BANDA ACEH – Juru Bicara Partai Aceh, Suadi Sulaiman alias Adi Laweung, meminta Zaini Abdullah agar tidak berspekulasi dan menyikapi berlebihan usai mengundurkan diri dari Tuha Peut Partai Aceh. Dia mengatakan keputusan Zaini mengundurkan diri dari partai juga bukan paksaan orang lain.

“Melainkan perintah undang-undang bagi siapa pun yang mencalonkan diri sebagai kepala daerah melalui jalur idependen (perseorangan),” kata Adi Laweung melalui siaran pers kepada portalsatu.com, Kamis, 13 Oktober 2016.

Undang-Undang dan Qanun Aceh telah menetapkan agar para calon kepala daerah yang berasal dari partai politik, baik lokal maupun nasional yang maju dalam pilkada harus mengundurkan diri dari partai. Hal ini adalah salah satu persyaratan yang tercantum dan telah ditetapkan dalam aturan hukum berbentuk undang-undang.

“Partai Aceh tidak pernah memaksa agar Zaini mundur dari partai besutan mantan kombatan ini, bahkan kami sangat menyayangkan dia keluar. Namun, apa hendak dikatakan keputusannya sudah seperti itu,” kata Adi Laweung.

Dia mengatakan jika sekarang Zaini menyesal telah mengundurkan diri bukan lagi urusan Partai Aceh. “Siapa suruh mundur?”

Menurut mantan anggota DPRK Pidie ini, penyesalan Zaini Abdullah yang keluar dari Partai Aceh jelas terlihat saat petahana tersebut menolak Qanun Aceh tentang Pilkada. Adi juga menilai aneh saat Zaini melalui juru bicara pemenangannya, Fauzan Febriansyah, mengatakan akan merebut Partai Aceh jika terpilih kembali menjadi gubernur. Misi merebut PA ini justru dicantumkan dalam program 100 hari kerja Zaini-Nasaruddin.

“Ya nggak connect lah. Kok nanti mau direbut? Saat dirinya sebagai salah satu anggota Tuha Peut pun tidak pernah berhasil, bagaimana nantinya?”

Adi Laweung menganjurkan Zaini Abdullah untuk membuat partai baru jika memang kukuh bertahan di dunia politik. Menurutnya sosok Zaini Abdullah mampu melakukan hal tersebut.

“Kan ada dan banyak sanak keluarganya yang bisa ditetapkan sebagai pengurus partainya nanti, buat apa-apa susah rebut Partai Aceh yang sampai sekarang masih dimiliki oleh seluruh rakyat Aceh,” ujar Adi Laweung lagi.

Pria asal Laweung ini mengingatkan bahwa Partai Aceh adalah milik seluruh generasi Aceh. Untuk hal ini, Adi juga menekankan Partai Aceh bukan milik keluarga Zaini.

“Konon lagi sudah mengundurkan diri demi kekuasaan kursi gubernur,” Tutur Adi Laweung.

Di sisi lain, Adi selaku Jubir DPA PA turut mengingatkan Fauzan Febriansyah agar tidak mencampuri urusan internal partai besutan mantan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tersebut. Adi menyarankan agar Fauzan fokus pada kerjanya sebagai tim pemenangan Zaini Abdullah-Nasaruddin, “bukan malah menyatakan ingin merebut Partai Aceh.”

Dia turut mempertanyakan sosok Fauzan Febriansyah yang bukan mantan kombatan GAM dan juga bukan pengurus Partai Aceh serta relawan. “Fauzan bek cangklak that (Fauzan jangan ambisius lah). Bek lumo grop paya, guda cot iku (jangan lembu lompat rawa, kuda yang tegang ekornya). Fauzan sadari dirilah, dari mana asalnya. Konon lagi dia tidak tahu apa-apa tentang latar belakang dan proses lahirnya Partai Aceh. Jadi ya, Fauzan bek meu-lumpoe soh lah, meunyo meu-lumpoe yang meu-asoe lah (jangan mimpi kosong lah, kalau memang bermimpi yang ada isinya lah),” kata Adi Laweung.[]