SUBULUSSALAM – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di wilayah Kota Subulussalam dalam beberapa bulan terakhir terus mengalami kenaikan mencapai Rp 2.390 per kilogram di level Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PMKS).
Kenaikan ini dipicu menyusul lonjakan harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) pada tender Kharisma Perusahaan Bersama Nusantara (KPBN) naik menjadi Rp 13.183 per kilogram dari sebelumnya Rp 12.788 per kilogram pada 28 September lalu.
Sedangkan harga di tingkat petani sawit berkisar Rp 2.050 sampai Rp 2.100 per kilogram. Angka tersebut sebenarnya menjadi impian ribuan petani sawit di Bumi Syekh Hamzah Fansuri itu, mengingatkan tanaman komoditas unggulan tersebut, merupakan sumber utama mata pencaharian masyarakat di sana.
Pergerakan tren positif harga TBS ini memberikan dampak signifikan terhadap kondisi perekonomian masyarakat yang sebelumnya lesu, kini berangsur mulai pulih kembali, menyusul membaiknya harga TBS dimulai sejak setahun terakhir.
Namun pergerakan harga TBS yang terus melambung disusul dengan kenaikan harga pupuk non subsidi sehingga menyebabkan petani sawit dilema. Kenaikan pupuk non subsidi rata-rata mencapai 30 sampai 40 persen, akibatnya petani kesulitan memenuhi biaya perawatan kebun. Konon lagi, kenaikan TBS terjadi di saat produksi buah menurun (trek).
Menyikapi kondisi tersebut, Ketua Apkasindo Perjuangan Kota Subulussalam, Subangun Berutu mengatakan, pemerintah harus mengendalikan harga pupuk non subsidi agar tidak melambung drastis seperti yang terjadi saat ini.
Menurut Subangun, kenaikan pupuk non subsidi mencapai 40 persen dari harga sebelumnya, menyebabkan kebun petani tidak terawat maksimal akibatnya pupuk sangat mahal. Hal ini sangat berpengaruh terhadap produksi TBS kelapa sawit milik petani.
Produksi TBS saat ini rata-rata sekitar 1.200 ton per hari untuk empat pabrik yang beroperasi di Kota Subulussalam. Sedangkan saat panen puncak produksi buah bisa menembus 2.000 ton per hari untuk kebutuhan empat PMKS di Bumi Sada Kata itu. Namun kini, harga TBS melonjak drastis mencapai Rp 2.390 per kilogram di pabrik dan Rp 2.100 di tingkat petani.
“Ya benar, TBS terus mengalami kenaikan, tapi kita harus antisipasi bersama kenaikan pupuk. Ini harus dikendalikan oleh pemerintah agar naiknya juga stabil,” kata Subangun Berutu kepada portalsatu.com/ di Subulussalam, Rabu, 6 Oktober 2021.
Ia mencontohkan harga pupuk urea satu sak isi 50 kilogram sebelumnya Rp 320.000 menjadi Rp 370.000 per sak. Selanjutnya pupuk TSP isi 50 kilogram sebelumnya Rp 420.000, kini naik menjadi Rp 520.000 per sak. Menurut Subangun, harusnya kenaikan pupuk stabil tidak melambung seperti sekarang ini karena sangat memberatkan petani kelapa sawit.
Wakil Ketua Apkasindo Perjuangan Provinsi Aceh ini menyebutkan tren pergerakan TBS diperkirakan akan terus bergerak naik disebabkan beberapa faktor. Pertama terkait program pemerintah realisasi terhadap pengembangan biodiesel melalui skema program mandatori B30.
Selain itu, produksi buah yang sedang menurun juga menjadi penyebab kenaikan harga TBS, di samping persaingan harga antar pabrik menyusul lahirnya PMKS baru di wilayah Barat Selatan Aceh.
Saat ini PMKS di wilayah Barat Selatan Aceh terus berpacu menaikkan harga TBS kelapa sawit, misalnya di Aceh Singkil PT. SSM Rp 2.325 per kilogram, PT. PLB2 Rp 2.340, PT. RPP Rp 2.400, PT. Ensem Rp 2.340, PT. PLB1 Rp 2.340, PT. DM Rp 2.390 dan PT. Nafasindo Rp 2.300. PT. RPP menawarkan angka tertinggi harga TBS mencapai Rp 2.400 per kilogram.
Sedangkan di Subulussalam, PT. GSS menawarkan harga tertinggi yakni Rp 2.390 per kilogram, disusul PT. SSN Rp 2.340, PT. BSL Rp 2.325 dan PT. BDA Rp 2.270 per kilogram. Selanjutnya PT. Mon Jambe di Aceh Barat Daya Rp 2.250 per kilogram.
Sementara di Nagan Raya harga jual TBS kelapa sawit kepada pabrik masih rendah dibandingkan Aceh Singkil dan Kota Subulussalam, rata-rata pabrik menawarkan harga Rp 2.000-Rp 2.100 per kilogram. Sedangkan di Kota Subulussalam, angka Rp 2.000 per kilogram sudah di level petani.
Hal ini dapat dilihat dari data yang diperoleh dari Apkasindo Perjuangan Provinsi Aceh harga TBS di Nagan Raya yakni PT. FBB Rp 2.100 per kilogram, PT. Ensem Rp 2.070, PT. SNRM Rp 2.010, PT. BSP Rp 2.100, PT. UND Rp 2.000, PT. KIM Rp 2.020, PT. Raja Marga Rp 2.010 dan PT. SPS 2 Rp 2.130 per kilogram.[]







