Pemerintah Kota Lhokseumawe ingin mengembangkan tenun khas daerahnya. Berharap wastra tenun songket kelak jadi identitas bagi Lhokseumawe, memperkaya khazanah kain di Aceh.
Ketak… ketuk… ketak ketuk. Suara kayu beradu itu terdengar di dalam bangunan “Sentra Produksi Tenun”, Kompleks Wisma Tamu Kota Lhokseumawe, Rabu, 6 Desember 2023, sore. Dua belas wanita sedang mengoperasikan 12 gedogan dengan tangan mereka. Menggunakan alat tenun tradisional itu, mereka latihan menenun.
Dua di antaranya, Dewi dan Husna. Dewi duduk bersila di lantai ruangan bangunan tersebut. Husna duduk bersimpuh. Sepuluh perempuan lainnya juga duduk di lantai sambil menenun. Tangan mereka bergerak lincah mengatur benang lungsin yang digulung di papan.
Wajah Dewi sekonyong-konyong berseri-seri saat disapa seorang jurnalis televisi yang meliput kegiatan itu. Husna ikut semringah ketika kamera jurnalis mengarah ke hadapannya. “Baru belajar,” ucap Dewi, warga Desa Kutablang, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe.
Dewi, Husna, dan 10 wanita lainnya belajar menenun sejak dua pekan lalu. Beberapa dari mereka sudah menghasilkan kain tenun warna lembayung atau hitam gradasi merah dengan motif tabur berbenang emas. Mereka dibimbing Ilham Zhuliansyah, Instruktur Tenun dan Sulaman dari Palembang, Sumatera Selatan. Ilham didampingi dua asistennya, satu pria, dan satu wanita.
“Kita ingin kembangkan kembali tenun khas Kota Lhokseumawe. Kita datangkan instruktur dari Palembang untuk melatih adik-adik (wanita muda), warga Kota Lhokseumawe. Pelatihan ini sudah berlangsung selama dua minggu. Kita targetkan kelas pertama ini selama 20 hari, dan kelas lanjutannya nanti di awal tahun 2024, juga selama 20 hari,” kata Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disdagperinkop-UKM) Lhokseumawe, Mohammad Rizal, S.Sos., M.Si., kepada portalsatu.com/, Rabu sore itu.
Rizal menyebut para wanita muda peserta pelatihan menenun itu binaan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Lhokseumawe. “Dekranasda Kota Lhokseumawe berupaya maksimal agar ada suatu produk tenun dengan motif khas Lhokseumawe. Kalau kita lihat progres (pelatihan) dari dua pekan ini, kita optimis ini akan jadi ikon baru di Kota Lhokseumawe,” ujarnya.
Dia yakin pertenunan itu ke depan berpotensi meningkatkan pendapatan masyarakat Kota Lhokseumawe yang menjadi penenun. “Karena tenun ini punya nilai seni. Kalau kita ikut pameran baik lokal maupun nasional, tenun yang paling diincar konsumen tertentu. Insya Allah, harganya akan lebih bagus dibandingkan (produk) kerajinan-kerajinan lainnya,” tutur Rizal.
Rizal berharap kegiatan tersebut berkelanjutan, sehingga akan ada produk tenun khas Lhokseumawe. “Kita akan cari bapak angkat dari perusahaan swasta agar dapat membina adik-adik ini terus berkembang, dan kerajinannya semakin bagus nantinya,” ujar dia.

[Kepala Disdagperinkop-UKM Lhokseumawe M. Rizal memantau peserta pelatihan menenun di Kompleks Wisma Tamu Kota Lhokseumawe, Rabu, 6 Desember 2023. Foto: portalsatu]
Ilham Zhuliansyah menjelaskan dalam pelatihan menenun itu masih menggunakan bahan katun dan benang emas untuk motif tabur. “Walaupun pelatihan, kita tetap pakai bahan-bahan yang baik agar hasilnya bagus. Kalau bahan sutra kita belum bisa pakai karena sifatnya gampang putus. Sutra mungkin untuk pelatihan lanjutan ketika penenun sudah mahir,” kata Instruktur Tenun dan Sulaman dari Palembang itu.
Ilham mengharapkan ke depan wastra tenun songket khas Lhokseumawe akan menjadi identitas tersendiri bagi Kota Lhokseumawe dan Provinsi Aceh, serta memperkaya khazanah kain di Tanah Rencong.
“Karena kain Aceh sangat unik. Kain Aceh itu langka, karena perang Aceh yang sangat panjang, jadi penenun-penenun zaman dulu (jumlahnya kemudian) sangat berkurang, ada pengungsian, kain-kain hilang, (ada pula dampak) kebakaran,” ujar Ilham.
Jadi, kata Ilham, pihaknya membantu Dekranasda difasilitasi Pemko Lhokseumawe ingin mengangkat kembali kain Aceh. Di rumahnya, di Palembang, Ilham menyimpan beberapa kain tenun songket dari Sumatra, salah satunya dari Aceh. “(Menyimpan) tiga sampai empat helai kain Aceh yang sudah berusia 100 tahun lebih,” ucapnya.
Lantas, apa yang membedakan tenun Aceh dengan daerah lain? “Songket Aceh pada dasarnya sama dengan songket daerah lain, cuma yang membedakan motif dan warnanya. Warna khas songket Aceh warna lembayung, warna seperti air tapai ketan hitam. Kain Aceh (yang sudah berusia) ratusan tahun rata-rata seperti itu,” ungkap Ilham.
Ilham menyebut motif Aceh walaupun sederhana tapi eksklusif. Unik dilihat. “Dan ada beberapa kain Aceh strata songket tertinggi seperti ija kalimah, itu mungkin ke depan kita angkat kembali, ya, Pak Rizal,” ucap Ilham sambil melirik Kepala Disdagperinkop-UKM Lhokseumawe.
“Karena kain ija kalimah itu hanya dipakai permaisuri sultan di Aceh. Pada kain itu dari ujung ke ujung tertulis kalimah Allah,” tambah Ilham.
Menurut Ilham, tenun produk peserta pelatihan di “Sentra Tenun Lhokseumawe” itu memiliki prospek ekonomi cukup baik. “Alhamdulillah, untuk saat ini, saya memposting beberapa di media sosial, dan beberapa peserta (pelatihan itu) juga menulis di Whatsapp dan medsos lain, ada banyak yang mau pesan,” ungkapnya.
“Jadi, walaupun tahap belajar, Alhamdulillah, sekarang produksi beberapa peserta kita sudah ada layak jual. Dan ini harga lumayan untuk meningkatkan potensi income rumah tangga atau masyarakat di sini yang terlibat usaha tenun ke depan,” kata dia.
Dia optimis produk tenun Lhokseumawe akan membantu masyarakat secara ekonomi. “Menciptakan lapangan pekerjaan,” ucap Ilham.

[Kain tenun karya peserta pelatihan menenun di Kompleks Wisma Tamu Lhokseumawe. Foto: Ilham]
[](nsy)








