Cintaku Padamu, atau pada yang Lain

 

Aku mencintaimu, bukan untukku sendiri,
tapi untuk kehidupan yang lain,
sebagaimana udara mencintai paru-paru
sebagaimana jantung mencintai darah.

 

Kita bersatu, tapi bukan untuk diri kita sendiri
Kita bersatu, tapi tidak pernah bersama.

 

Aku mencintaimu, tapi tidak hidup denganmu
mungkin aku hidup bersamamu,
atau mungkin bersama yang lain,
atau mungkin tidak bersama siapa pun.
Itu tidak penting lagi, di tingkatkan ini.

 

Aku tidak memilikimu di kehidupan ini,
tidak pula di kehidupan berikutnya.
Aku mencintaimu, sebuah cinta yang tidak mengharapkan balasan apa-apa.

 

Aku mencintaimu untuk sejarahku sendiri,
bahwa cinta pernah melintasi diriku,
di kala syarat masyrut dunia merampas hakikat cinta itu,
seperti Iblis merampas cinta Adam kepada Hawa.

 

Aku mencintaimu untuk kepentingan cinta itu sendiri
cinta yang tidak pernah kumiliki, milik-Nya.

Cintaku seperti jantung yang memompa darah,
yang tidak pernah dimilikinya,
dipompa untuk kehidupan yang lain.

 

Untunglah, di jantung hatiku ada pemancar cinta kepada Tuhan
Ketika cintaku tertuju pada-Nya, maka cintaku padamu,
cintaku pada yang lain seperti setetes air mata di Krueng Daroi,
menyebar dan hambar, lalu lenyap ke samudra.

Ketika cintaku diterima-Nya,
cukuplah itu bagiku,
aku tidak membutuhkan cinta yang lain.

 

Banda Aceh, 27 April 2025 / 29 Syawal 1446 H.

Thayeb Loh Angen (Muhammad Thaib bin Sulaiman).