BANDA ACEH — Persoalan kesehatan manusia kini semakin sulit dipisahkan dari kondisi lingkungan dan kesehatan hewan. Perubahan iklim, penyakit zoonotik, resistensi antimikroba, degradasi lingkungan, hingga persoalan kesehatan masyarakat menunjukkan bahwa penyelesaian masalah kesehatan membutuhkan kerja sama lintas disiplin, Senin, (24/8).
Atas dasar itu, Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Syiah Kuala (FKG USK) memperkuat integrasi pendekatan One Health dalam pendidikan profesi kesehatan melalui kegiatan Guest Lecture “Integrating One Health into Health Profession Education – Towards Collaborative Curriculum in Indonesia” yang diselenggarakan Departemen Oral Biology FKG USK di Banda Aceh.
Kegiatan tersebut menghadirkan Dr. Nur Indah Binti Ahmad dari Malaysia One Health University Network (MyOHUN) dan Dewi Harfina dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai narasumber.
Kuliah tamu ini menjadi ruang akademik untuk memperluas pemahaman sivitas akademika mengenai One Health, sebuah pendekatan yang memandang kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan sebagai satu kesatuan yang saling berkaitan.
Tantangan Kesehatan Tak Lagi Bisa Ditangani Sendiri
Dekan FKG USK menegaskan bahwa perkembangan persoalan kesehatan menuntut perubahan cara pandang dalam pendidikan tenaga kesehatan. Pendekatan yang hanya mengandalkan satu disiplin ilmu dinilai tidak lagi memadai untuk menjawab persoalan kesehatan yang semakin kompleks.
Menurutnya, mahasiswa perlu diperkenalkan sejak dini pada kemampuan bekerja bersama profesi lain. Mereka tidak hanya dituntut memahami kompetensi keilmuan masing-masing, tetapi juga mampu melihat hubungan antara persoalan kesehatan dengan faktor lingkungan, sosial, dan berbagai sektor lainnya.
“One Health bukan hanya sebuah konsep, tetapi cara berpikir yang perlu mulai diintegrasikan ke dalam pendidikan tenaga kesehatan. Mahasiswa perlu dibekali kemampuan untuk melihat persoalan kesehatan secara lebih luas, bekerja secara kolaboratif, dan menghasilkan solusi yang berdampak bagi masyarakat,” ujar Dekan FKG USK, Dekan FKG USK, Dr. drg. Zulfan Alibasyah, Sp.Perio,
Dalam konteks kedokteran gigi, pendekatan One Health juga memiliki keterkaitan dengan berbagai persoalan, termasuk penggunaan antibiotik secara bijak, kesehatan lingkungan, pengelolaan limbah, serta hubungan kesehatan rongga mulut dengan kondisi kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Heru Fahlevi Dorong Collaborative Learning
Wakil Rektor USK Bidang Akademik, Prof. Dr. Heru Fahlevi, SE., M.Sc., Ak., CA, dalam sambutannya sebelum membuka kegiatan, menekankan pentingnya perubahan model pendidikan dari sekadar interdisipliner menuju collaborative learning.
Menurut Heru, pendidikan kesehatan masa depan perlu memberikan pengalaman kepada mahasiswa untuk bekerja bersama dengan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu dalam memahami dan menyelesaikan persoalan.
Mahasiswa kedokteran, kedokteran gigi, kedokteran hewan, kesehatan masyarakat, kehutanan, pertanian, kelautan, teknik, dan bidang lainnya perlu dibiasakan untuk melihat satu persoalan dari berbagai perspektif.
Pendekatan tersebut, kata dia, sejalan dengan semangat kegiatan “Integrating One Health into Health Profession Education Towards Collaborative Curriculum in Indonesia”.
Heru menegaskan, One Health tidak boleh berhenti sebagai tema seminar atau diskusi akademik. Konsep tersebut harus diterjemahkan menjadi aksi dan kebijakan yang memiliki dampak nyata.
Karena itu, USK mengharapkan kolaborasi yang dibangun melalui kegiatan tersebut dapat bermuara pada pengembangan kurikulum bersama, riset lintas disiplin, pengabdian kepada masyarakat, policy brief, inovasi, serta rekomendasi kebijakan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan pemangku kepentingan.
“Penerapan One Health harus menghasilkan aksi dan kebijakan nyata, bukan berhenti pada seminar atau nota kesepahaman semata,” ujar Prof. Dr. Heru Fahlevi.
Ia juga mengajak peserta menjadikan kuliah tamu tersebut sebagai titik awal untuk membangun jejaring yang lebih luas, termasuk jejaring akademik internasional.
Menurut Heru, mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut merupakan calon tenaga profesional yang nantinya akan berhadapan dengan persoalan kesehatan masyarakat yang semakin kompleks. Karena itu, kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, dan menghasilkan solusi lintas profesi menjadi bagian penting dari kompetensi yang harus dipersiapkan sejak bangku pendidikan.
Memperkuat Internasionalisasi Pendidikan
Bagi FKG USK, kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat internasionalisasi pendidikan kedokteran gigi.
Kehadiran narasumber dari Malaysia One Health University Network dan BRIN membuka ruang pertukaran pengetahuan sekaligus memperluas jejaring akademik antara perguruan tinggi, lembaga riset, dan jaringan One Health di tingkat internasional.
Kolaborasi semacam ini diharapkan tidak berhenti pada satu kegiatan. FKG USK mendorong agar jejaring tersebut berkembang menjadi kerja sama dalam bidang pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga penyusunan rekomendasi kebijakan.
Pendekatan tersebut penting untuk memastikan bahwa pendidikan kedokteran gigi tidak hanya berorientasi pada kemampuan klinis, tetapi juga mampu merespons perubahan dan tantangan kesehatan global.
Mahasiswa diharapkan memiliki perspektif yang lebih luas mengenai hubungan antara kesehatan rongga mulut, kesehatan individu, lingkungan, perilaku masyarakat, serta sistem kesehatan secara keseluruhan.
Dari Konsep Menuju Dampak
Melalui semangat “One Health, One Future”, FKG USK memandang pendidikan kesehatan sebagai salah satu fondasi penting dalam membangun sistem kesehatan yang lebih terintegrasi, berkelanjutan, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat serta kelestarian lingkungan.
Integrasi One Health ke dalam pendidikan juga diharapkan dapat melahirkan generasi tenaga kesehatan yang tidak bekerja dalam sekat profesi, melainkan mampu membangun komunikasi dan kolaborasi untuk menyelesaikan persoalan secara bersama.
Pada tahap berikutnya, gagasan tersebut diharapkan dapat diterjemahkan ke dalam kurikulum kolaboratif, penelitian lintas disiplin, program pengabdian masyarakat, serta rekomendasi kebijakan berbasis bukti.
Dengan demikian, kuliah tamu yang digelar FKG USK bukan sekadar forum akademik untuk memperkenalkan konsep One Health. Kegiatan ini diharapkan menjadi salah satu pijakan awal menuju perubahan paradigma pendidikan profesi kesehatan—dari pembelajaran yang berjalan dalam sekat disiplin menuju pendidikan yang mendorong kolaborasi dan menghasilkan solusi nyata.
FKG USK berkomitmen menjadikan One Health sebagai bagian dari transformasi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, sekaligus memperkuat posisi USK sebagai ruang bertemunya berbagai disiplin ilmu dalam menjawab tantangan kesehatan masa depan.








