ACEH UTARA – Abdurrahman, 75 tahun, tinggal di gubuk sempit di Gampong Pucok Alue, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara. Dia menghuni gubuk itu seorang diri. Tikar lusuh menjadi alas tidurnya. Kakek ini menderita lumpuh sejak lima tahun terakhir setelah mengalami kecelakaan hingga tidak mampu berjalan dan kesulitan untuk bergerak.

“Kondisi seperti ini, saya hanya bisa berharap adanya bantuan dari pemerintah atau dermawan untuk biaya hidup, pengobatan, kursi roda yang dapat mempermudah aktivitas,” kata Abdurrahman saat tim Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM) Kecamatan Baktiya menyambanginya, Senin, 13 Januari 2025.

Kepala Dusun Pucok Alue Gampong Pucok Alue, Zainal Abidin, mengatakan sebelumnya Abdurrahman tinggal di Gampong Blang Geulumpang, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara. Di Blang Geulumpang, kata dia, tidak ada lagi yang merawat Abdurrahman karena keluarganya di sana sudah meninggal dunia. Sehingga kakek itu dibawa ke Pucok Alue agar bisa dirawat oleh sepupunya.

Abdurrahman tinggal di Pucok Alue sudah lima bulan. “Pak Abdurrahman (saat ini) tidak punya istri dan anak karena tidak berkeluarga, makanya menempati gubuk itu hanya sendiri. Kondisi fisiknya mengalami lumpuh sudah lima tahun. Dulu beliau kecelakaan di jalan sehingga seiiring waktu kedua kakinya sulit untuk bergerak dan tidak bisa lagi berjalan sampai saat ini,” kata Zainal kepada portalsatu.com/, Selasa, 14 Januari 2025.

Dirawat sepupunya yang juga miskin 

Menurut Zainal, selama ini yang merawat Abdurrahman adalah sepupunya di Pucok Alue, Hadinen (48). Kakek itu tinggal di gubuk dalam lahan kosong milik Hadinen, berjarak lima meter dari belakang rumah perempuan tersebut. Atau berjarak dengan sungai induk Baktiya sekitar 200 meter.

“Tempat huniannya berukuran 3×2, panjang 3 meter dan lebar 2 meter, dilengkapi satu bola lampu yang diambil arus listrik dari rumah Hadinen. Gubuk itu dibangun secara swadaya dari masyarakat Pucok Alue, tapi tidak punya (daun) pintu, hanya bisa ditutupi menggunakan kain. Sedangkan dinding dipasang papan pohon kelapa, atapnya dari seng. Untuk kebutuhan air bersih setiap hari disediakan oleh Hadinen yang diisi di dalam drum kecil secukupnya,” ungkap Zainal.

Zainal menjelaskan kondisi kehidupan Abdurrahman memang memprihatinkan, dan sepupunya itu pun warga kurang mampu. “Hadinen sepupu yang merawat Abdurrahman keterbatasan ekonomi, dan janda satu anak, anaknya sudah berkeluarga. Aktivitas sehari-hari Hadinen tidak menentu, jika memasuki musim tanam di sawah hanya bekerja dengan upah harian untuk tanam padi,” ujarnya.

Selain itu, kata Zainal, Hadinen menjadi pekerja harian pengumpul sekam di kilang padi yang ada di gampong dengan upah satu karung Rp2.500. “Itupun musiman, tidak setiap hari. Biasanya saat masa panen padi di sawah ada orang membutuhkan sekam untuk keperluan di kandang ayam, maka orang itulah yang mengupah warga seperti Hadinen,” tuturnya.

“Memang Hadinen tidak ada pekerjaan lain sebagai sumber pendapatannya sehari-hari. Jadi, apa adanya sealakadar diberikan makanan untuk kakek itu. Sesekali ada juga pihak keluarganya yang lain dari gampong berbeda menjenguk Abdurrahman ke tempat tinggalnya yang sekarang,” tambah Zainal Abidin.

Galang dana

Ketua IPSM Baktiya, Alex, mengatakan pihaknya telah mengecek kondisi Abdurrahman dan melaporkan kepada Dinas Sosial Aceh Utara agar memberikan bantuan jatah hidup untuk warga lanjut usia itu. IPSM juga menggalang donasi untuk memenuhi kebutuhan mendesak kakek tersebut.

“Kami sudah mengupayakan bantuan kursi roda, tetapi hingga kini belum terealisasi. Untuk kasur dan kelambu sudah ada donasi dari dermawan yang peduli kondisi beliau,” ujar Alex dalam keterangannya.

Baca juga: Kritik Pengadaan Mobil Dinas Bupati Rp2,3 M, DPM Unimal Beberkan Angka Kemiskinan Aceh Utara

Alex menyebut kondisi Abdurrahman menjadi salah satu potret kemiskinan di Aceh Utara yang membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah. Dengan segala keterbatasannya, kata Alex, Abdurrahman berharap uluran tangan dari pemerintah dan dermawan agar dapat menjalani hidup lebih layak.

“Kami sangat berharap bantuan pemerintah segera turun, terutama untuk kursi roda agar beliau bisa lebih mandiri meskipun dalam keterbatasan,” ucap Alex.

Menurut Alex, IPSM terus berupaya menggalang dana untuk membantu Abdurrahman. “Semoga langkah ini membuka hati lebih banyak pihak untuk membantu meringankan beban hidupnya”.

Dinsos usulkan Jadup

Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Aceh Utara, Iskandar, dikonfirmasi portalsatu.com/ via Whatsapp mengatakan, “Kebetulan Bapak tersebut (Abdurrahman) baru pindah dari Kecamatan Seunuddon”.

“Hasil asesmen bahwa beliau tidak cocok diberikan kursi roda mengingat kondisi fisik. Jadi, beliau kita usulkan sebagai penerima jadup (jaminan hidup) lanjut usia ke Sentra Darussa’dah Kemensos RI,” kata Iskandar.[]