Senin, Juni 24, 2024

Kapolri Luncurkan Digitalisasi Perizinan...

JAKARTA - Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo meluncurkan sistem online single...

HUT Ke-50 Aceh Tenggara,...

KUTACANE - Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Aceh Tenggara membuka stan pelayanan...

Atlet KONI Aceh Rebut...

BANDA ACEH - Prestasi mengesankan ditoreh atlet binaan KONI Aceh yang dipersiapkan untuk...

Realisasi Pendapatan Asli Aceh...

BANDA ACEH - Realisasi Pendapatan Asli Aceh (PAA) tahun 2019-2023 melampaui target. Akan...
BerandaBerita LhokseumaweNasib Arabiyah Bocah...

Nasib Arabiyah Bocah Jantung Bocor di Rancong Baro

LHOKSEUMAWE – Al Arabiyah (4 tahun), bocah keluarga kurang mampu di Dusun Rancong Baro, Gampong Blang Naleung Mameh, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe, sudah lama menderita jantung bocor, gangguan penglihatan dan pendengaran. Orangtuanya berjuang keras bolak-balik membawa Arabiyah berobat ke Rumah Sakit Umum Zainal Abdin (RSUZA) Banda Aceh. Dokter rumah sakit pelat merah itu menyarankan Arabiyah dibawa ke Jakarta untuk operasi jantung, tapi orangtuanya tidak punya biaya.

Arabiyah anak ketiga dari empat bersaudara dari pasangan suami istri Budizaman dan Yusrawati. Budizaman salah satu kepala keluarga dari sekitar 300 KK warga Dusun Rancong Baro yang menempati lahan milik Pertamina dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun Lhokseumawe. Pemko Lhokseumawe sudah membeli lahan sekitar 4 hektare di Gampong Padang Sakti, Kecamatan Muara Satu, untuk relokasi masyarakat Rancong Baro. Namun, Pemko belum memberikan sertifikat tanah itu kepada warga.

Baca: Relokasi Warga Rancong Baro ke Padang Sakti Masih ‘Setengah Hati’

Budizaman, istri, dan anak-anaknya menghuni rumah berdinding papan lapuk sudah bolong-bolong, sebagian tepas, dan seng bekas. “Rangka rumah agak besar, tapi (materialnya) barang bekas semua, saya tempel-tempel, makanya dinding bolong-bolong. Saya dapat seng bekas saat cari barang-barang bekas. Asai kana pat duek, ta usaha aneuk mit beupuleh, ka bereh (Yang penting ada tempat tinggal, berusaha agar Arabiyah bisa sembuh),” kata Budizaman dihubungi portalsatu.com, Jumat, 1 September 2023.

Pria 52 tahun itu tidak memiliki pekerjaan tetap. “Kadang-kadang tarik becak barang, sesekali bantu nelayan angkat ikan di TPI, jual ikan di kampung, dulu mencari barang-barang bekas. Saat anak rawat inap sampai seminggu di rumah sakit, harus jaga dia, tidak bisa kerja,” ujar Budizaman.

Budizaman menduga Arabiyah mengalami masalah jantung sejak lahir, tapi baru diketahui saat usianya delapan bulan setelah dibawa ke rumah sakit. Mulanya, Budizaman membawa buah hatinya itu berobat ke Rumah Sakit Arun di Kompleks Perumahan PT Perta Arun Gas (PAG), Batuphat, Muara Satu, Lhokseumawe.

“Dari Rumah Sakit Arun rujuk ke RSUZA Banda Aceh (26 Agustus 2019). Kemudian bawa lagi ke Banda (5 Desember 2019). Dokter RSUZA menganjurkan Arabiyah dibawa ke Jakarta untuk operasi jantung. Kami tidak mampu membawanya ke Jakarta karena butuh biaya besar, dengar-dengar dari orang harus ada puluhan juta. Operasi mungkin gratis, tapi penginapan, makan, dan kebutuhan lain selama di sana kan harus bayar semua,” tutur Budizaman.

Budizaman akhirnya harus membawa Arabiyah secara rutin ke RSUZA Banda Aceh. “Tiap bulan ke Banda, terakhir Selasa lalu. Dulu harus rawat inap seminggu setiap kali ke Banda. Belakangan bisa berobat jalan, tapi habis waktu tiga hari juga: pergi pulang dua hari, satu hari diperiksa kondisinya oleh dokter sampai selesai ambil obat. Kadang-kadang kalau sakit mendadak bawa ke RS Arun,” ujarnya.

“Anak saya itu, bocor jantung, kalau bahasa medis ditulis oleh dokter disebut PDA (Patent Ductus Arteriosus). Dia juga diperiksa jantungnya oleh dokter RSUZA, 18 Mei 2022. Selain sakit jantung, dia juga sakit mata, radang tenggorokan, dan telinga, makanya harus bawa ke Banda tiap bulan. Pendengarannya sekitar 45 persen, (karena gangguan pendengaran), dia tidak bisa berbicara normal. Sekali-kali yang jelas diucap hanya ‘abang’,” tambah Budizaman.

