TAPAKTUAN – Bupati Aceh Selatan HT Sama Indra mengapresiasi program sejumlah Gampong didaerah itu mengalokasikan dana desa tahun anggaran 2016 untuk menunjang kemajuan pembangunan bidang kesehatan di desa masing-masing.

“Saat ini masalah kesehatan tidak hanya menjadi tanggungjawab petugas kesehatan semata, namun sudah menjadi masalah kita bersama. Untuk itu pada kesempatan ini kami memberikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh kepala desa yang telah mengalokasikan anggaran sumber dana desa di bidang kesehatan,” kata Sama Indra dalam sambutannya pada acara peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke 52, di Tapaktuan, Senin 14 November 2016.

Menurut Bupati kesadaran masyarakat setempat ingin mendapatkan pelayanan kesehatan yang prima dan memuaskan terus meningkat. Buktinya, tanpa ada instruksi atau perintah beberapa desa di Kabupaten Aceh Selatan yang memiliki fasilitas kesehatan setingkat Poskesdes atau Polindes dengan kesadaran sendiri membangun fasilitas tersebut yang pembiayaanya bersumber dari dana desa termasuk anggaran pemberdayaan  masyarakat di desanya.

“Saya berharap, program ini dapat terus dilaksanakan secara berkesinambungan sehingga dapat di contoh oleh institusi lainnya, karena pengalokasian anggaran ini dibenarkan secara aturan,” pinta bupati.

Tidak hanya untuk peningkatan fasilitas infrastruktur, lanjut Bupati, sejumlah desa di Aceh Selatan juga telah mengalokasikan dana desa untuk insentif kader kesehatan yang ada di masing-masing desa. Menurutnya, dalam rangka meningkatkan mutu atau kualitas pelayanan kesehatan terhadap masyarakat, di setiap desa sekarang ini tidak hanya memiliki kader posyandu tapi juga sudah memiliki banyak jenis kader kesehatan lainnya seperti kader gizi, kader malaria dan jenis lainnya dengan jumlah  kurang lebih sebanyak 41 orang kader di setiap desa.

“Kondisi selama ini para kader kesehatan ini hanya dapat insentif dari institusi kesehatan dan Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM), tapi dengan adanya dana desa insentif ini  akan bertambah melalui  dana permberdayaan masyarakat desa,” sebut Bupati.

Agar program ini terwujud secara sempurna, Bupati Aceh Selatan mengharapkan kepada semua pihak harus membudayakan prilaku hidup bersih dan sehat, membangun taman gizi dan apotik hidup. Hal itu sebagai tindakan preventif guna mendukung  pola hidup sehat secara konprehensif dengan cara  meningkatkan sumber daya manusia dibidang kesehatan baik melalui pendidikan, pelatihan, kursus maupun program pilot projec untuk mengikuti pelatihan penanganan gawat darurat. Sehingga akan mempercepat pemberian tindakan dan pelayanan  di UDG agar meminimalisir  kesakitan, kecacatan dan kematian dilapangan.

“Melalui momentum peringatan HKN ke-52 tahun 2016 ini, mari kita melakukan refleksi tentang apa yang harus kita berikan bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Menghindari penanganan kesehatan yang bersifat promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif, sebagai pertanggungjawaban dalam pembangunan kesehatan. Sehingga tercipta semangat dan nilai revolusi mental dengan bekerja penuh integritas, etos kerja yang tinggi dan semangat gotong-royong untuk menghasilkan pembangunan kesehatan yang merata,” kata Bupati.

Sebab saat ini, sambung Bupati, di seluruh wilayah indonesia termasuk Aceh Selatan masih mengalami transisi epidemiologi yang ditandai dengan meningkatnya kematian dan kesakitan akibat penyakit tidak menular diantaranya penyakit stroke, jantung, diabetes dan lain-lain termasuk penyakit menular lainnya, seperti  dbd, tbc, diare dan penyakit cikungunya.

Oleh karena itu, kata dia,  seluruh institusi pelayanan kesehatan dituntut agar lebih tanggap dan mampu memberikan pelayanan yang memenuhi harapan masyarakat luas dengan pengelolaan kinerja dibidang kesehatan masyarakat baik program maupun pelayanan, sehingga bisa menjawab kebutuhan masyarakat yang akhirnya dapat meningkatkan derajat kesehatan.

“Dalam rangka meningkatkan kapasitas dibidang kesehatan serta mampu menghadapi dinamika pelayanan kesehatan, pihaknya mengaku selalu mengingatkan agar semua aparatur Pemkab Aceh Selatan termasuk insan kesehatan agar jangan menjadi aparatur yang dilayani tetapi jadilah aparatur yang melayani  masyarakat, sebagai indikasi dari revolusi mental dalam rangka meningkatkan integritas, dedikasi, sebagai sebuah bentuk  loyalitas kepada daerah,” tandas Bupati.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Aceh Selatan Mardhaleta M Taher mengatakan, sejak tahun 2016 hingga 2017 seluruh Puskesmas yang ada di daerah itu sudah memiliki reseptionis yang senantiasa  akan berada di garis depan dalam rangka memberikan layanan, layaknya penerima tamu dihotel.

Langkah ini, menurutnya, akan sangat dirasakan maknanya jika dalam proses awal penerimaan  pasien  dibarengi  dengan sikap yang ramah-tamah, berbicara dengan sopan dan mudah dimengerti oleh pasien dari berbagai kalangan masyarakat.

“Sebab kualitas pelayanan kesehatan, disamping ditentukan oleh faktor SDM, manajemen, sikap mental dan lain-lainnya, juga sangat dipengaruhi oleh sarana bangunan fisik dan lingkungan yang nyaman serta  memiliki ruang publik yang cukup,,” ujar Mardhaleta.

Disamping itu, lanjutnya, mengacu kepada nilai-nilai pelayanan kesehatan bernuansa islami, melalui momentum HKN ke 52 tahun 2016 ini, pihaknya juga telah menggelar MTQ antarpejabat struktural eselon III dan IV baik dari Dinas Kesehatan, RSUD Yulidin Awayit, Kampus Akper dan seluruh kepala Puskesmas dalam Kabupaten Aceh Selatan sebagai bagian untuk melahirkan insan Qurani yang cinta Alquran menuju Aceh Selatan terdepan.[]

Laporan Hendrik