Karya: Moehib Aifa*

Rindu yang Menyentuh Sukma

Aku yang meringkuk dalam kesepian
Jauh darimu orang yang terkasih,
Terpisah oleh pulau dan samudera hindia
Disini aku menantimu dalam temaram senja

Angin senja pun berbisik manja padaku
Duhai pemilik hati yang setia,
Janganlah bermuram durja dalam balutan rindu
Hapuslah rinai-rinai air matamu

Jika namamu dan namanya
Sudah terpatri di lauhul mahfudz
Maka tak akan ada jurang pemisah
Selain kematian yang datang tiba-tiba
*****

Berharap Menua Denganmu

Kala aku dan engkau sudah tua
Semak belukar di pipiku akan memutih
Wajahmu akan mengeriput dan menua
Berkisah tentang pahit manis cinta kita

Kemenunggu datangnya rinai hujan
Kuingin tempias air hujan mengenai wajahmu
Berhayal melihat rambut putihmu diterpa angin senja
Kita kembali berkisah saat pertama kalinya bertemu

Engkau boleh terlihat tua dimata mereka
Namun bagiku engkau tetap terlihat muda
Karena piringan hitam memoriku
Sudah terlanjur merekam wajah cantikmu
*****

Bila Aku Sudah Tiada

Ketika aku sudah tiada
Seperti apa engkau menangisi kepergianku
Saat aku menjadi kenangan bagimu
Apa yang akan engkau lakukan saat merindukanku

Ketika tulangku sudah memutih berbalut tanah
Masih engkau datang sekedar menziarahi kuburku?
Atau engkau telah menciptakan kenangan baru
Bersama dengan lelaki lain yang mencintaimu

Banda Aceh, 29 Januari 2021.[]

*Perawat RSJ Aceh, Menetap di Banda Aceh.

Baca Juga: Vaksinasi Covid-19 dan Era Baru Ekonomi Rakyat Aceh

thayeblohangen.wordpress.com

Pasangan tua, ilustrasi. @unplash