Budizaman menyebut pada masa awal putrinya sakit jantung, ia mendapat bantuan kiriman uang dari warga Aceh yang merantau ke Malaysia. Kebetulan warga itu memiliki saudara di Dusun Rancong Baro. Dana bantuan tersebut sudah digunakan untuk kebutuhan Arabiyah berobat bolak-balik Lhokseumawe-Banda Aceh dalam beberapa tahun.

“Bantuan dari orang Aceh di Malaya itu sudah lama, saat masa awal anak saya sakit. Orang itu membantu istilahnya tulong bangsa (membantu sesama Aceh),” ujar Budizaman.

Bantuan lain pernah diterima Budizaman Rp500 ribu dari Baitul Mal. “Saya tidak tahu Baitul Mal mana, itu cukup untuk sekali bawa anak berobat ke Banda. Ongkos mobil (angkutan umum) tanpa AC Rp200 ribu PP (pergi-pulang), biaya makan tiga hari Rp300 ribu. Saat anak dirawat sampai seminggu habis Rp800 ribu sampai Rp1 juta. Kadang-kadang saya minta pada Azurizal (mantan Kadus Rancong Baro), karena beliau membantu mencari dana untuk anak saya berobat,” tuturnya.

“Saya dengar pada Azurizal, entah 15 orang yang punya jabatan besar sudah diminta bantu, tapi yang ada bantuan tidak banyak. Saat kepepet uang saya minta pada Azurizal, misalnya tidak cukup ongkos angkutan umum ke Banda,” tambah Budizaman.

Mantan Kepala Dusun Rancong Baro, Azurizal, dikonfirmasi portalsatu.com, Jumat, 1 September 2023, mengatakan ia sudah berupaya mencari dana bantuan untuk Arabiyah yang menderita jantung bocor. Azurizal membuat video tentang Arabiyah pada 17 Februari 2023. “Sudah saya sebarkan video itu kepada banyak pihak baik pejabat pemerintah maupun anggota dewan. Tapi tidak ada yang peduli,” ujarnya.

“Saya Azurizal, mantan Kepala Dusun Rancong Baro, Desa Blang Naleung Mameh, dengan ini menyampaikan kepada Bapak Iskandar Hamzah Keuchik Gampong Blang Naleung Mameh, Bapak Taruna (Putra Satya) Camat Muara Satu, Bapak Imran Pj Wali Kota, Bapak Ismail A. Manaf Ketua DPRK Lhokseumawe, Bapak Saiful Yahya (Saiful Bahri alias Pon Yaya) Ketua DPRA, Bapak Fakhrurrazi Anggota DPRA, Bapak T.A. Khalid Anggota DPR RI, Bapak Sudirman Anggota DPD RI, Bapak Muslim Syamsuddin Anggota DPRA,” kata Azurizal dalam video itu.

“Yang ingin saya sampaikan, keluarga Bapak Budizaman dan Yusrawati, anaknya, Al Arabiyah mengalami penyakit PDA, bocor jantung, tinggal di Dusun Rancong Baro, Gampong Blang Naleung Mameh, di atas tanah milik Pertamina. Penyakit bocor jantung telah diderita oleh Arabiyah selama empat tahun,” ujar Azurizal.

Azurizal melanjutkan, selama ini Arabiyah berobat ke RSUZA Banda Aceh dan disarankan untuk rujuk ke Jakarta. “Tapi karena beliau tidak mempunyai dana untuk operasi jantung, maka saya selaku warga Dusun Rancong Baro, mengharap bantuan dari bapak-bapak untuk dapat kita sama-sama membantu anak tersebut supaya dapat ke Jakarta untuk dioperasi jantungnya,” tutur dia.

“Karena Budizaman pekerjaanya sebagai tukang (mengumpulkan barang) butut. Dulunya sebagai nelayan, karena anaknya sedang sakit sekarang jadi tukang butut (barang bekas) menggunakan becak tua untuk menghidupkan anaknya lima orang,” tambah Azurizal.

Azurizal merekam kondisi rumah Budizaman yang memprihatinkan dengan harapan dapat menyentuh hati para elite di Lhokseumawe, Provinsi Aceh, dan wakil rakyat Aceh di Senayan, agar membantu Arabiyah sehingga dapat dibawa ke Jakarta untuk operasi jantung.

Lon lake sangat bak droe neuh teungku-teungku kiban cara nyoe aneuk mit nyoe beujeut dimeu-ubat beupuleh. Neu bantu, pak,” ucap Azurizal dalam video itu.[](red)

Baca juga: