BerandaOpiniKatakan ''Tidak'' pada Perundungan, Katakan ''Ya'' Pada Persahabatan

Katakan ”Tidak” pada Perundungan, Katakan ”Ya” Pada Persahabatan

Populer

 Katakan ”Tidak” pada Perundungan, Katakan ”Ya” Pada Persahabatan

Oleh: Wardani, S.Pd

Mahasiswa S2 Penjaminan Mutu Pendidikan, Universitas Bina Bangsa Getsempena, Banda Aceh, Guru SD Negeri 3 Bakongan Aceh Selatan.

Di zaman modernitas ini, istilah bullying mungkin bukanlah hal yang asing di kalangan Masyarakat. Namun, tidak menutup kemungkinan bagi masyarakat awam yang mereka tahu bahwa suatu ketika anaknya pernah diejek oleh sebagian kawannya di sekolah dan mereka beranggapan hal tersebut merupakan perkara yang lumrah.

Sehingga, tidak begitu ditanggapi secara serius.padahal hal tersebut termasuk kategori bullying yang tidak boleh dianggap sepele. Hal ini dapat berakibat fatal pada tumbuh kembang anaknya di kemudian hari.

Yang paling miris dan menyayat hati adalah tindakan bullying yang masih terjadi di lingkungan sekolah. Padahal seharusnya dunia pendidikan adalah lingkungan yang paling steril dari perbuatan tersebut. Sebab, sekolah merupakan lingkungan pendidikan kedua setelah lingkungan keluarga. Seperti kita ketahui kasus bullying di Indonesia dari Januari-Juli 2023 total 43 orang, yang terdiri dari 41 peserta didik (95,4 persen) dan dua guru (4,6 persen) dan dominasi pelaku pembullyan yaitu peserta didik.

“Jelek, bodoh, hitam, gendut!”. Tidak bisa dipungkiri bahwa cibiran seperti ini kerap didengar bukan hanya di lingkungan masyarakat akan tetapi di lingkungan sekolah pun sering terdengar entah itu dari siswa ataupun guru. Meskipun ada sebagian orang menanggapinya biasa-biasa saja, dalam hati kecil terkadang bertanya.

“Apa yang salah dengan semua ini? Siapa yang seharusnya bertanggung jawab atas kejadian seperti ini?”

Akhir-akhir ini kejadian yang paling populer di sekolah-sekolah khususnya tingkat sekolah dasar ialah mengejek/mengolok-olok nama orang tua. Kedengarannya sepele, tetapi hanya dengan menyebut nama orang tua saja bisa berujung perkelahian. Kejadian lain yang biasa kita dapatkan di sekolah adalah adanya pelabelan dari guru terhadap siswa yang mungkin guru tersebut tidak memahami dampak dari label yang tidak baik terhadap siswa tersebut. Kejadian seperti itulah yang termasuk kategori perilaku perundungan.

Faktor yang menjadi pemicu tindak perundungan biasanya adalah guyonan atau iseng yang kelewat batas. Motif lainnya adalah material, yakni melakukan pemalakan untuk mencari keuntungan ekonomi. Tindak perundungan sering kali mengakibatkan korban merasa takut, terancam, atau setidak-tidaknya tidak bahagia. Tidak jarang, tindak perundungan mengakibatkan korban tersakiti, terluka, dan bahkan mengalami depresi. Dalam tindak perundungan dikategorikan sebagai perilaku antisosial atau misconduct behavior.

Oleh karena itu orang tua harus mengontrol anaknya setiap hari agar kasus bullying ini tidak merusak psikologis anak. Guru juga harus menyosialisasikan secara jelas dan tegas kepada siswa bahwa tindak perundungan adalah perilaku yang tidak bisa diterima sama sekali. Salah satu caranya, guru harus mengajak siswa berani bersuara melaporkan tindak bullying yang terjadi di lingkungannya. Dan, kemudian secara bersama-sama melawan segala bentuk perundungan yang membuat siswa mengalami trauma.

Apakah perundungan itu? Lebih populer disebut bullying, perundungan penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok orang, suatu perilaku mengancam, menindas dan membuat perasaan orang lain menjadi tidak nyaman. Bullying merupakan suatu kejadian yang seringkali terjadi di sekolah.

Seseorang yang bisa dikatakan menjadi korban apabila dia diperlakukan negatif (secara sengaja atau tidak sengaja membuat luka atau ketidaknyamanan melalui kontak fisik, melalui perkataan atau dengan cara lain) dengan jangka waktu sekali atau berkali-kali bahkan sering atau menjadi sebuah kebiasaan oleh seseorang atau lebih.

Bullying seringkali terlihat sebagai bentuk-bentuk perilaku berupa pemaksaan atau usaha menyakiti secara fisik maupun psikis terhadap seseorang atau kelompok yang lebih ‘lemah’ oleh seseorang atau sekelompok orang yang mempersepsikan dirinya lebih ‘kuat’. Perbuatan pemaksaan atau menyakiti ini biasanya terjadi di dalam sebuah kelompok misalnya kelompok siswa satu sekolah.

Contoh perilaku bullying antara lain; pertama, kontak fisik langsung (meminta dengan paksa apa yang bukan miliknya, memukul, menampar, mendorong, menggigit, menarik rambut, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain, pelecehan seksual).

Kedua, kontak verbal langsung (mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan (put-downs), mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gosip).

