TEPATNYA pada tanggal 22 Juli 1880 Van der Heijden memerintahkan Mayor W.A. Schmilau menyerang Batée Iliék. Sesampainya di sana mereka melihat di sepanjang pantai Samalanga telah berjejer meriam menunggu mereka.

Sebenarnya di sepanjang pantai bukan meriam seperti yang dilihat oleh Belanda. Benda itu adalah penduduk Samalanga. di mana tubuhnya dilumuri cat berwarna hitam. Tubuh mereka dibuat persis seperti meriam. Ide itu muncul dibenak Teungku Nyak Muda Ali (Teungku Ramieleé) yang tidak sempat mempersiapkan pasukannya.

Melihat hal tersebut penyerangan tidak mungkin dilakukan. Setelah mengadakan rapat. mengambil keputusan untuk kembali kepangkalan. Hasil rundingan  menyebutkan pihak lawan memiliki kekuatan yang amat besar. Hasilnya nanti akan sia-sia saja.

Sosok Mayor W.A. Schmilau pulang dengan tangan hampa. belum lagi pasukan-pasukan yang gagal itu diturunkan. dia dinyatakan bertanggung jawab untuk pemberangkatan ekspedisi yang dilakukan secara terburu-buru dengan perlengkapan-perlengkapan dan instruksi yang buruk sekali. dan sekarang harus menanggung beban kegagalan. 

Setelah usaha itu gagal. kemudian  Van der Heijden mengatur strategi untuk mengadakan blokade yang amat ketat di seluruh Wilayah Samalanga.

Teungku Nyak Muda Ali (Teungku Ramieleé) mengumpulkan semua murid-muridnya. Beliau berkata: “Belanda gagal kali ini. Tetapi mereka tidak akan tinggal diam. Tak lama lagi mereka akan kembali”.

Teungku Nyak Muda Ali (Teungku Ramieleé) menyusun strategi peperangan. Keadaan pantai Samalanga dibelakangnya ditumbuhi pohon-pohon tinggi tidaklah mungkin untuk dibuat pengamatan visual pada arak yang amat jauh. Untuk itu pejuang-pejuang Aceh membuat parit disepanjang semak-semak. kemudian didalamnya ditanam bambu-bambu runcing. lalu menutupnya dengan rumput. 

Setelah matang persiapan peperangan. pejuang-pejuang Aceh bersiap-siap menunggu menghadapi Belanda. Hal itu merupakan ranjau yang tidak disangka-sangka oleh pihak Belanda.

Agustus 1880 Van der Heijden menyerang kembali BatéeIlié. Serangan dilancarkan dalam keadaan tidak menguntungkan sama sekali. Hubungan dengan mata-mata pantai selalu gagal. karena sebelum mereka berhubungan dengan mata-mata itu.

Mata-mata tersebut telah dibunuh oleh para pejuang Aceh. Pada waktu mendarat. batalion-batalion  itu sudah menderita kerugian banyak yang tewas maupun yang luka-luka. Di semak-semak telah bersembunyi pejuang-pejuang Aceh. pihak Belanda mengetahui. bahwa tidak mungkin untuk melepaskan tembakan-tembakan secara teratur.

Meriam-meriam lapangan itu ditarik dengan susah payah oleh kuda. Disaat mereka diserang oleh  pejuang-pejuang Aceh senapang itu tidak dapat dipasang cepat-cepat tepat pada tempatnya. apalagi untuk melepaskan tembakan. Halbini sinkarena pada saat yang bersamaan pejuang-pejuang Aceh datang menyerbu dan melompat ke arah mereka.

Pasukan Belanda hanya dapat menangkis dengan sangkur-sangkur mereka secara tidak cekatan sama sekali. Meriam tentara pejuang-pejuang Aceh lebih unggul dari pada meriam Belanda. Ditambah lagi pasukan Belanda sudah sangat takut kepada kelewang Aceh. Dengan senjata yang amat tajam itu, beberpa pejuang Aceh dengan cekatan sekali mengayunkannya dan memarang dari bahu bisa mereng ke arah jantung.

Teungku Nyak Muda Ali (Teungku Ramieleé) beserta dengan murid-muridnya berada di barisan paling depan mengenakan pakaian putih sambil berteriak-teriak ALLAHUAKBAR ! Pejuang-pejuang Aceh mengepung pasukan Belanda. Pejuang-pejuang Aceh itu menghabisinya. Di kala Van der Heijden berdiri, sebutir peluru telah menembus mata sebelah kiri. Saat itu juga meruntuhkan semangat seluruh pasukan Belanda. Sebagian dari mereka yang luka parah melakukan bunuh diri atau memohon supaya teman-teman mereka menembak agar terlepas dari siksaan yang lebih parah lagi yang diterima dari tentara pejuang-pejuang Aceh. Dengan susah payah sisa dari fuselir-fuselir tersebut berasil mencapai kapal. Dua pertiga dari jumlah pasukan telah tewas kena kelewang dan meriam  pejuang-pejuang Samalanga.

Ekspedisi ke dua Van der Heijden di Samalanga membawa mala petaka yang sangat buruk. Kerugian nyawa menusia yang sangat banyak dalam peperangan yang tidak adil itu. pada hal dia telah merundingkannya secara terperinci. Hal itu membuktikan bahwa tidak ada satupun yang beralan lancar di Samalanga. 

Dalam pertempuran itu banyak dari pihak Belanda yang mati dan sisanya terpaksa lari terbirit-birit. 

Perang tersebut dibayar mahal dengan kekalahan yang fatal. Dan yang lebih menyakitkan Jenderal Van Der Heijden terkena peluru di mata kirinya. Sehingga dalam cerita-cerita rakyat Aceh mendapat julukan “Jendran Buta Siblah”.

(Sumber: Zubaidah, Penulis Buku “Batee Iliek Yang Menyimpan Sejarah”)