* Helmi Abu Bakar El-Langkawi
Realita saat ini menggambaran kenakalan dan keburukan moral pemuda, sebuah fenomena yang harus mendapatkan perhatian penuh dari semua pihak.
Ekses teknologi canggih bisa membuat komunikasi dan akses data semakin mudah didapat sehingga jarak dan waktu kini tidak menjadi hambatan lagi dan para pemuda pun semakin bebas berekspresi.
Maju dan mundurnya sebuah negara berada di tangan pemuda. Seperti kata Syekh Khudhairi Beik, jika ingin menlihat berhasilnya sebuah negara, lihatlah bagaimana pemudanya. Apabila pemuda baik, baiklah negara tersebut juga sebaliknya.
Pemuda merupakan aset paling berharga yang dimiliki suatu bangsa, termasuk Indonesia. Di luar sana para musuh muslim telah melirik potensi berharga tersebut. Mereka berusaha dan berupaya merusak jati diri pemuda, khususnya moral dan spritual generasi muda bangsa.
Sebagaimana yang kita saksikan, hingga saat ini salah satu upaya mereka adalah dengan menggunakan 4 F, yaitu food, fashion, fun, dan film. Eksesnya mayoritas dari elemen pemuda Indonesia terjerumus ke dalam jebakan tersebut, bahkan memuja-mujanya. Nilai dan budaya yang telah dibawa oleh Rasulullah saw. terlupakan begitu saja.
Fenomena ini tidak boleh dibiarkan tanpa solusi dan peran aktif semua lapisan masyarakat, terutama sekali sang pemuda sendiri.
Hal yang paling prinsipil yang harus dimiliki oleh generasi penerus adalah menuntut ilmu. Tanpa ilmu tidak mungkin sebuah perubahan terwujud.
Untuk membangun umat dan mengupayakan kembali kejayaan Islam, pemuda muslimlah yang harus mengambil peranan tersebut. Berdakwah dan mengajarkan adalah zakatnya ilmu. Maka, wajib bagi orang yang menuntut ilmu agama, termasuk pemuda, untuk menyampaikan kepada umat yang lainnya, dan memberikan saham agar dapat memberikan hidayah orang kafir masuk Islam serta memberikan hidayah orang yang berbuat kemaksiatan menuju istiqamah (dalam kebaikan beragama).
Peran aktif pemuda sebagai kekuatan moral diwujudkan dengan menumbuhkembangkan aspek etik dan moralitas dalam bertindak pada setiap dimensi kehidupan kepemudaan, memperkuat iman dan takwa serta ketahanan mental-spiritual, dan meningkatkan kesadaran hukum.
Sebagai kontrol sosial diwujudkan dengan memperkuat wawasan kebangsaan, membangkitkan kesadaran atas tanggung jawab, hak, dan kewajiban sebagai warga negara, membangkitkan sikap kritis terhadap lingkungan dan penegakan hukum, meningkatkan partisipasi dalam perumusan kebijakan publik, menjamin transparansi dan akuntabilitas publik, dan memberikan kemudahan akses informasi.
Rasulullah saw. telah memperingatkan umatnya tentang sangat pentingnya masa muda itu. Seseorang tidak akan dapat mencicipi hidup yang sempurna di masa tua tanpa mempergunakan dan memanfaatkan masa muda seoptimal dan sebaik mungkin. Bahkan bukan hanya di masa tua saja, melainkan juga untuk meneruskan kehidupan di negeri yang tiada negeri lain, yakni di akhirat kelak.
Maka Rasulullah saw. berpesan kepada kita dengan salah satu hadis beliau yang artinya, Tidak tergelincir dua kaki seorang hamba pada hari kiamat, sampai Allah menanyakan empat hal: umurnya, untuk apa selama hidupnya dihabiskan; masa mudanya, bagaimana dia menggunakannya; hartanya, dari mana dia mendapatkan dan untuk apa saja dihabiskan; dan ilmunya, apakah dia amalkan atau tidak. (HR Tirmidzi). Rasulullah juga mewanti kita sebgai umatnya dengan bersabda, Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara, pertama waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu (HR. Al-Hakim).
