LHOKSUKON – Stunting menjadi masalah kesehatan yang membutuhkan penanganan cepat dan tepat serta perhatian dari seluruh pihak. Dari pihak Kementerian Kesehatan di tingkat pusat hingga Dinas Kesehatan di daerah antara lain melakukan intervensi dengan pendekatan gizi spesifik.

Intervensi spesifik yang dilakukan sebelum dan saat kehamilan merupakan agenda prioritas pemerintah untuk mencegah stunting pada anak. Cara ini, dinilai jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah bayi lahir.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Aceh Utara, Jalaluddin, SKM., M.Kes., mengatakan prioritas untuk pencegahan stunting dengan memberikan perhatian serius kepada ibu hamil. Kehamilan adalah periode penting yang dapat memengaruhi kesehatan ibu dan bayi yang dilahirkan.

“Sebelum kelahiran penting untuk intervensi di masa kehamilan. Intervensi pada ibu hamil dengan mencukupi kebutuhan gizi, pemberian tablet tambah darah dan pemberian makanan tambahan,” ujarnya, Kamis, 3 Juli 2025.

Faktor-faktor pada masa kehamilan yang dapat memengaruhi kejadian stunting adalah anemia defisiensi besi, kurang energi kronik (KEK), obesitas, dan perilaku kunjungan pemeriksaan kehamilan.

Untuk mengetahui ibu hamil kekurangan gizi atau tidak, selama masa kehamilan disarankan rutin melakukan pemeriksaan Antenatal Care (ANC) enam kali dan pemeriksaan USG setiap bulan. Tujuannya untuk mengetahui berat dan tinggi bayi apakah kekurangan atau kelebihan.

Program intervensi spesifik, sebelum lahir meliputi remaja putri konsumsi tablet tambah darah (TTD), skrining anemia pada siswa kelas 7 dan 10, pemeriksaan kehamilan (ANC) enam kali (dua kali dengan dokter termasuk pemeriksaan USG,) ibu hamil mengkonsumsi TTD selama kehamilannya dan ibu hamil kurang energi kronik (KEK) mendapat tambahan asupan gizi protein hewani.
Dengan pendekatan spesifik diharapkan penurunan stunting bisa terjadi. Pendekatan spesifik dilakukan untuk melihat faktor risiko kemungkinan stunting di kemudian hari dan dilakukan intervensi di sektor kesehatan. Sementara intervensi sensitif dilakukan melalui berbagai kerjasama lintas sektor dan menyasar pada kelompok umum.

Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting dengan kelompok sasaran meliputi remaja, calon pengantin/calon pasangan usia subur (PUS), ibu hamil, ibu menyusui, dan anak berusia 0 (nol) – 59 bulan, sebagai periode kritis pertumbuhan dan perkembangan dalam siklus kehidupan.

Pendekatan berbasis keluarga berisiko stunting dengan sasaran calon pengantin, ibu hamil, dan anak balita merupakan sebuah pendekatan yang dilakukan sebagai upaya dalam memastikan seluruh intervensi spesifik maupun sensitif dapat menjangkau seluruh keluarga yang mempunyai risiko melahirkan anak stunting.

Upaya pendekatan berbasis keluarga risiko stunting diharapkan mampu menjadi pemicu sekaligus pemacu dalam meningkatkan kinerja yang mendukung pelaksanaan percepatan penurunan stunting.

Selain itu, kolaborasi setiap level pemerintahan dengan dukungan masyarakat berperan penting dalam mempercepat penurunan stunting.

Memenuhi Kebutuhan Gizi

Diketahui, permasalahan kurang gizi pada ibu hamil di Indonesia menjadi perhatian Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin dan berbagai ahli gizi dunia. Untuk memenuhi kebutuhan gizi tersebut, Menkes berharap berbagai mikronutrien yang dibutuhkan ibu hamil dapat terpenuhi, sehingga terhindar dari berbagai permasalahan seputar kehamilan seperti anemia yang menjadi faktor risiko berat badan lahir rendah (BBLR), dan stunting.

Pada akhir tahun 2024 lalu, menyikapi tingginya angka anemia pada ibu hamil, Menkes Budi bersama lembaga kesehatan dunia dan lembaga kesejahteraan anak seperti WHO dan Unicef merekomendasikan penggunaan suplemen Multiple Mikronutrien Suplementasi (MMS) untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ibu hamil.

Menkes Budi menambahkan, berdasarkan penelitian, MMS memiliki kandungan gizi yang dibutuhkan oleh ibu hamil, sehingga dapat mengurangi berbagi risiko yang menyertai kehamilan.

“Hasil penelitian bilang kalau pakai MMS ini, gizinya ibu hamil akan jauh lebih baik. Kemudian, bayinya lahirnya juga lebih sehat, mengurangi bayi lahir yang pendek, dan juga mengurangi bayi lahir yang stunting, dan juga mengurangi kematian bayi.”

Dia berharap berbagai mikronutrien yang dibutuhkan ibu hamil dapat terpenuhi, sehingga terhindar dari berbagai permasalahan seputar kehamilan seperti anemia yang menjadi faktor risiko berat badan lahir rendah (BBLR), dan stunting.[](*)