Oleh: Syukri Isa Bluka Teubai

Hari Kamis di awal tahun berbulan Masehi, Rabiul awal dalam bulan Hijriah tahun ini. Pukul lima pagi lewat sepeuluh menit, ‘Abdon terbangun dari tidur malamnya, “Alhamdulillah, Allah masih memanjangkan umurku di kesempatan waktu ini.” ‘Abdon membatin sendiri setelah bangun dari rehat itu.

Ia berwudhuk dan melakukan shalat subuh, di ketika fajar hampir menyingsing pagi. Setelah semua ia lakukan. Sekarang bersiap-siap untuk ke kebun. Di kebun itu berbagai macam tanaman ia tanami. Dua hektar tanah lapang itu adalah hasil dari kerja kerasnya di rantau orang dulu.

Di tempat berilalang tipis itu ditanaminya lima puluh satu batang pohon pepaya, lima puluh tiga batang pohon pisang, payur-sayuran, pacang panjang, pacang tanah semuanya tumbuh subur. Dibantu oleh dua ponaannya Rahman dan Bakti.

Meraka itu anak-anak dari kakak dan adik perempuannya ‘Abdon, sedangkan anaknya sendiri baru meranjak remaja. Yang pertama masih pada Sekolah Dasar, duduk di kelas enam. Yang kedua kelas satu dan yang ketiga baru berumur satu tahun tujuh bulan.

Di samping Dayah megah yang sudah terkenal ke berbagai belahan dunia, di situlah rumahnya ‘Abdon. Ia sangat senang dan bahagia bisa membeli sepetak tanah berdekatan dengan tempat mulia itu, kerana suara azan akan selalu bersenandung di setiap sa’at untuk mengingatkan ianya pada janji pribadi kepada Tuhan.

Mengingat akanpada waktu-waktu untuk bersimpuh kepada Ilahi. Dan ia sangat bersimpati, sering ikut mengaji di malam-malam tertentu di tempat itu. Kadang-kadang ia juga meminta diri untuk mengumandangkan azan memanggil sekalian pecinta Rabbi.

Pukul tujuh pagi di hari Kamis itu, Rahman dan Bakti sudah berada di kebun.

“Untuk apa di sini, kenapa tidak sekolah ini hari?” Sang Bayor (Tuan tanah) itu menanyai dan duduk di tengah-tengah mereka. “Kami tidak mahu sekolah lagi, paman yang tidak pernah sekolah sahaja bisa untuk hidup senang begini!” Rahman yang menjawab itu.

“Nice,” kilah paman itu. “Biar kalian tahu, tidak semudah yang dibayangkan untuk menghidupi hidup ini. Ini zaman sudah sangat-sangat berbeda jauh dengan masa-masaku dahulu. Jangan sok bodoh kalian ini,” Pakwa -Paman- mereka itu sangat geram dengan jawaban dan pola pikir jahil kemenakannya itu.

“Sekarang ini semuanya serba modern, orang-orang telah membuat hayalan-hayalan menjadi ianya akan kenyataan. Segala sesuatu membutuhkan ilmu, kalian masih sangat-sangat muda, masih sangat jauh perjalan yang wajib ditempuh, masih sangat banyak yang perlu dilakukan untuk Negeri ini/Bangsa ini. Apalagi untuk diri sendiri,” Bayor itu sangat geram rupanya.

“Aku sangat-sangat menyesal sekarang ini, jangan lihat mobilku, jangan lihat harta-hartaku sekarang. Itu tidak ada apa-apanya, sementara dan kapan Tuhan menghendaki. Dalam sekejab mata akan hilang. Tapi ilmu, ilmu tidak bisa hilang dengan mudah kecuali mati yang bisa menghilangkannya,” Pakwa itu terus berkata-kata.

“Aku sengaja membeli tanah dan membangun rumah begitu dekat dengan dayah, biar sesekali waktu bisa belajar ke tempat itu. Aku menyesal hari ini. Kakek kalian memarahi, memukuli, dan membiarkan aku lapar berhari-hari. Kerana sabab Aku tidak mahu disekolahkan/belajar di waktu itu,” Si pemilik sesal itu terus berkata-kata.

“Sampai pada sa’at kakekmu meninggal, aku belum juga tahu diri. Tapi Alhamdulillah, bersyukur kepada Allah. Di umur dan usia kalian ini sudah bisa mengaji, menjadi imam di meunasah, balai pengajian. Sudah bisa membaca do’a amin (do’a sesudah shalat), dan mampu menjadi imam shalat mayit. Alhamdulillah,” Bayor itu terdiam, air-air di matanya sebutir demi sebutir mengaliri sampai ke pipi putih bersih itu.

Rahman sudah kelas dua di sekolah Madrasah Aliah (MA), dan Bakti kelas tiga (MA). Di masa sekarang tidak heran lagi yang seumuran mereka sudah bisa menjadi imam shalat. Oleh kerana perkembangan zaman, mutu pendidikan sudah berbeda jauh daripada dulu. Apalagi jikalau hak akan sepenuhnya diatur sendiri, sungguh penantian pada yang itu.  

Sangat-sangat geram ianya (Pakwa) itu, oleh sabab kemenakan mahu berhenti dari menuntut ilmu. Dan untuk pagi itu ia tidak jadi bekerja. Memang dua kemenakan ini yang membantunya di kebun, tapi di waktu sore hari dan di hari libur pada sekolah sahaja biasanya.