Dalam lintasan sejarah Islam, banyak pemuda yang dapat dijadikan teladan yang baik dan referensi kehidupan, di antaranya, Umar bin al Khathab (26 tahun), Abdullah bin al Jahsy (25 tahun), Jafar bin Abi Thalib (18 tahun), Qudaamah bin Abi Mazhun (19 tahun), Said bin Zaid dan Shuhaib Ar Rumi berusia (di bawah 20 tahun), Aamir bin Fahirah (23 tahun), Mushab bin Umair dan Al Miqdad bin al Aswad (24 tahun), dan masih banyak lagi pemuda dari kalangan sahabat yang berkontribusi besar dalam kemajuan Islam.
Seorang pemuda harus, bahkan wajib, memiliki dedikasi tinggi dalam pengembaraan pengetahuan dan rasa ingin mengetahui yang lebih besar, dan harus menjadi pelopor sense of curiosity (rasa keingintahuan yang tinggi) dalam masyarakat atau dalam pepatah Arab dikenal dengan slogan himmatul rizal tasqutu jibal (semangat seorang pemuda bisa menaklukan sebuah pegunungan).
Dalam menumbuhkan sikap sense of curiosity akan melahirkan iqrak (membaca) dengan talim yang dikreasikan dengan motivasi instrik. Membaca itu dikonotasikan sebagai talim (belajar). Iqrak itu pintu gerbang menuju ke samudera ilmu pengetahuan. Hal ini dijelaskan dalam Al-Quran yang berbunyi: Bacalah dengan menyebut nama Tuhan yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-Alaq:1-5).
Syekh al-Maraghi menjelaskan dalam tafsirnya bahwa Allah memerintahkan manusia supaya dapat membaca ilmu tersebut dan harus diulang-ulang. Tanpa mengulang-ulang dan membiasakan membaca tidak akan memberi kesan dan meresapnya ilmu dalam jiwa.
Berulang-ulang perintah Allah swt. dalam pengertian sama dengan berulang-ulang membaca. Dengan demikian membaca itu merupakan salah satu bakat dari Rasulullah saw.
Dijelaskan dalam tafsir lainnya seperti Al-Azhar bahwa nabi bukan orang pandai, beliau adalah ummi yang boleh dikatakan buta huruf, Namun, Jibril mendesaknya untuk membaca sampai tiga kali meskipun Rasulullah tidak dapat menulis, pada akhirnya walaupun didesak tiga kali Rasulullah juga dapat menghafalnya.
Alquran sendiri telah menggambarkan tipe pemuda sense of curiosity tersebut, sebagaimana firman Allah swt. yang berbunyi: Dan bersama dengan dia masuk pula ke dalam penjara dua orang pemuda. Berkatalah salah seorang di antara keduanya: Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku memeras anggur. Dan yang lainnya berkata: Sesungguhnya aku bermimpi, bahwa aku membawa roti di atas kepalaku, sebagiannya dimakan burung.Berikanlah kepada kami tabirnya; sesungguhnya kami memandang kamu termasuk orang-orang yang pandai (menabirkan mimpi). (QS. Yusuf [12]: 36).
Interpretasi dalam ayat ini menunjukkan tentang jati diri seorang pemuda yang memiliki sense of curiosity. Makanya dengan memiliki sifat tersebut, seorang pemuda itu cenderung untuk banyak mencoba dan mempraktikkan hal-hal yang berinovasi baru, dan tentu saja yang bernilai positif.
Realita saat ini menjawab hal demikian, di kala dalam komunitas masyarakat sedang tren dengan sebuah hal baru, misalnya model pakaian, bergaya, bertingkah laku dan lainnya, pemuda pun mengikuti, mempraktikkannya, dan memakai pakaian itu.
Biarpun demikian yang perlu diperhatikan secara saksama, sense of curiosity penulis maksudkan di sini adalah rasa keingintahuan yang positif dan inovatif, bukan sebaliknya, sehingga demikian sang pemuda akan menimbulkan hasrat untuk mencari, menguasai, dan mentransferkan manfaatnya kepada masyarakat lainnya serta lingkungan sekitar kita.