Ketiga, perilaku non-verbal langsung (melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam; biasanya diertai oleh bullying fisik atau verbal).

Keempat, perilaku non-verbal tidak langsung (mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng).

Bullying tidak selalu berlangsung dengan cara berhadapan muka tapi dapat juga berlangsung di belakang teman. Pada siswa laki-laki biasanya mereka memanggil temannya dengan sebutan yang jelek, meminta uang atau makanan dengan paksa atau menakut-nakuti siswa yang lebih muda usianya. Sementara siswa perempuan biasanya melakukan tindakan memisahkan rekannya dari kelompok serta tindakan lainnya yang bertujuan menyisihkan individu lainnya dari grup dan peristiwanya sangat mungkin terjadi berulang.

Pelaku bullying mulai dari teman kelas, kakak kelas, adik kelas, guru, hingga preman yang ada di sekitar sekolah. Lokasi kejadiannya mulai dari ruang kelas, toilet, kantin, halaman, pintu gerbang, bahkan di luar pagar sekolah. Waktu kejadiannya pun biasanya berlangsung di dalam kelas dan di luar kelas mulai dari pagi hingga pulang sekolah.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana anak bisa belajar dengan baik kalau dia dalam keadaan tertekan? Bagaimana bisa berhasil menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik kalau ada yang mengancam dan memukulnya setiap hari? Sehingga amat wajar jika dikatakan bahwa bullying sangat berbahaya dan mengganggu proses belajar mengajar.

Bullying ternyata tidak hanya memberi dampak negatif pada korban, melainkan juga pada para pelaku. Bullying, dari berbagai penelitian, ternyata berhubungan dengan meningkatnya tingkat depresi, agresi, penurunan nilai akademik, dan tindakan bunuh diri. Bullying juga menurunkan skor tes kecerdasan dan kemampuan analisis para siswa. Para pelaku bullying berpotensi tumbuh sebagai pelaku kriminal, jika dibandingkan dengan anak-anak yang tidak melakukan bullying.

Bagi si korban biasanya akan merasakan banyak emosi negatif (marah, dendam, kesal, tertekan, takut, malu, sedih, tidak nyaman, terancam), tetapi tidak berdaya menghadapinya. Dalam jangka panjang emosi-emosi seperti ini dapat berujung pada munculnya perasaan rendah diri bahwa dirinya tidak berharga.

Kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial juga muncul pada para korban. Mereka ingin pindah ke sekolah lain atau keluar dari sekolah itu, dan kalaupun mereka masih berada di sekolah itu, mereka biasanya terganggu prestasi akademisnya atau sering sengaja tidak masuk sekolah.Yang paling ekstrim dari dampak psikologis ini adalah kemungkinan untuk timbulnya gangguan psikologis pada korban bullying, seperti rasa cemas berlebihan, selalu merasa takut, depresi, ingin bunuh diri, dan lain-lain.

Bagaimana mencegah dan menanggulangi perilaku bullying? Semua orang bisa menjadi korban atau malah menjadi pelaku bullying. Diperlukan kebijakan menyeluruh yang melibatkan seluruh komponen sekolah mulai dari guru, siswa, kepala sekolah sampai pada orang tua siswa, yang tujuannya adalah untuk dapat menyadarkan seluruh komponen sekolah tadi tentang bahaya terselubung dari perilaku bullying ini.

Kebijakan tersebut dapat berupa program anti bullying di sekolah antara lain dengan cara menggiatkan pengawasan terhadap segala aktivitas siswa, pemahaman konsekuensi serta komunikasi yang bisa dilakukan melalui sosialisasi dan kampanye stop bullying di lingkungan sekolah dengan sepanduk, slogan, stiker dan workshop bertemakan bahaya bullying.

Kesemuanya ini dilakukan dengan tujuan paling tidak dapat meminimalisir atau bahkan menghentikan secara keseluruhan perilaku bullying di sekolah. Melakukan peneguran kepada pelaku perundungan perlu diberikan secara proporsional dan lebih pada sanksi sosial yang mendidik daripada sanksi yang sifatnya menghukum.

Dengan adanya kebijakan seperti itu, diharapkan sekolah bukan lagi tempat yang menakutkan dan membuat trauma tetapi justru menjadi tempat yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi siswa, merangsang keinginan untuk belajar, bebas bersosialisasi dan mengembangkan semua potensi siswa baik akademik, sosial, emosinal dan spiritualnya.

Sekolah dapat menjadi tempat yang paling aman bagi siswa serta guru untuk belajar dan mengajar serta menjadikan anak didik yang mandiri, berilmu, berprestasi dan berakhlak mulia sesuai dengan tuntutan tujuan pendidikan kita. Kalau bukan dari pihak orang tua dan pendidikan yang merupakan sumber nilai, norma, dan kognitif pertama bagi anak, lalu siapa lagi?

Kesimpulan dari sebuah opini ini adalah bahwasanya orang tua dan pihak sekolah mempunyai peran penting dalam melaksanakan metode pencegahan terjadinya bullying ini karena dua pihak yang bertanggungjawab dalam hal pendidikan anak.

Orang tua dan pihak-pihak pendidikan perlu menggelar pembinaan tentang bullying anak dalam ruang lingkup pendidikan. Terdapat banyak cara yang dapat kita lakukan guna mengurangi bullying yang terjadi di masyarakat, salah satunya ialah sosialisasi dan internalisasi.[]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terkait

Berita lainya