Pakwa itu sangat bersedih hati, ketika dahulu soerang teman mengingatinya. “Akanlah sangat bodoh dirimu wahai ‘Abdon. Ayahmu orang berada, tempat pendidikan, baik Salafi mahupun Negeri ada. Dan tempat itu di samping rumahmu. Orang lain, rela datang dari berbagai penjuru negeri. Ke rumahmu/di rumahmu mereka tinggal untuk menuntut ilmu.”

Oleh sabab kata-kata itulah ia sangat bersedih, ia tidak mahu lagi ada yang mengulang kata-kata yang sama pada kemenakan/keluarganya itu. Dan juga ia sangat menyengaja mengajak kakak dan adik-adiknya untuk membeli tanah di dekat dayah megah. Teringat akannya dahulu. Bahawa rumah orang tuanya berdekatan dengan sebuah tempat Pendidikan megah juga.

Dan, setelah ianya selesai menasehati kedua kemenakan itu, bergegas mereka bertiga pulang dan diantarnya akan kemenakan ke sekolah, walau sudah pukul setengah sembilan pada pagi yang penuh berkah nasehat tersebut. Sembari ia mengingati kedua anak “Bahawa untuk nanti malam kita tidak akan latihan silat. Hanya untuk nanti malam sahaja.”

Di jambo kupi itu ‘Abdon istirahat sejenak, setelah pulang dari mengantar kemenakannya ke tempat belajar.

“Assalamu’alaikum, Teungku,” Bang Jali, menyapa seorang lelaki berkopiah putih itu.

“Wa‘alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh,” lekaki itu menjawab akan salam Bang Jali.

“Kebetulan sekali saya menjumpai Teungku di sini, dan di kedai kopi bisa untuk bertutur dengan kata-kata kasar (memaki/mencarut) kerana ini bukan balai pengajian/meunasah apalagi di dalam masjid,” tutur Bang Jali.

“Nice, makanya saya, walaupun tidak sering-sering menyempatkan diri  ke kedai kopi. Biar siapa sahaja leluasa bercakap-cakap, di ketika ada yang ingin menanyakan sesuatu atau tentang masalah apapun itu,” Teungku itu terus berkata-kata.

“Kan tahu bagaimana perangai orang kita ini, bukan kasar. Malahan, saya pun lebih daripada itu. Hehehe. Tapi harus tahu, kapan dan lagi di mana. Dan perlu didengar baik-baik, yang begituan bukan berarti boleh. Dosa, tanggung sendiri,” Teungku itu terdiam sejenak.

Sekarang, mereka yang duduk di kedai itu berjumlah puluhan orang. Semua larut dalam canda, sambil membahas hal-hal (agama) yang belum difahami oleh diri. Waktu terus berlalu, namun setiap detik yang berlaku adalah banyak ilmu didapati mereka yang ada di kedai tersebut. Tiada sedikitpun waktu itu terbuang percuma. Walau ada juga yang berpendapat sebaliknya.

Begitulah hari-hari yang dijalani ‘Abdon, berkebun, mengajari/menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan padanya oleh siapa sahaja. Semua mereka akan dilayani, begitu juga dengan masyarakat/warga kampungnya sendiri, sangat segan/ramah terhadap dirinya.

Rumah yang terletak di samping dayah tersebut, tiada pernah sepi dari kunjungan baik santri yang ada di dayah itu atawapun siapa sahaja. Dan ia bukan pengajar di dayah tersebut, hanya tempat singgahnya sahaja yang sengaja dibangun berdekatan dengan tempat mulia itu.

“Duhai generasi muda, teruslah dikau berkarya/menuntut ilmu. Tiadalah harus musti di kampus sahaja, namun ilmu di dayah sungguh sangat mulia. Jangan sekali-kali mengambil sikap, apabila orang tua mengharuskanmu berjuang seperti mereka dahulu, sungguh akanpada yang itu membuatmu tiada akan mampu,” Bale/Pondok kecil yang ada di hadapan kanan rumahnya itu menjadi saksi atas kegundahan hati seorang ‘Abdon. Dan ia terus berkata-kata sendiri.

“Duhai generasi penerus bangsa, sangatlah berbeda masanya orang-orang tua terdahulu dengan masa/zaman sekarang ini. Mereka (orang tua) menceritakan pengalamannya (menjadi penjual garam, sayur-mayur, pegawai negeri sipil, tentara, pegawai kantoran dan semacamnya) kepada sekalianmu, bukan untuk dirimu harus menjadi itu. Akan tetapi mereka sadar dan sangat tahu, bahawa masamu adalah digenggaman tanganmu,” Abdon terus berkata-kata sendiri di atas balee itu.

“Duhai keturunan raja, berjayalah dikau atas segala sesuatu yang telah diusahakan itu. Dan, berbahagilah atas pencapaianmu,” lelaki berbadan tegap itupun terdiam, ianya masih terduduk sendiri di atas bale yang sengaja dibuatnya itu.

“Kemenakan-kemenakanku,” ‘Abdon masih terduduk sendiri, sesekali nampak ianya menyeruput kopi di gelas kaca itu. Kemilauan bintang semakin terang, begitu juga akanpada cahaya bulan yang kian bersahaja menemani malam.[]