Pemuda yang hidup di era globalisasi seperti saat ini harus mampu menjadikan diri pribadi yang optimis, istiqamah terhadap perkataan dan perbuatan, teguh dalam pendirian, juga jangan cepat menyerah dalam berjihad.
Bukan sosok al-fata yang sejati manakala masih tergiur dengan indahnya fatamorgana dunia dan masih lemah jiwa dan keimanan dalam menghadapi musuh paling utama, yakni hawa nafsu. Terlebih hidup di akhir zaman ini yang penuh dengan berbagai fitnah dan kecanggihan teknologi, menjadi ujian terberat plus berbagai coraknya yang harus dijalani oleh pemuda.
Saat ini beraneka ragam sarana alat komunikasi canggih membuat para generasi muda semakin leluasa dan bebas mengakses berbagai informasi dan data, serta lainnya seperti komputer, handphone, dan internet.
Beranjak dari media tersebut berbagai corak budaya dan hiburan di berbagai belahan dunia dapat mereka nikmati. Di sini tanpa adanya filter dan keimanan yang kuat, pada akhirnya fenomena tersebut akan mempengaruhi karakter dan pola pikir mereka secara keseluruhan, serta akan diaktualisasikan dalam kehidupan mereka.
Pemandangan seperti ini harus ada respons dan tidak lanjutnya serta tidak dapat dibiarkan begitu saja. Kalangan dan elemen masyarakat, terutama para tokoh, orang tua, dan lapisan masyarakat lainnya harus bisa memahami dengan problematika yang dialami oleh pemuda. Mereka di usia tersebut merupakan masa pencarian jati diri. Dari sini harus ada metode pendekatan interpersonal dan intrapersonal yang tepat dan bersahabat. Mereka perlu arahan dan bimbingan yang bersifat konstruktif-familiar (membangun secara kekeluargaan) dan tidak dengan sistem otoritatif-dogmatif (memaksa dan kaku).
Metode dan konsep serta manajemen dakwah yang baik dan diharapkan mampu menjawab tantangan serta problemantika ini yang akan dilakoni oleh masyarakat pelaku dakwah untuk meraih gelar khairul ummah (the best people) seperti yang digambarkan dalam Alquran yang artinya, Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang maruf (kebaikan) dan mencegah dari yang mungkar (QS.Ali Imran [3]:110).
Di samping itu peran dari pemuda itu sendiri sangat menentukan dan kunci keberhasilan dan kesuksesan dalam membentuk generasi qurani yang diimpikan oleh segenap lapisan masyarakat. Sosok generasi penerus bangsa qurani memiliki andil yang besar dalam membawa perubahan dan pelopor dalam segala lini kehidupan, terutama perubahan akhlak dan moral para pemuda dan masyarakat Indonesia pada umumnya.
Dengan akhlakul karimah yang berpedoman pada Alquran, generasi qurani akan mengerti dan memahami bagaimana menyelesaikan problematika dan fenomena yang dialami oleh generasi muda lainnya.
Walhasil, pembangunan spiritual dan pola pikir (mindset) generasi muda lebih diutamakan dari pembangunan sarana dan prasarana seperti jembatan, sektor industri, gedung pencakar langit. Sebuah pembangunan sarana dan prasarana negara yang maju dan modern tidak berharga dan bernilai dibandingkan dengan hancur dan sirnanya pembangunan moral dan spiritual para generasi penerus bangsa.
Semoga generasi muda Indonesia mampu menasbihkan diri menjadi sosok pemuda qurani, menjadikan para syuhada dan pejuang bangsa yang telah beristirahat di alam sana tersenyum indah atas perjuangan mereka dulu juga diharapkan dengan peran dan andil generasi qurani dalam mewujudkan persada ini menjadi sebuah negara impian yang bernama Baldatun Tayyibatun Warabbul Ghafur !!! Amin ya rabbil alamin
*Helmi Abu Bakar El-Langkawi adalah staf pengajar Dayah Mudi Mesra Samalanga dan IAI Al-Aziziyah Samalanga.







