MASYARAKAT Samalanga tidak memiliki pasukan-pasukan yang teratur. Paling banyak mereka berperang dalam rombongan puluhan atau ratusan orang. Akan tetapi demikianlah mereka itu berperang secara gerilya seolah-olah telah terlatih secara mahir. 

Mereka sudah terbiasa hidup bergrilya. Hal ini disebabkan karena kehidupannya pada saat itu dalam keadaan kacau balau. Sehingga setiap kampung menjadi kubu pertahanan dan setiap orang memakai senapan, kelewang dan rencong.

Operasi pertama ke Samalanga telah  gagal karena tindakan yang tergesa-gesa dan ketiadaan rencana peperangan. Ekspedisi itu diakhiri dengan penderitaan kematian yang banyak sekali. Kerugian yang dialami disebabkan oleh serangan berkelewang. Serangan-serangan sengit itu dilancarkan oleh pejuang-pejuang Samalanga dengan berbondong-bondong.

Tembakan-tembakan gencar terhadap Belanda diteruskan siang dan malam. Pejuang-pejuang fanatik yang berada dibarisan muka ingin masuk surga sebagai seorang syahid. Mereka  mengenakan pakaian putih dan sambil berteriak-teriak mereka menyerbu Belanda. 

Setelah ekspedisi pertama gagal.? pejuang-pejuang Samalanga tahu bahwa Belanda telah kalah untuk sementara. Tetapi mereka akan kembali lagi untuk mempertahankan gengsinya.

Efeknya memang benar dimana Van der Heijden sangat kesal dengan kekalahannya. Dia menyadari bahwa itu adalah gengsinya yang tercabik-cabik. Gengsi itu harus dipulihkan kembali dengan suatu kemenangan yang gilang gemilang. 

Kejengkelan Van der Heijden ditumpahkannya kepada masyarakat Samalanga.? sebagian besar kampung-kampung dimusnahkan.? Pohon-pohon.? Buah-buahan. ditebang.? Sawah-sawah tidak boleh dikerjakan lagi. Selain itu Van der Heijden membunuh penduduk. 

Hal itu membuat rasa sakit hati bagi penduduk Samalanga.  sehingga dalam hati mereka timbul dendam kesumat yang tidak mudah dapat dilenyapkan. Pertempuran demi pertempuran terus berlangsung, karena desakan Belanda, Teungku Nyak Muda Ali (Teungku Ramileé) kemudian hijrah ke hulu Krueng Bat?eIlie’ yang bernama Hutan Ramilee. 

Gampong Pulö menjadi incaran mereka. karena tahu disitu tinggal Teungku Nyak Muda Ali (Teungku Ramileé). Gampong tersebut dijaga ketat oleh pasukan Belanda.  Istri dan anaknya  tinggal di Gampong Pulö. Mereka sering didatangi oleh pasukan Belanda. Tetapi untungnya mereka tidak diganggu.

Tahun 1877 Belanda mengurangi jumlah pasukan di Aceh. Mendengar hal itu membuat masyarakat Samalanga merasa senang. Akan tetapi karena terjadi peperangan dahsyat kemudian Betawi mengirim empat bala bantuan batalion ke Aceh serta memberikan instruksi tegas pada Van der Heijden.

Serangan yang gagal itu harus dilakukan hukuman berat. karena telah menggoyahkan gengsi dan kepercayaan terhadap kekuatan  Belanda. Van der Heijden tidak memecah-memecahkan bala bantuan itu.

Walaupun gagal di Samalanga Van der Heijden pada Tahun 1879 dapat menaklukkan Aceh Besar. Dia telah menciptakan ketertiban dan keamanan di Aceh. Kemudian Bulan Desember 1879 dia menerima surat dari Gubernur Jenderal Van Lansberge untuk meletakkan jabatan di Aceh. 

Van der Heijden tidak menginginkan itu dan menjadi marah. Gubernur Jenderal Van Lansberge ingin mengakhiri perang di Aceh dan akan mendirikan Pemerintaan Sipil. Januari 1880 Van der Heijden diangkat menjadi Letnan Jenderal. Penganngkatan tersebut merupakan hadiah baginya.

22 Juli 1880 Van der Heijden memerintahkan Mayor W.A. Schmilau menyerang BatéeIlié. Sesampainya di sana mereka melihat di sepanjang pantai Samalanga telah berjejer meriam menunggu mereka. 

Sebenarnya di sepanjang pantai bukan meriam seperti yang dilihat oleh Belanda. Benda itu adalah penduduk Samalanga. di mana tubuhnya dilumuri cat berwarna hitam. Tubuh mereka dibuat persis seperti meriam. Ide itu muncul dibenak Teungku Nyak Muda Ali (Teungku Ramieleé) yang tidak sempat mempersiapkan pasukannya.[]

(Sumber: Zubaidah, Penulis Buku “Batee Iliek Yang Menyimpan Sejarah”)