari Ajak Camat dan Pengulu Lakukan Ini

BLANGKEJEREN - Kejaksaan Negeri Gayo Lues memberikan bantuan kepada seratusan warga dalam kegiatan Adhyaksa...

Hari Ini, Didiskusikan Seni Budaya dalam Pandangan Islam

BANDA ACEH - Para tokoh dari semua stakeholder akan mendiskusikan terhadap pandangan seni budaya...

Forhati Aceh Gelar Muswil, Tetapkan Program Kerja, dan Pilih Presidium Baru

BANDA ACEH - Pengurus Wilayah Forum Alumni HMI-Wati (Forhati) Aceh menggelar Musyawarah Wilayah (Muswil)...

Pererat Silaturahmi, Permasa Kepri Gelar Turnamen Mini Soccer

Demi menjaga ukhuwah dan tali silaturrahim, Perkumpulan Masyarakat Aceh (Permasa) Kepulauan Riau menggelar turnamen...

Dirut PT Bina Usaha Diangkat Kembali Sampai 2027, Begini Reaksi Ketua Komisi III DPRK

LHOKSUKON – Diduga secara diam-diam Bupati Aceh Utara periode 2017-2022, Muhammad Thaib, menjelang berakhir...

Mahakarya Raspadori Seret Inggris ke Degradasi

Oleh Yulia Erni* Malang benar nasib Inggris dalam pertarungan ke-5 di Liga A Grup 3...

Peduli Pendidikan, Relawan HMI Mengajar di SMA Pedalaman Aceh Utara

LHOKSUKON - Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Lhokseumawe-Aceh Utara telah melaksanakan kegiatan pengabdian "HMI...

Rekanan Sebut Rehabilitasi Bendung Irigasi Krueng Pase Baru 35 Persen

ACEH UTARA - Progres proyek rehabilitasi Bendung Irigasi Krueng Pase di Gampong Pulo Blang,...

Putra Aceh Pimpin Immapsi, Pelantikan di Universitas Negeri Malang

MALANG - Putra Aceh, Athailah Askandari, terpilih sebagai Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Manajemen Pendidikan/Administrasi...

Pegiat Sejarah Minta Situs Makam Ulama Kesultanan Aceh Darussalam di Lamdingin Tetap Dilindungi Pada Posisinya

BANDA ACEH - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh mengadakan acara rapat yang...

Ratusan Pendaftar Calon Panwascam di Aceh Utara

ACEH UTARA - Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) Aceh Utara menyebutkan pendaftar calon pengawas pemilu...

Pemerintah Aceh Fasilitasi Pemulangan Dua Pemuda

JAKARTA - Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) membantu memfasilitasi pemulangan dua pemuda Aceh dari...

39 Warga Lhokseumawe Terjangkit DBD, Begini Antisipasinya

LHOKSEUMAWE - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Lhokseumawe mencatat sebanyak 39 warga di daerah ini...

HMI dan Dinkes Buka Pelayanan Kesehatan Gratis di Pedalaman Aceh Utara

LHOKSEUMAWE - Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Lhokseumawe dan Aceh Utara melaksanakan kegiatan pengabdian yang...

Kadis DLH: Sampah di Lhokseumawe 108 Ribu Kg Per Hari, Butuh Depo untuk Pengolahan

LHOKSEUMAWE - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Lhokseumawe mencatat produksi sampah di daerah ini...

AHM Luncurkan Supersport New CBR250RR Berkarakter Big Bike

Jakarta – PT Astra Honda Motor (AHM) meluncurkan New CBR250RR dengan mengadopsi karakter motor...

TA Khalid dan Pj Bupati Aceh Utara Temui Dirjen PKTL KLHK Wujudkan Program TORA

JAKARTA - Penjabat Bupati Aceh Utara, Azwardi, bersama Anggota Komisi IV DPR RI, H....

Program Studi Desain Komunikasi Visual ISBI Aceh Kunjungi Dix’s Studio

Program Studi Desain Komunikasi Visual Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh kembali menggelar kuliah...