SUBULUSSALAM – Wali Kota Subulussalam sekaligus Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan As Silmi Subulussalam, Haji Rasyid Bancin (HRB), menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan gagasan dan program pemerintah, tetapi harus ditopang oleh sumber daya manusia (SDM) yang unggul, kompeten, dan mampu bersaing di tengah ketatnya kompetisi global.
Pesan tersebut disampaikan HRB saat memberikan kuliah umum bertajuk “Dari Gagasan Menjadi Gerakan: Membangun Subulussalam dengan SDM Unggul” di Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Hamzah Fansuri (STIT Hafas) Kota Subulussalam, Senin 12 Oktober 2026.
Di hadapan ratusan mahasiswa dan belasan dosen STIT Hafas Subulussalam HRB menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam melahirkan generasi yang tidak hanya berbekal gelar akademik, tetapi juga memiliki kapasitas intelektual, keterampilan, karakter, dan daya saing untuk menjawab tantangan zaman.
Menurutnya, mahasiswa tidak boleh berhenti pada pencapaian memperoleh ijazah. Pendidikan harus menjadi jalan untuk membangun kompetensi, memperluas wawasan, mengasah kemampuan, serta mempersiapkan diri menghadapi persaingan di dunia kerja maupun kehidupan bermasyarakat.
“Jangan pernah merasa cukup hanya karena sudah mendapatkan ijazah. Ijazah memang penting, tetapi keunggulan seseorang tidak cukup diukur dari selembar kertas. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan, kompetensi, integritas, dan keberanian untuk bersaing,” demikian pesan HRB kepada mahasiswa.
Ia mengingatkan, persaingan saat ini tidak lagi terbatas pada tingkat lokal. Lulusan perguruan tinggi harus mampu menunjukkan kualitasnya di tingkat regional, nasional, bahkan internasional. Karena itu, mahasiswa perlu membangun kebiasaan belajar yang kuat, terus meningkatkan kapasitas diri, serta tidak takut menghadapi kompetisi.
Persaingan Semakin Ketat, SDM Lokal Harus Berbenah
Untuk menggambarkan pentingnya peningkatan kualitas SDM, HRB mencontohkan proses penerimaan tenaga guru dari Kementerian Pendidikan untuk program Sekolah Rakyat. Dari 56 orang yang diterima, menurut data yang disampaikannya, hanya satu orang berasal dari Subulussalam.
Kondisi tersebut, kata HRB, menjadi bahan evaluasi sekaligus peringatan bahwa putra-putri daerah harus semakin serius mempersiapkan diri agar mampu mengambil peluang yang tersedia.
Seleksi yang mengedepankan kemampuan dan kompetensi menuntut setiap calon tenaga profesional untuk benar-benar memiliki kualitas yang dibutuhkan. Asal daerah saja tidak cukup menjadi modal untuk memenangkan persaingan apabila tidak dibarengi dengan kapasitas dan kesiapan yang memadai.
“Ini harus menjadi motivasi bagi kita semua. Anak-anak Subulussalam harus mampu bersaing. Jangan sampai peluang terbuka, tetapi kita tidak siap karena kemampuan dan kompetensi kita belum memenuhi kebutuhan,” menjadi pesan penting yang ditekankan dalam kuliah umum tersebut.
HRB berharap mahasiswa STIT Hafas menjadikan kondisi itu sebagai pemacu semangat untuk belajar lebih giat, memperluas pengetahuan, menguasai keterampilan, dan mempersiapkan masa depan sejak masih berada di bangku kuliah.
Ia ingin mahasiswa STIT Hafas tidak hanya menjadi lulusan yang memenuhi persyaratan akademik, tetapi juga menjadi tenaga pendidik dan intelektual muda yang diperhitungkan di berbagai bidang.
Dari Gagasan Menjadi Gerakan Nyata
Mengusung tema “Dari Gagasan Menjadi Gerakan”, HRB juga menekankan bahwa kemajuan Subulussalam membutuhkan keberanian untuk menerjemahkan pemikiran dan cita-cita menjadi tindakan nyata.
Gagasan pembangunan, menurutnya, tidak boleh berhenti dalam bentuk wacana. Gagasan harus ditindaklanjuti melalui program, kerja konkret, kolaborasi, dan komitmen bersama agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
Dalam konteks pembangunan SDM, perguruan tinggi menjadi salah satu ruang penting untuk mewujudkan perubahan tersebut. Kampus harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga sanggup menerapkan ilmu pengetahuan untuk menjawab persoalan di tengah masyarakat.
Karena itu, mahasiswa didorong untuk aktif mengembangkan potensi diri, membangun pola pikir maju, serta memiliki keberanian untuk mengambil peran dalam pembangunan daerah. Sementara itu, institusi pendidikan dituntut terus memperkuat kualitas pembelajaran dan menciptakan lingkungan akademik yang mendorong lahirnya lulusan berdaya saing.
Bagi HRB, pembangunan daerah dan pengembangan pendidikan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Kemajuan Subulussalam akan semakin kuat apabila didukung generasi terdidik yang memiliki kompetensi, kreativitas, dan semangat pengabdian.
STIT Hafas Harus Melahirkan Generasi yang Kompetitif
Sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan As Silmi Subulussalam, HRB menaruh harapan besar terhadap kemajuan STIT Hafas. Kampus tersebut diharapkan terus berkembang dan mengambil peran lebih besar dalam meningkatkan kualitas pendidikan serta melahirkan sumber daya manusia unggul dari Subulussalam.
Ia mendorong mahasiswa untuk memanfaatkan masa kuliah sebaik mungkin. Belajar, membaca, berdiskusi, mengembangkan keterampilan, dan membangun karakter harus menjadi bagian dari proses mempersiapkan diri menghadapi masa depan.
Mahasiswa juga diharapkan tidak membatasi cita-cita hanya pada peluang yang tersedia di daerah sendiri. Dengan persiapan yang matang dan kompetensi yang kuat, lulusan STIT Hafas harus berani melangkah dan berkompetisi di mana pun kesempatan terbuka.
Kuliah umum ini sekaligus menjadi pengingat bahwa tantangan pembangunan Subulussalam bukan hanya tentang membangun infrastruktur atau menghadirkan program, melainkan juga memastikan bahwa masyarakatnya memiliki kemampuan untuk memanfaatkan setiap peluang.
Sebab, gagasan besar membutuhkan manusia yang mampu mewujudkannya. Dan untuk membawa Subulussalam semakin maju, investasi pada pendidikan serta peningkatan kualitas SDM harus menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan.[](ril)








