ACEH UTARA – Komando Distrik Militer (Kodim) 0103 Aceh Utara merespons kondisi memprihatinkan yang selama ini dialami anak-anak di Dusun Biram, Gampong Plu Pakam, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara.

Setiap hari, sekitar 40 siswa terpaksa menantang arus sungai (Krueng Keureuto) dengan menggunakan speedboat demi bisa belajar di SD Negeri 7 Paya Bakong, Gampong Blang Pante. Perjuangan penuh risiko itu kini menjadi perhatian serius pihak Kodim.

Komandan Kodim 0103 Aceh Utara, Letkol Arh Jamal Dani Arifin, Senin, 27 April 2026, mengatakan pembangunan jembatan gantung (perintis) sudah masuk dalam perencanaan dan segera direalisasikan. Bahkan, anggaran pembangunan telah diajukan dan ditargetkan mulai dikerjakan dalam April ini.

“Pembangunan jembatan perintis ini kami targetkan selesai dalam dua bulan ke depan. Ini menjadi prioritas demi keselamatan dan kemudahan akses anak-anak sekolah serta masyarakat,” kata Jamal Dani Arifin kepada wartawan di Makodim setempat.

Jamal menjelaskan, jembatan yang direncanakan memiliki panjang sekitar 170 meter dan lebar 1,2 meter itu akan menjadi penghubung vital antara Kecamatan Tanah Luas dan Paya Bakong. Selain membantu siswa, jembatan tersebut juga akan mempermudah aktivitas warga antarwilayah.

“Hasil peninjauan langsung di lokasi memperkuat urgensi pembangunan. Kondisi sungai yang lebar dan arus yang cukup deras menjadi tantangan besar bagi anak-anak yang harus menyeberang setiap hari,” ungkap Jamal.

Menurut Jamal, untuk merealisasikan proyek tersebut, kebutuhan anggaran diperkirakan mencapai Rp700 juta, namun angka tersebut masih bersifat sementara dan belum final. Pihaknya fokus utama saat ini adalah memastikan pembangunan dapat segera berjalan.

“Program jembatan perintis ini merupakan bagian dari inisiatif strategis TNI Angkatan Darat dalam membuka akses infrastruktur di wilayah terpencil. Tim teknis dari Universitas Malikussaleh juga telah melakukan pengukuran guna memastikan jembatan aman, terutama saat debit air sungai meningkat,” ujar Jamal.

Menurut Jamal, jika rampung tepat waktu, jembatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi akses fisik, tetapi juga simbol harapan baru bagi masa depan pendidikan anak-anak di pelosok Aceh Utara.[]