Dalam kemiliteran abad ke-7 dan 8 SM, ada pasukan berkuda yang terkenal tak terkalahkan karena baju zirah baja yang mereka kenakan.
Unit kaveleri kuno bersenjata ini yang dikenal sebagai ‘cataphract’ adalah prajurit lapis baja yang sangat ditakuti.
Istilah cataphract sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti ‘sepenuhnya berlapis baja’ atau ‘tertutup dari semua sisi.’
Adanya penggambaran paling awal yang diketahui dari cataphract dapat ditemukan di Khwarezm, sebuah wilayah di Asia Tengah dekat Laut Aral.
Diperkirakan bahwa pasukan kavaleri ini ada di wilayah ini sejak abad ke-6 SM.
Ekspansi Roma ke Timur Dekat membawa mereka ke dalam konflik dengan salah satu dari bangsa-bangsa ini, yakni Persia.
Konflik antara Roma dan Persia ini memberikan info tentang adanya cataphract.
Penjelasan rincinya mencakup helm tertutup yang menutupi kepala prajurit sampai ke bahu.
Helm itu hanya menyisakan dua lubang yang berfungsi bagi mata untuk mengintai.
Selain itu, mereka juga mempunyai pedang, senjata yang digambarkan sangat hebat dan lebih besar dari tombak.
Muatan cataphract
Karena beratnya baja dalam baju zirah para prajurit, pasukan kavaleri ini pun dapat memukul lawannya lebih keras.
Reputasi cataphract semakin diperkuat oleh pernyataan dalam Heliodorus dan Plutarch.
Mereka mengungkap bahwa pasukan ini dapat membunuh dua musuh sekaligus dengan sekali tusuk.
Meski cataphract tidak terkalahkan, kekuatan terbesarnya adalah juga kelemahan terbesarnya.
Karena pakaian bajanya itu, seorang prajurit perlu bantuan prajurit lainnya hanya untuk dapat menaiki kudanya.
Selama dia tetap di atas kudanya, sang prajurit berada dalam posisi yang aman.
Namun jika turun selama pertempuran, bagaimanapun, dia akan menjadi sasaran empuk bagi musuh.
Meskipun zirah memberikan perlindungan ekstra, itu juga mengurangi stamina kuda.
Selain itu, terlalu panas juga merupakan masalah besar.
Kelemahan-kelemahan ini digunakan oleh kaisar Romawi Aurelian dalam pertempurannya melawan Palmyrenes yang dipimpin oleh Zenobia.
Aurelian memprovokasi cataphract Palmyrenes untuk menyerang agar dapat pura-pura mundur.
Saat prajurit cataphract Palmyrenes mulai kepanasan dan merasa berat atas baju zirahnya, baru prajurit kavaleri Aurelian menyerang mereka.
Sementara baju besi dari cataphract mampu menahan serangan dari pedang dan panah, mereka tampaknya tidak berguna melawan senjata tumpul.
Meskipun cataphract memiliki kelemahan, mereka masih unit kavaleri yang sangat tangguh.
Bahkan perlengkapan cataphract kemudian juga diadopsi oleh Kekaisaran Seleukia, dan kemudian oleh orang-orang Romawi.
Selain itu, kekaisaran Sasania dan Bizantium, penerus Persia dan Roma masing-masing, juga menggunakan cataphract dalam pasukan mereka.[] Sumber: intisari.grid.id/Muflika Nur Fuaddah







