BANDA ACEH Jual beli senjata sisa konflik di Aceh masih banyak terjadi. Setahun terakhir, pelaku kejahatan dan kelompok sempalan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (Abu Rimba dan Din Minimi) beraksi dengan senjata api. Aparat telah menyita 300 pucuk senjata api.
Terakhir seorang warga Pidie Jaya, Rizal Aulia, bersama temannya tertangkap Polres Lhokseumawe membawa dua pucuk senjata api ilegal untuk diselundupkan kepada saudaranya yang mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Kota Langsa.
Senjata pistol jenis FN pabrikan dan revolver rakitan itu untuk pembebasan lima orang, termasuk saudaranya (sepupu) Rizal Aulia. Senjata itu dibeli Rizal dari seseorang yang tertangkap terlebih dahulu dan seorang lagi (DPO). Tersangka melakukan transaksi jual beli senjata di kawasan Jalan Line Pipa Aceh Utara dengan total Rp13 juta.
Sebelumnya, petinggi TNI menyatakan jalur laut Aceh rawan penyelundupan berbagai barang haram, termasuk narkoba dan senjata. Padahal selama 10 tahun terakhir, jarang terdengar ada temuan atau tangkapan senjata api yang diselundupkan via perairan Aceh.
Sejumlah sumber yang punya jaringan dengan mafia penyelundup barang ilegal dari Negeri Jiran mengakui senjata api asal Thailand cukup mudah diselundupkan ke Aceh. Hanya bermodal sekira Rp20 juta, bisa dapat sepucuk AK-47 dalam hitungan hari.
Untuk apa? Ada yang mau cepat naik pangkat ya? Punya mahar berapa? Kalau cocok, kita mainkan terus, kata sumber ketika wartawan menyamar sebagai pembeli senjata api selundupan via jalur laut Aceh Timur baru-baru ini.
Pria ini mengaku punya kenalan dekat seorang perompak laut. Senjata jenis apa saja, bisa dipesan melalui kenalannya itu. Maharnya bervariasi, tergantung jenis senjata dan kesepakatan lokasi serah terima-barang.
Kalau mengambilnya di tengah laut, lebih murah. Tapi kalau terima di darat, ya lebih mahal. Risiko tertangkap saat berusaha merapat ke pantai lebih besar ketimbang transaksi di tengah laut, bebernya.
Untuk jenis senjata laras panjang semisal AK-47 dibanderol Rp15-Rp25 juta per pucuk. Jenis pistol paling murah Rp7,5 juta dan paling mahal Rp10 juta. Senjata itu ada yang dibeli langsung ke Thailand, ada juga yang diantar nelayan Thailand ke perairan Indonesia. Bahkan, ada senjata yang dibarter dengan ikan dan ganja, sebutnya lagi.
Seorang tahanan LP Tanjung Gusta Medan yang juga mantan penyelundup senjata ke Aceh di masa konflik membenarkan senjata ilegal yang dipakai GAM dulu berasal dari Thailand. Pria asal Aceh Utara tersebut mengaku sempat memasok tak kurang 150 pistol Thailand ke Aceh selama 1998 hingga 2003.
Senjata itu kami beli langsung ke Betong, Thailand melalui jaringan geng kami di sana. Mereka rata-rata pekerja klub malam yang sudah sangat dekat dengan aparat keamanan. Itu sebabnya kami luput dari razia, kenangnya.
Senjata di Thailand tidak diperjualbelikan bebas seperti kita bayangkan. Pembeli harus punya KTP setempat atau minimal ada penjamin warga lokal. Karena itu, kalau tak punya jaringan sendiri di Thailand, jangan coba-coba beli senjata di sana. Kalau tidak celaka, pasti masuk penjara, ujarnya.[] sumber: waspada




