Mereka pun mengisahkan. Sejak umur lima belas tahun, Putri Nilam Cahya belajar ilmu perang pada ayahnya. Sekarang dia menjadi ahli dalam menembak, memainkan pedang, dan bela diri silat.
“Yang disayangkan, bukannya lembut dan penyayang seperti ibunya serta bijaksana seperti ayahnya, gadis itu malah galak bukan kepalang. Setiap hari, dia keluar dan setiap hari pula dia berkelahi dengan siapapun yang diinginkannya,” kata tentara penjaga berwajah Persia.
“Gadis kesukaanku telah besar,” Kapten Let Pande meneguk air nira, kemudian menyerahkannya kepada pejaga berwajah Ethiopia.
“Apa dia pernah kalah?”
Kedua tentara itu menggeleng cepat-cepat.
“Mengapa kalian sering dipukulnya?”
“Kami hanya mengerjakan perintah Teungku Chik untuk menyuruhnya pulang sebelum malam,” kata tentara berwajah Ethiopia.
“Sekarang dia di mana?”
Lagi, kedua tentara itu menggeleng cepat-cepat.
“Sehebat apa dia berkelahi dan menggunakan pedang.”
“Kami pernah melihat dia memotong-motong pohon pinang utuh di kebun belakang, setelahnya pohon itu masih berdiri beberapa detik, sebelum tumbang menjadi potongan setipis keripik,” kata tentara berwajah Persia.
“Dia pernah memukul seekor lembu dengan kepalan tangannya. Dalam beberapa saat, lembu itu mati,” tentara berwajah Ethiopia meneguk air nira.
“Itu dia!” tentara berwajah Persia menunjuk halaman depan dengan sudut matanya, tidak berani melihat langsung.
“Oh, gadisku,” Kapten Let Pande melompat dari balai-balai penjaga dan mendekati Putri Nilam Cahya yang menyanang pedang di pinggangnya.
“Assalamu’laikum, Tuan Putri. Masihkah engkau ingat padaku?” Kapten Let Pande berkata-kata selembut-lembutnya seraya tersenyum.
“Engkau Kanda Let Pande, kah. Aku sudah lama menunggumu!” teriak Putri Nilam Cahya seraya melompat ke hadapan pemuda itu.
“Ternyata mereka saling kenal. Hasbislah kita.”
Kedua tentara penjaga terkejut.
“Benar, Adinda Putri. Aku membawakan hadiah untukmu,” Kapten Let Pande menyerahkan satu salinan pakaian buatan Istanbul yang dibelinya dari istri seorang ahli meriam dari Turki.







