Oleh: Taufik Sentana*

Mungkin wajahnya tak selalu hitam
Bagai gagak yang menanti kematian
Duka menyibak wajahnya
Dalam ragam rupa kejadian,
Kita yang dikhalifahi dengan ilmu dan pengertian
Belajar menjabar dan memberi makna;
Agar duka tak abadi
Agar duka bersimpuh
Dalam wujud khusuk dan takjub.

Malam datang agar kita sadar dan insaf
Memandang diri dengan lekat
Betapa lemah dan fana-tiada daya.
Tampilan siang adalah harapan dan pesona,
adapun senja adalah batas pertanyaan
tentang esok kembali.

Wajah wajah duka bisa tampil
Pada layar layar kaca di sebalik gelak-ria.
Wajah wajah duka di rumah rumah lapuk
Atau dinding dinding apartemen yang angkuh.
Wajah wajah duka berserak dalam ketidaktahuan kita tentang teknik bahagia dan mencinta.

Wajah wajah duka berserak di hamparan
Gedung gedung pejabat yang rakus.
Wajah wajah duka terbit dari mata nanar anak zaman
Yang terseok di antara ketimpangan
Dan pilihan pilihan yang menyulitkan.[]

*Banyak menulis puisi dan esai.

Ilustrasi anggur merah. @Shutterstock

Vaksinasi Covid-19 dan Era Baru Ekonomi Rakyat Aceh