“Dinamakan Syakban (berserak-serak) kerana padanya terdapat amat banyak kebajikan yang berserak-serak dan puasa yang lebih afdal sesudah Ramadan ialah puasa bulan Syakban.”
Esensi dari bulan Sya’ban hendaknya dapat dijadikan sebagai momentum bulan pemantapan iman, persiapan mental dan spiritual menuju Ramadhan serta terjalinnya integrasi umat Islam menjadi sangat relevan dan signifikan, hal ini sesuai dengan makna dan konteks historis bulan Syakban itu sendiri.
Dalam sejarah disebutkan bahwa Allah SWT memerintahkan perubahan kiblat dari Baitul al-Muqaddis ke Ka’bah Baitullah (Muhammad bin Ahmad Al-Qurthubi, al-Jami’ Li Ahkam al-Qur`an: II: 144). Syakban hendaknya kita jadikan untuk meningktkan nilai spiritualitas dan moralitas sebagai persiapan menuju Ramadhan nantinya.
Kita harus mengiktiqatkan dalam hati, seolah-olah Syakban ini merupakan Syakban terakhir dalam hayat kita, sehingga akan menimbulkan sugesti dan inspirator untuk kebaikan dan bertaubat, walhasil frekwensi untuk beramar amar nah imungkar akan terdorong dengan sendirinya dan jikalaupun di beri umur panjang hingga Ramadhan nantinya juga anggapan demikian, akhirnya dengan itu sebuah mendali emas bertitelkan ‘itqum minannar” (terbebas dari api neraka) pada bulan Ramadhan dapat kita raih.
Hendaknya kita sambut kedatangan Syakban dengan keinsafan dan kesadaran serta peringatan bahawa perjuangan sebagai seorang insan masih belum berakhir. Hari ini kita abaikan kelebihan dan kemuliaan di balik bulan Syakban tersebut, mari kita perbanyakkan amal ibadah dan kebaikan di muka bumi ini, berpuasa dan shalat sunat dan beberapa amaliah lainnya serta kita menolong meringankan penderitaan fakir dan miskin serta anak-anak yatim sesama dalam masyarakat. Tersenyumlah dalam kebaikan kala menyapa datangnya bulan Syakban
Disamping itu tidak lupa kita selalu menadah ke langit serta memohon untuk berdoa sebagaimana yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW, bunyinya:
“Allahumma baariklana fi Rajab wa Syakban wa ballighna Ramadhana” (Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan (juga) Sya’ban, dan sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan.”
Beranjak dari paparan diatas, maka Syaaban yang mulia ini adalah sebagai bulan persediaan dan persiapan melakukan kebaikan sebanyak mungkin termasuk memerangi nafsu. Di samping itu perbanyak memohon doa, digalakkan juga untuk bertaubat dan memohon keampunan di atas keterlanjuran di sepanjang bulan ini.
Sabda Nabi SAW: “Sya’aban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan umatku. Syaaban ialah mengkifaratkan (menghapuskan) dosa dan Ramadhan ialah menyucikan dosa (jasmani dan rohani).”
Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq.[]





