Seorang dosen di Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) Banda Aceh, Zahraini, S.Pd, M.Pd, menjadi trainer di Tenggulun, Kabupaten Aceh Tamiang, Sabtu-Ahad/ 14 – 15 Mei 2022.
Acara tersebut bertema “Pengembangan kreativitas olahan ubi kayu dan pisang”, dilaksanakan oleh Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA).
Zahraini mengatakan, dalam undangan yang diterimanya pada 9 Mei 2022, Farwiza Farhan Ketua HAkA, mengatakan bahwa HAkA adalah Lembaga nirlaba yang berbasis di Aceh, bergerak dalam isu perlindungan lingkungan melalui pemberdayaan masyarakat.
“HAKA juga berkontribusi dan berpartisipasi dalam kegiatan meningkatkan fungsi lingkungan, mempertahankan hutan, sungai dan udara guna menjamin ketersediaan lingkungan hidup yang baik di masa yang akan datang. Program yang saya isi ini adalh ‘Training “Pemetaan dan Pengembangan Produk Hijau Berbasis SDA Lokal yang Berpotensi untuk Dikembangkan’,” kata Zahraini.
Zahraini mengisahkan bagaimana dirinya membuat tepung pisang pada awalnya.
Sekira pada pada tahun 2019 awal, pihak pengurus PKK Aceh Besar mengadakan lomba produk unggulan gampong. Ada dua perlombaan B2A dan produk unggulan.
“Dari produk unggulan, saya berinisiatif membuat tepung pisang. Hal itu mengingat pengalaman pada waktu kuliah S1 jurusan PKK, saya membuat tepung pisang di mata kuliah pengawetan makanan. Lalu saya ikut lomba produk unggulan tersebut,” kata Zahraini.
Kata dia, pada saat membuat tepung pisang pada perlombaan tersebut, hadir Yusriana Bz, yang saat itu masih pejabat PKK Kecamatan Lhoknga. Dialah yang mengenal pengurus HAKA.
“Baru-baru ini, mereka datang ke rumah, mengatakan HAKA memiliki program di Tamiang dan tertarik membuat pelatihan tepung pisang di sana.

“Di Tenggulun, Tamiang, saya mengajarkan cara membuat tepung pisang. Sementara Yusriaza Bz mengajarkan cara membuat tepung ubi. Saya juga membuat beberapa jenis kue berbahan tepung pisang,” kata Zahraini.
Tempat acara tersebut berada di kawasan hutan, sekira 26,5 kilometer dari Kuala Simpang ke arah barat daya.
Dari Kuala Simpang, menusuri jalan berbatu yang di kiri kanannya kebun sawit. Satu dua rumah di pinggir jalan terlihat. Ada juga tempat yang banyak rumah.
Tempat acara di tempat restorasi Gunong Leuser. Itu merupakan dataran meninggi dan terdapat pemukiman, di kawasan yang sering disambar petir menggelegar seperti malam kami di sana, petir dan hujan gerimis.
“Tempat menggunakan listrik panel tenaga surya. Kalau malam tiba, ada banyak kunang kunang terlihat. Terdengar suara katak, dan banyak pacat. Saya senang dapat ke sini,” kata Zahraini, dosen UBBG yang tengah menyelesaikan program doktoralnya jurusan Manajemen Kependidikan di Unimed (Universitas Negeri Medan).[]






