BerandaDatangi Aceh, KPK: Korupsi Terjadi Karena Terburu-Buru

Datangi Aceh, KPK: Korupsi Terjadi Karena Terburu-Buru

Populer

BANDA ACEH – Korupsi terjadi karena seseoang yang berkesempatan bersifat tidak sabar alias ingin cepat, instan.

Demikian kata Campaign Specialist Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat (Dikyanmas) KPK RI, Ramah Handoko, di Keude Kupi Aceh, Banda Aceh, Selasa, 1 Maret 2016.

“Salah satu yang menjadikan seseorang berperilaku koruptif dalam kesehariannya adalah karena tidak sabar. Tidak sabar dalam membuat Paspor, SIM atau berbagai keperluan lainnya yang sudah diatur dalam ketentuan UU sehingga lebih memilih untuk mengambil jalan pintas baik suap maupun gratifikasi,” katanya.

Ramah mendatangi berbagai lintas komunitas di Aceh. Ia berdiskusi dengan siswa dan alumni Sekolah Anti Korupsi Aceh (SAKA), Komunitas Anti Korupsi Aceh (KAKA), SPAK Aceh, dan IPEMAS Sabang.

Diskusi yang digelar oleh pengurus SAKA tersebut dimulai pukul 21.10 WIB hingga 23.30 WIB berlangsung hangat dan interaktif, ditambah dengan sesi tanya jawab oleh seluruh peserta yang mencapai 20 orang.

Dalam kesempatan tersebut Mas Koko, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa Dikyanmas KPK RI sejak setahun lalu fokus terhadap pemberdayaan komunitas. Sehingga, tambahnya, komunitas tersebut memiliki kesadaran dan keinginan serta desire, untuk selalu beraksi memberantas korupsi.

“Pemberdayaan komunitas tidak bermaksud mendikte, namun lebih kepada membangkitkan kesadaran mereka, sehingga setiap aksi yang dilakukan merupakan bagian dari kebutuhan mereka sendiri,” ujar Mas Koko.

KPK RI menyadari bahwa memberantas korupsi tidak selalu dengan penindakan yang spektrumnya adalah hukum, namun juga harus disertai dengan sisi pencegahan yang spektrumnya lebih luas yaitu dari anak kecil hingga para pejabat.

“Penindakan tindak pidana korupsi menjadi tugas dan tanggung jawab KPK, namun perilaku korupsi dalam kehidupan sehari-hari siapa yang bertanggung jawab? Oleh karenanya, KPK merasa perlu menyentuh sisi-sisi lain dalam usaha memberantas setiap tindakan korupsi,” lanjutnya

Mas Koko mengakui bahwa Aceh itu unik, dan punya keunikan sendiri. Dan pastinya Aceh Punya SAKA yang menjadi model gerakan dan kepedulian pemuda aceh dalam usaha menjadikan Aceh lebih baik tanpa korupsi.

“SAKA menjadi model bagi nasional dan daerah lain dalam membangun kepedulian pemuda yang berintegritas,” akunya.

Dalam usahanya melakukan pemetaan komunitas yang ada di Aceh saat ini, Koko mengharapkan akan muncul suatu ide atau langkah-langkah kreatif, unik dan sangat Aceh dalam upaya menumpas perilaku korupsi dalam kehidupan sehari-hari.

Laporan: Evan Saputra, Pengurus Sekolah Anti Korupsi Aceh (SAKA), Alumnus Sekolah Hamzah Fansuri (ASHaF).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terkait

Berita lainya