LHOKSUKON – Hari beranjak sore, Minggu, 7 Januari 2018 sekitar pukul 16.30 WIB, ketika saya melintasi Gampong Matang Puntong, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara. Di depan sebuah warung, terlihat sejumlah anak dan gadis remaja mengelilingi sebuah becak. Beberapa di antaranya terlihat saling berbisik, sambil sesekali tertawa cekikikan.
Berbalut rasa penasaran, wartawan portalsatu.com/ mendekati kerumunan tersebut. Ternyata mereka mengelilingi sebuah becak motor pengangkut barang. Di atas becak, terlihat dua pemuda duduk santai sambil menyulut rokok. Lantai becak hanya terbuat dari dua lembar papan, di bagian tengah terlihat jeruji besi yang cukup kokoh untuk menahan beban sebuah mesin tua di atasnya.
Setelah bertanya sana-sini, ternyata para bocah dan gadis remaja itu sedang menunggu jagung meletup alias popcorn. Tiba-tiba terdengar bunyi, “Tum”cukup keras. Namun mereka malah tertawa kegirangan. Ternyata itu petanda jagung yang dinanti sudah meletup.
“Horeee, ka masak jagong bungong (Horeee, sudah masak jagung bunga),” ucap salah seorang bocah lelaki sambil bersorak kegirangan.
Jailani, 26 tahun, warga Gampong Alue Papeun, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara menyebutkan, ia dan rekannya sudah menggeluti usaha memasak jagung meletup itu sejak beberapa tahun lalu. Selain ke wilayah Seunuddon dan Baktiya, Aceh Utara, Jailani mengaku sering ke wilayah pedalaman Kabupaten Aceh Timur.
“Ini namanya mesin ketum, untuk memasak jagung agar meletup (menjadi popcorn). Dinamakan mesin ketum, karena saat jagung sudah masak akan terdengar bunyi tum yang cukup keras. Cara olahnya, jagung dimasukkan dalam tabung mesin ketum, setelah dimasak lima menit, maka akan meledak dan jagung pun mengembang,” terang Jailani.
Untuk sekali masak, kata Jailani, warga cukup membayar Rp 6 ribu. “Setiap harinya saya mendapat sekitar Rp 200 ribu. Lumayan lah, setelah potong uang bensin dan uang minum masih ada tinggal. Uangnya cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” pungkas Jailani.[]



