“Wah. Ini cantik sekali. Aku suka. Alhamdulillah. Apa ayah sudah tahu engkau datang? Mari, aku akan memasak tumis bayam kesukaanmu,” Putri Nilam Cahya menarik tangan Kapten Let Pande.
“Memasak tumis bayam kesukaanmu. Dia bahkan tahu kesukaannya. Benarkah dia benar mampu memasak?” tentara penjaga berbisik-bisik, lalu menggeleng-geleng. Selama ini yang memasak di Dayah Teungku Chik Indrapuri adalah tantara penjaga.
Dayah Indrapuri terletak di antara bebukitan kaki gunung Seulawah yang memiliki persawahan. Teungku Chik Indrapuri mendirikannya tiga puluh tahun lalu. Sejak saat itu, dia tinggal dan mengajar di sana. Akan tetapi, sampai sepuluh tahun lalu, dia hanya memiliki enam orang murid. Kapten Let Pande adalah yang terakhir yang diterimanya. Saat itu, Tgk Chik Indrapuri berusia sembilan puluh tahun. Karena menjadi murid terakhir itulah Kapten Let Pande dipanggil tulet-bungsu, disingkat menjadi Let. Teungku Chik Indrapuri pun memanggilnya, Let Pande, si bungsu dari Gampong Pande.
Teungku Chik Indrapuri tinggal di dayah itu bersama anak perempuannya yang berusia sebelas tahun. Isteri lelaki berusia lanjut itu meninggal dunia saat usia anak perempuannya berusia dua tahun. Sultan menugaskan sepuluh orang tentara untuk menjaga tempat itu. Teungkiu Chik Indrapuri adalah ketua mufti Kesultanan Aceh Darussalam.
Saat masuk ke Dayah Indrapuri, Kapten Let Pande berusia lima belas tahun. Kini dia berusia dua puluh lima tahun, dan putri Tgk Chik Indrapuri berusia dua satu puluh tahun. Dua tentara yang bertugas di halaman hari ini baru tiga tahun ditugaskan di sana. Sementara delapan petugas lama tengah berada di kebun belakang.[]
… Bersambung ke Episode 12
Baca Episode 10



