Oleh: Teuku Hafas Umara
Di zaman globalisasi ini, teknologi berkembang pesat. Di kalangan anak-anak dan remaja, salah satu yang sangat berkembang saat ini adalah game. Game saat ini dimainkan dengan sangat mudah. Dengan menggunakan HP, PC, dan internet kita bisa langsung mengakses berbagai macam game, baik itu online maupun offline.
Salah satu penelitian di Amerika mengungkapkan bahwa 2/3 dari total rumah tangga yang memiliki anak usia sekolah (6-18 tahun) mempunyai komputer di rumahnya, dan sekitar 59% di antaranya dimanfaatkan untuk bermain game online (Harvien Amellia H 2013).
Nah, apa sih yang membuat orang tertarik bermain game? Game sangatlah menarik karena terdapat hal-hal yang keren, menyenangkan, dan berkesan bagi pemainnya. Orang biasanya bermain game untuk menghilangkan kejenuhan. Akan tetapi, ada juga orang yang bermain game terlalu lama hingga lupa dengan dunianya, sehingga berdampak negatif bagi kehidupan. Orang yang terlalu asyik bermain game akan mengalami kecanduan. Dari sudut pandang psikologi, adiksi atau kecanduan ini termasuk dalam abnormal karena berdampak pada kesehatan mereka.
Kecanduan game atau game addiction merupakan salah satu bentuk kecanduan disebabkan teknologi internet. Orang yang candu game cenderung memiliki tingkah laku bergantung yang sangat kuat secara fisik maupun psikologis dalam bermain game online. Pecandu game tidak bisa lepas dari bermain game dan seiring berjalannya waktu akan terjadi peningkatan frekuensi, durasi atau jumlah dalam melakukan hal tersebut, tanpa memedulikan konsekuensi negatif (LF Nikmah, 2015).
Adiksi game ditandai dengan pemain bermain game secara berlebihan seakan-akan tidak ada hal yang ingin dikerjakan selain bermain game, dan seolah-olah game ini adalah hidupnya, serta memiliki pengaruh negatif bagi pemainnya (Harvien Amellia H, 2013).
Jika seseorang kecanduan game, menanganinya memerlukan beberapa tahapan sulit. Untuk mencegah seseorang kecanduan game kita harus mengetahui apa saja faktor penyebabnya. Ada dua faktor yang menyebabkan seseorang bermain game:
Faktor internal adalah rasa bosan, dan ketertarikan. Faktor eksternal yaitu stres, komunitas game (Abduljalil, 2015).
Douglas A. Gentile, seorang psikolog, mengatakan anak akan mengalami dampak negatif, yaitu kecanduan, depresi, gelisah, masalah konsentrasi, lupa waktu, rusak mata, menghambur-hamburkan uang dan waktu, sering berbohong, tertutup dengan lingkungan (Aisyachumaira, 2012).
Namun, bermain game juga memiliki dampak positif, yaitu melatih pikiran dan konsentrasi, mengembagkan kemampuan membaca dan menganalisis, mengurangi stres, kerja sama, dapat menguasai komputer, pandai berbahasa Inggris, menambah teman, dan menghasilkan uang (Yee. N, 2005).
Walaupun game memiliki dampak positif bagi kehidupan, kita tidak boleh terlalu lama dalam memainkannya.
Game tidak hanya dimainkan oleh kaum laki-laki, tetapi wanita pun memainkannya. Game sangatlah menarik bagi para peminatnya, membuat mereka sangat antusias. Bahkan tak jarang ada yang sampai lupa waktu dalam memainkannya. Tak hanya lupa waktu, para maniak game pun tak sungkan mengeluarkan uang demi membeli item yang ada di dalam game.
Ketika ditanya, “mengapa sampai lupa waktu dan rela mengeluarkan uang demi sebuah game?” Mereka menjawab, “itu kan demi kesenangan dan hiburan semata, apa salahnya!”
Memang betul tidak salah bermain game. Namun kita harus bisa membagi waktu antara bermain, istirahat, belajar, dan bekerja. Bukan setiap saat bermain game. Bahkan, jam tidur malam pun dipakai untuk bermain game.
Adiksi game rupanya telah menjadi perhatian serius para psiokolog dunia. Menurut penelitian para psikolog yang tergabung dalam American Medical Association (AMA), kecanduan game disebabkan oleh pelepasan zat neurochemical – dopamine pada otak anak saat memainkan game tersebut. Pelepasan tersebut menimbulkan perasaan senang dan nyaman. Dalam situasi umum, dopamine bekerja dengan efektif saat seseorang mendengarkan musik harmonis, menikmati makanan yang lezat, dan menonton film favorit.
Professor dari Nottingham Trent University, Inggris menemukan bahwa game perlu mendapat perhatian. 12% dari 7.000 pemain game dapat dipastikan akan kecanduan. Candu tersebut ternyata berdampak serius pada perkembangan anak. Ada tiga dampak yang diakibatkan oleh kecanduan game menurut WHO (Word Health Organization): Menarik diri dari lingkungan, mudah kehilangan kendali, dan tidak peduli dengan kegiatan lain disekitarnya (ZiGY, 2016).
Peran orang tua dalam mengawasi dan menjaga si anak merupakan hal terpenting yang harus dilakukan. Hal tersebut tidak lain untuk kebaikan si anak agar tidak terlena dengan game yang membuat mereka lupa waktu, jam tidur berkurang karena game, dan yang terburuk adalah menghabiskan uang secara cuma–cuma demi game.
Menurut B.F Skinner dalam Slavin (2006), penggunaan konsekuensi yang menyenangkan atau tidak menyenangkan untuk mengendalikan terjadinya perilaku. Konsekuensi yang menyenangkan disebut penguatan (reinforce), dan konsekuensi yang tidak menyenangkan disebut penghukuman (punisher). Dalam hal ini orang tua dapat mengontrol dan mengawasi anaknya dengan memberikan konsekuensi tertentu terhadap sikap dan perilaku si anak, karena konsekuensi tidak menyenangkan dapat mengurangi kebiasaan dari perilaku anak. (Abduljalil, 2015)
Apabila si anak mengalami adiksi game yang sudah cenderung parah, alangkah baiknya ditangani oleh psikolog/psikiater yang memiliki kompetensi klinis di bidang tersebut.
*Teuku Hafas Umara adalah mahasiswa Psikologi Unsyiah







