BANDA ACEH — Sebuah bangunan berpagar besi berdiri kokoh di tengah rindangnya pepohonan tua di kawasan Peuniti, Banda Aceh. Dari balik pagar itu, tampak sebuah makam megah berlapis marmer dengan ukiran kaligrafi indah yang masih terawat hingga kini.

Dua batu nisan kuno berdiri tegak di atas pusara, seolah menjadi saksi bisu kejayaan seorang sultan besar yang pernah mengguncang Selat Malaka berabad silam.

Di sisi luar kompleks, dua meriam kuno menghadap tenang ke arah jalan. Sebuah prasasti bertuliskan “Makam Sultan Iskandar Muda” menyambut setiap pengunjung yang datang untuk mengenang salah satu tokoh terbesar dalam sejarah Aceh. Sultan Iskandar Muda merupakan penguasa Kesultanan Aceh Darussalam pada 1607–1636, masa ketika Aceh mencapai puncak kejayaan politik, ekonomi, dan peradaban Islam di Asia Tenggara.

Kompleks makam yang berada di Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah, Gampong Peuniti, Kecamatan Baiturrahman, itu terletak persis di samping Meuligoe Gubernur Aceh dan hanya dipisahkan aliran Krueng Daroy. Hingga kini, tempat tersebut masih menjadi salah satu destinasi wisata sejarah favorit di Banda Aceh.

Pengunjung tidak hanya datang dari Aceh atau daerah lain di Indonesia, tetapi juga dari luar negeri, terutama Malaysia. Nama besar Sultan Iskandar Muda dan pengaruhnya yang pernah mencapai Semenanjung Malaya membuat banyak wisatawan asing tertarik menelusuri jejak sang sultan.

Tak hanya makam Sultan Iskandar Muda, di kawasan tersebut juga terdapat makam keluarga kerajaan Aceh lainnya. Di sudut kompleks berdiri Gedung Perjuangan peninggalan Belanda, sementara sejumlah meriam dan ranjau laut peninggalan kolonial turut memperkuat nuansa historis kawasan itu.

Pepohonan rindang yang menaungi area makam membuat suasana terasa teduh dan khidmat. Namun di balik ketenangan itu, tersimpan kisah panjang tentang perjuangan, kejayaan, hingga upaya penghapusan sejarah oleh kolonial Belanda.

Jejak Sultan Agung Aceh

Sultan Iskandar Muda lahir dengan nama Perkasa Alam sekitar tahun 1593. Ia merupakan cucu Sultan Alauddin Riayat Syah dan naik takhta menggantikan Sultan Ali Riayat Syah. Di tangannya, Kesultanan Aceh Darussalam berkembang menjadi salah satu kerajaan Islam paling berpengaruh di dunia.

Wilayah kekuasaannya membentang luas, mulai dari Aceh, sebagian Sumatera, hingga Semenanjung Malaya. Banda Aceh kala itu menjadi pusat perdagangan internasional yang ramai disinggahi kapal dagang dari berbagai negara.

Selat Malaka, jalur perdagangan paling strategis di Asia Tenggara, berada di bawah pengaruh Aceh. Situasi ini membuat Portugis berkali-kali berusaha merebut wilayah tersebut. Namun pasukan Aceh di bawah kepemimpinan Iskandar Muda dikenal tangguh dan sulit ditaklukkan.

Dalam berbagai catatan sejarah disebutkan, armada Aceh memiliki kapal perang raksasa bernama Cakra Donya yang dilengkapi sekitar seratus meriam. Portugis bahkan menjuluki kapal itu sebagai Espanto del Mundo atau “teror dunia”.

Selain memperkuat militer, Sultan Iskandar Muda juga memperluas pengaruh politiknya dengan menaklukkan sejumlah kerajaan seperti Johor, Pahang, Kedah, Deli, hingga Minangkabau.

Dari penaklukan Pahang inilah lahir kisah cinta legendaris Sultan Iskandar Muda dengan Putroe Phang, putri Kerajaan Pahang yang kemudian menjadi permaisurinya. Untuk mengobati kerinduan sang permaisuri terhadap kampung halaman, Sultan membangun taman indah lengkap dengan bangunan Gunongan yang kini menjadi salah satu ikon wisata sejarah Banda Aceh.

Pusat Peradaban Islam

Di bawah kepemimpinannya, Aceh juga berkembang menjadi pusat peradaban Islam. Ulama dan pelajar dari berbagai wilayah datang ke Aceh untuk menimba ilmu agama. Kesultanan Aceh bahkan pernah masuk dalam jajaran kerajaan Islam terbesar dan terkuat di dunia bersama Ottoman di Turki, Safawiyah di Persia, dan Mughal di India.

Tak hanya itu, Sultan Iskandar Muda juga menjalin hubungan diplomatik dengan berbagai negara seperti Inggris, Turki, Persia, India, hingga China. Salah satu bukti hubungan internasional tersebut adalah surat tulisan tangan Sultan kepada Raja Inggris James I yang kini disimpan di Museum Aceh.

Meski dikenal sebagai pemimpin besar, Sultan Iskandar Muda juga sosok yang sangat tegas dalam menegakkan hukum. Ia bahkan menghukum putranya sendiri, Meurah Pupok, karena melanggar aturan syariat dan kerajaan.

Dari peristiwa itu lahir petuah terkenal masyarakat Aceh: “Matee aneuk meupat jeurat, gadoh adat pat tamita,” yang berarti, “Mati anak diketahui kuburnya, hilang adat tak tahu ke mana mencarinya.”

Sultan Iskandar Muda wafat pada 27 Desember 1636 dalam usia 43 tahun. Meski telah berabad-abad berlalu, nama dan warisannya tetap hidup dalam ingatan masyarakat Aceh.

Bagi sebagian orang, berkunjung ke makam Sultan Iskandar Muda bukan sekadar wisata sejarah. Tempat itu menjadi ruang untuk mengenang kembali masa ketika Aceh pernah berdiri sebagai salah satu kekuatan besar dunia Islam dan maritim di Asia Tenggara.

Aceh Genjot Promosi Situs Sejarah untuk Menarik Wisatawan Dunia

Pemerintah Provinsi Aceh kini tengah fokus mempromosikan situs-situs sejarah sebagai bagian dari strategi menjadikan Aceh sebagai destinasi wisata sejarah kelas dunia.

Dengan kekayaan sejarah yang meliputi masa Kesultanan Aceh, kolonial Belanda, hingga peristiwa tsunami 2004, Aceh memiliki potensi besar untuk menarik wisatawan mancanegara dan domestik.

Pemerintah Aceh terus meningkatkan promosi wisata sejarah sebagai upaya menarik wisatawan mancanegara dan domestik. Beberapa situs bersejarah di provinsi ini kini menjadi sorotan utama, mengingat Aceh memiliki kekayaan budaya dan sejarah yang unik.,

“Kami menargetkan Aceh tidak hanya dikenal karena keindahan alam sebagai destinasi sejarah dunia”, Teuku Muhammad Aidil, Ketua Ikatan Agam Inong Aceh, Kamis, 14 Mei 2026.

Dengan langkah ini, Aceh berupaya menempatkan diri sebagai salah satu situs sejarah dan budaya dunia yang layak dikunjungi, sambil tetap menjaga nilai-nilai sejarah dan tradisi lokal. [adv]