LHOKSUKON – Masyarakat Dusun Sarah Raja, Desa Lubok Pusaka, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, belum menikmati hak dasar mereka secara layak sebagai warga negara. Masyarakat daerah pedalaman itu masih kesulitan memperoleh pelayanan kesehatan, pendidikan, air bersih, dan akses jalan.
Kondisi tersebut disaksikan langsung para aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Lhokseumawe-Aceh Utara saat mengadakan kegiatan “HMI Mengajar” di Sarah Raja yang memiliki penduduk sekitar 120 jiwa atau 36 keluarga.
“HMI Mengajar merupakan bentuk ikhtiar HMI untuk mengabdi kepada umat dan bangsa. Kami ingin memberikan warna baru di HMI, ikut langsung membantu masyarakat kecil yang mengalami kesulitan dan berbagai permasalahan. Kegiatan itu kami laksanakan selama empat hari, 21-24 Okrtober 2021, dengan menginap di Sarah Raja, yang jaringan internet/HP hampir tidak mungkin ada, akses masyarakat juga cukup sulit baik jalur darat maupun sungai,” kata Kabid Pendidikan dan Iptek HMI Cabang Lhokseumawe-Aceh Utara, Ari Maulana, Jumat, 29 Oktober 2021.
Selain mengajar anak-anak Sara Raja, HMI membantu masyarakat merenovasi bangunan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dan kegiatan lainnya. PAUD Sejumput Asa itu dibangun tahun 2021 dengan bantuan para relawan lain yang sudah lebih dahulu berkunjung ke sana.
“Di PAUD tersebut ada 10 anak TK, dan dua anak SD, dengan satu guru,” ujar Ari Maulana.

Guru itu bernama Anacahyati, usianya 16 tahun, tamat SMP tahun 2020. Dia guru yang benar-benar mengabdi, memilih meninggalkan cita-citanya untuk masuk SMA demi mengajar di Sarah Raja.
“Guru tersebut belum mendapatkan upah dari pemerintah. Selama ini honorariumnya hanya dari sedekah camat, geuchik, kepala dusun, atau para relawan yang berkunjung ke dusun itu. Jika dia tidak mengajar sudah bisa dipastikan tidak ada guru di sana,” ungkap Ketua Umum HMI Cabang Lhokseumawe-Aceh Utara, Muhammad Fadli.
Fadli menyebut sebelum ada PAUD itu anak-anak Sarah Raja jika mau sekolah ke SD terpaksa ke Kabupaten Aceh Timur. “Mereka harus menempuh perjalanan lewat jalur sungai naik perahu hampir 30 menit. Tapi kalau arus air sungai sedang deras, mereka tidak bisa ke sekolah. Apabila dipaksanakan bisa tenggelam perahu/sampan. Jika perjalanan darat sekitar 40 menit harus dengan jalan kaki,” ujarnya.
Persoalan lainnya, masyarakat Sarah Raja kesulitan memperoleh pelayanan kesehatan yang layak lantaran tidak ada perawat di sana. “Puskesmas ada, namun tidak terpakai karena susah bagi perawat pergi dan pulang dengan kondisi medan jalan yang sangat ekstrem. Untuk sampai ke Dusun Sarah Raja dari pusat Desa Lubok Pusaka harus melewati sungai dan jalan kaki yang menghabiskan waktu dua jam lebih,” kata Fadli.

Menurut Fadli, air bersih juga sulit diperoleh di sana. Masyarakat minum, mandi, mencuci, buang air besar dan air kecil menggunakan air sungai yang tentunya sangat jauh dari higienis.
“Kita sangat sedih melihat keadaan di sana. Sudah 76 tahun Indonesia merdeka, namun masyarakat Sarah Raja seperti masih hidup di zaman penjajahan. Untuk kebutuhan dasarnya saja mereka hampir tidak ada, seperti dunia pendidikan, kesehatan, air bersih, akses jalan, itu semua masih sangat sulit di sana,” ungkap Fadli.
Di sisi lain, HMI melihat langsung bagaimana semangat anak-anak Sarah Raja bisa melanjutkan sekolahnya untuk mendapatkan pendidikan, meskipun fasilitas yang tersedia amat minim.
“Oleh karena itu, kita berharap kondisi ini menjadi perhatian khusus Presiden Jokowi untuk membantu masyarakat Sarah Raja, apakah mekanismenya didelegasikan kepada Pemda untuk diselesaikan, atau kementerian terkait langsung turun tangan,” ujar Fadli.

Intinya, kata Fadli, negara harus hadir untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat Sarah Raja. Mereka membutuhkan jembatan atau perbaikan jalan, sekolah yang layak, air bersih, dan dokter.
“Mereka membutuhkan pertolongan dari kita semua terutama negara yang diamanatkan kepada pemerintah untuk memenuhi hak-hak konstitusional warga negara. Kita berharap aspirasi ini didengar oleh Presiden Jokowi,” ucap Fadli.[]

(red)








