ACEH UTARA – Masyarakat korban banjir bandang di Gampong Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, kesulitan untuk membersihkan rumah akibat banyak kayu gelondongan dan lumpur menimbun pekarangan. Kayu gelondongan juga menimbun sungai di pinggir meunasah (surau) gampong tersebut.
Bendahara Geudumbak, Ilyas, kepada wartawan, Ahad, 21 Desember 2025, mengatakan rumah-rumah warga gampong ini—yang tersisa—rusak parah dihantam kayu-kayu besar dihanyutkan banjir bandang dengan ketinggian air mencapai 5 meter pada 26 November 2025. Selain dipenuhi lumpur, sejumlah rumah juga tertimbun kayu yang belum dipindahkan.
“Kondisi rumah warga di sini bisa dikatakan 90 persen sudah tidak ada lagi, karena hanyut dibawa arus banjir. Ada sebagian masih tinggal sisa, tapi tidak layak untuk ditempati lagi, sehingga semua masyarakat saat ini mengungsi di sejumlah titik. Apalagi cukup banyak kayu-kayu besar menumpuk di halaman maupun di dalam rumah,” kata Ilyas.
Ilyas menyebutkan, mustahil bagi warga membersihkan kayu-kayu di dalam dan halaman rumah apabila tidak dibantu menggunakan alat berat dari pemerintah.
“Sejauh ini memang ada dua alat berat ekskavator disediakan pihak BNPB sedang membersihkan pekarangan meunasah, akses jalan masuk ke rumah warga. Lumpur pun masih banyak sampai sekarang,” ujar Ilyas.
Aparatur gampong itu sudah meminta kepada BNPB agar membantu ekskavator untuk pembersihan halaman rumah warga.
“Besar harapan kepada pemerintah agar membantu masyarakat ini sedang musibah untuk ikut membersihkan rumah yang tertimpa kayu tersebut supaya bisa dihuni kembali. Mengingat dua bulan lagi akan memasuki bulan suci Ramadan, dan tempat tinggal sementara juga sangat penting bagi kami,” ungkap Ilyas.
Ilyas menjelaskan, masyarakat Gampong Geudumbak sebanyak 460 KK atau 1.470 jiwa. Semua masyarakat mengungsi tersebar di beberapa titik antara lain di meunasah dan halaman masjid.
“Saat ini paling dibutuhkan tempat tinggal yang layak, tenda dari BNPB ada terpasang sekitar 50 unit. Namun, masih banyak dibutuhkan. Juga tidak ada sumber air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Fatal sekali jika air ini dalam waktu lama tidak bisa didapatkan, keperluan untuk wudu dan lainnya itukan memang hal utama bagi kehidupan kita,” ujar Ilyas.
Penebangan Liar Harus Ditindak Tegas

[Penampakan kayu gelondongan menutupi sungai di Gampong Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, Ahad, 21 Desember 2025. Foto: Fazil/portalsatu]
Kepala Dusun Bahagia, Gampong Rumoh Rayeuk, Kecamatan Langkahan, Abdurrahman, juga mengungkapkan banyak potongan kayu berukuran besar yang dibawa banjir di Kecamatan Langkahan.
“Di Bendungan Daerah Irigasi Krueng Jambo Aye terdapat kayu-kayu sisa penebangan. Kami berharap kepada pemerintah untuk menghentikan penebangan liar. Buktinya hari ini kita menyaksikan sangat banyak tumpukan kayu gelondongan, diperkirakan mencapai ratusan ton. Kalau akibat longsor itu pasti ada akarnya, ini kita melihat jelas bekas potongan kayu tersebut ulah manusia,” ungkap Abdurrahman.
Abdurrahman menyebutkan, penebangan liar yang menyebabkan banjir bandang telah berdampak terhadap masyarakat kehilangan harta benda. Oleh karena itu, kata dia, pemerintah dan aparat penegak hukum harus menindak tegas semua pelaku penebangan hutan.
“Khususnya kepada Pemerintah Aceh harus tegas dalam mengambil sikap terkait penertiban penebangan liar tersebut. Jangan sampai terjadi lagi, yang menjadi korban rakyat akibat banjir besar seperti ini. Karena sejak zaman dulu tidak pernah terjadi separah sekarang bencana banjir,” ujar Abdurrahman.[]







