BerandaBerita Aceh UtaraWarga Mulai Bersihkan Rumah, Sekolah Masih Diliburkan, dan Anak Yatim Mengungsi

Warga Mulai Bersihkan Rumah, Sekolah Masih Diliburkan, dan Anak Yatim Mengungsi

Populer

LHOKSUKON – Banjir yang melanda 16 kemacatan di Kabupaten Aceh Utara sudah surut, warga mulai kembali ke rumah untuk membersihkan lumpur sisa banjir. Sementara sekolah masih diliburkan, harga gabah anjlok.

Di Gampong Hagu, Kecamatan Matangkuli, warga yang pulang dari pengungsian untuk membersihkan rumah, Selasa, 4 Januari 2021, sempat waswas karena sekitar pukul 03.00 WIB Rabu (5/1) dini hari, genangan air kembali meninggi. Warga harus membersihkan ulang rumah mereka.

Dari 49 desa dalam Kecamatan Matangkuli, 11 desa berada di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Keureutoe dan Krueng Pirak terdampak banjir.

Warga Hagu yang sebelumnya mengungsi ke Masjid Baitul Ma’arif gampong setempat sudah berangsur pulang ke rumah. Namun, dapur umum yang terletak tidak jauh dari masjid masih difungsikan.

Nunun (40), salah seorang juru masak di dapur umum itu mengatakan setiap harinya mereka memasak tiga sak beras untuk makan siang dan malam. “Sembakonya dari Baznas, dari hari Minggu kami masak di sini, lalu dibungkus, sekitar 100 porsi lebih sekali masak, nanti masyarakat mengambil kemari,” ujarnya.

(Tumpukan buku pelajaran yang terendam banjir. Foto: Amrizal)

Kegiatan belajar mengajar di sekolah masih diliburkan, karena sejumlah fasilitas sekolah rusak.

“Kegiatan belajar seharusnya sudah dimulai pada 3 Januari, tapi karena kondisi belum normal, anak-anak masih diliburkan. Buku-buku ajar terendam karena tidak sempat diungsikan, hanya adm (administrasi) guru dan rapor anak-anak yang sempat diselamatkan, soalnya banjir terjadi saat masa libur sekolah,” jelas Kari Usman, guru SDN 6 Matangkuli.

Banjir juga menyebabkan harga jual gabah petai anjlok dari Rp5.500 menjadi Rp3.300 per kilogram.

Zulfirman (35), pengusaha kilang padi mengaku belum berani membeli banyak akibat kondisi tersebut. “Harga beli masih kisaran Rp4.000 per kilogram, kami pantau kondisi juga, kalau sempat terendam kan harus jemur lagi, jadi harga turun,” ungkapnya.

Sementara itu, di Posko BPBD Aceh Utara di depan Kantor Bupati, pengungsi masih bertahan. Pengungsi merupakan anak yatim asal Dayah Raudhatul Huda, Gampong Matang Ceubrek, Kecamatan Tanah Luas.

(Anak yatim di posko pengungsian depan Kantor Bupati Aceh Utara, Landeng, Lhoksukon, 5 Januari 2022. Foto: Amrizal)

Pimpinan Dayah Raudhatul Huda, Muhammad Dian akrab disapa Abi Dian, mengatakan  anak asuhnya merupakan anak yatim, piatu, dan anak telantar. “Ada 63 orang di sini, 20 perempuan, sisanya santri laki-laki, saat ini tinggal sekitar 40-an lagi karena tadi sebagian sudah dijemput pihak keluarga,” ujarnya.

Anak yatim tersebut dievakuasi dengan bantuan anggota TNI dari Paskhas pada Senin (3/1) dibantu LSM Gemantara Aceh Utara. “Anak-anak sempat terjebak dalam kompleks dayah waktu itu, Alhamdulillah sekarang sudah aman, cuma beberapa mulai mengeluh gatal-gatal,” jelasnya.[Mag-Amrizal]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terkait

Berita lainya